Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Open Story


__ADS_3

Menjelang petang di Burj Khalifa...


Rose dan Jasmine duduk di ruang tunggu menunggu Johnson, ayah Rose keluar dari ruangannya. Beberapa detik kemudian ponsel Jasmine berdering, menandakan jika ada panggilan masuk untuknya. Jasmine pun segera beranjak pergi untuk mengangkat telepon tersebut.


"Halo?" Jasmine mengangkat telepon di sudut ruang tunggu agar tidak kedengaran oleh Rose.


"Em, jadwalnya berubah, ya? Baiklah. Aku datang lebih awal saja," katanya di telepon.


"Tidak. Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak keberatan. Jangan khawatirkan hal itu," kata Jasmine kepada seseorang di teleponnya.


"Baiklah. Sampai nanti." Jasmine kemudian menutup teleponnya.


Telepon yang sebentar itu segera Jasmine hilangkan jejaknya. Ia hapus riwayat panggilan masuk agar tidak diketahui oleh Rose. Ia kemudian kembali menemui Rose yang masih duduk di ruang tunggu.


"Em, Rose." Jasmine mengambil tasnya dari samping Rose.


Rose menoleh. "Siapa yang meneleponmu?" tanya Rose berbasa-basi.


"Em, temanku. Aku mempunyai janji temu dengannya sekarang. Tak apa kutinggal, ya?" Jasmine ingin pulang duluan.


"Tak apa, sih. Tapi aku masih menunggu ayah, tak bisa mengantarmu," jawab Rose dengan jutek.


"Aku pulang minta dijemput supir saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku pergi dulu." Jasmine segera berpamitan.


Rose hanya mengangguk. Ia melepas kepergian Jasmine tanpa ada rasa curiga sama sekali.


Jasmine segera pergi, meninggalkan Rose sendiri di ruang tunggu. Hatinya khawatir bilamana Rose mengetahui panggilan masuk di ponselnya tadi. Ia terburu-buru menuju lift, sedang Rose masih menunggu ayahnya. Tanpa Rose ketahui yang menelepon Jasmine adalah seseorang yang ia kenal.


Menit demi menit Rose lalui seorang diri, menunggu sang ayah yang sedang mengadakan pertemuan di dalam ruangan. Ia tampak kesal karena sudah dua jam menunggu namun belum ada hasilnya. Dilihatnya ruangan sang ayah yang dijaga dua orang bodyguard. Seperti sedang terjadi pertemuan yang amat penting di dalam. Rose lalu mengirimkan pesan kepada sang ayah agar segera menyudahi rapat pertemuannya.


Lain Rose lain pula dengan Rain.Terlihat linangan air mata yang mengenang di kedua bola mata birunya. Sampai detik ini ia belum juga mendapatkan kabar baik tentang Ara. Sang gadis belum siuman dari fase deltanya. Jam yang terus bergerak pun membuat hatinya semakin khawatir. Ia tidak menyangka jika akan mengalami hal seperti ini. Ia juga tidak mempunyai persiapan sama sekali.


Di rumah sakit Kota Dubai...


Menjelang petang ini ia terduduk sedih sambil menunggu Jack dan Kakek Ali kembali. Keduanya sedang beribadah di masjid rumah sakit.

__ADS_1


Ya Tuhan, kasihanilah aku. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu harus bagaimana, aku tidak mengerti masalah ini.


Rain mengusap kepalanya sendiri sambil menyandarkan punggung di kursi yang ada di samping pembaringan Ara. Hatinya lelah karena sang gadis belum juga terbangun dari tidurnya. Jam demi jam ia lewati dalam kekhawatiran.


"Kata cinta saja belum terucap, bagaimana aku bisa percaya?"


Tiba-tiba kalimat itu terlintas di benaknya. Perkataan Ara membuatnya seperti menemukan jalan keluar. Ia kemudian segera mendekatkan diri ke gadisnya.


Jika memang pernyataan cinta dariku bisa menyadarkanmu, aku akan mengatakannya, Ara.


Rain mendekatkan wajahnya ke telinga sang gadis. Ia kemudian berbisik lembut seraya memegang tangan gadisnya. Sebuah kalimat yang selama ini ditunggu Ara, akhirnya diucapkan olehnya.


"Ara, aku ... mencintaimu ...," katanya dengan suara lirih.


Pemandangan itu tentu saja membuat sesak di dada. Rain mengucapkan tiga patah kata yang sudah Ara tunggu sejak lama. Tapi sayang, ia mengucapkan di saat Ara tidak dapat mendengarnya. Dan tanpa Rain sadari air matanya jatuh sendiri, menetes di pipi sang gadis.


"Ara, kumohon bangunlah." Rain meminta untuk ke sekian kalinya.


Rain menggenggam erat tangan Ara bak tidak ingin berpisah. Ia kemudian membisikkan kata-kata lembut kepada gadisnya dengan suara yang lirih. Ia menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Ara. Dan juga mengungkapkan bagaimana perasaannya waktu itu. Tanpa ia sadari, Jack masuk ke dalam ruangan dan melihat apa yang ia lakukan. Jack pun tertunduk sedih melihatnya.


Tuan, aku turut berduka atas kejadian ini.


Rain menoleh ke belakang. "Jack, di mana kakek Ali?" tanya Rain dengan mata memerah karena habis menangis.


"Maaf, Tuan. Kakek Ali masih berdoa. Kemungkinan dia akan kembali selepas Isya." Jack memberi tahu.


"Apa tidak bisa lebih cepat, Jack? Jam sembilan pihak rumah sakit akan melakukan tindakan medis jika Ara belum tersadarkan." Rain tampak cemas.


"Tuan, tenangkan diri Anda. Percayalah jika semua ini pasti berlalu. Jika Tuan panik, Tuan tidak akan bisa menemukan jalan keluar." Jack menenangkan.


Rain terdiam. Ia kemudian duduk di sofa ruangan. Jack pun mengikuti.


"Aku tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi pada Ara." Rain mencoblos gelas air mineralnya. Ia ingin minum untuk melepas dahaga yang melanda.


"Tuan, maaf sebelumnya. Ada hal yang ingin saya tanyakan." Jack membuka percakapan.

__ADS_1


"Tentang apa?" tanya Rain lalu meminum air mineralnya.


"Tentang seorang wanita dari masa lalu Tuan," kata Jack lagi.


Rain terkejut. "Apa ini ada hubungannya dengan Ara?" Rain tampak serius.


"Maaf, Tuan. Penglihatan kakek Ali merasa jika hal yang terjadi ada kaitannya dengan masa lalu Tuan sendiri. Saya berharap Tuan tidak menutupinya demi keselamatan nona." Jack meminta.


Rain terdiam sejenak kemudian menghela napasnya. "Banyak wanita di kehidupanku. Mereka yang mengejarku, tapi aku tidak menanggapinya sama sekali. Aku hanya fokus menggapai masa depan." Rain mulai terbuka.


"Apakah ada seseorang yang paling dekat di antara mereka?" tanya Jack berhati-hati.


Rain menoleh ke arah Jack yang duduk di seberangnya. "Jane. Hanya Jane yang paling dekat," jawab Rain jujur.


Jack menelan ludahnya. "Apakah pernah terjadi pertengkaran sebelumnya?" Jack terus mencari tahu.


Rain mengembuskan napasnya. "Dia menyukaiku, tapi aku hanya menganggapnya teman. Kakekku dan ayahnya mempunyai hubungan kerja yang baik. Jadi sudah sepantasnya aku berlaku baik padanya." Rain menuturkan.


"Kapan Tuan terakhir kali bertemu dengannya?" tanya Jack lagi.


"Terakhir ...," Rain mengingat-ingat. "Saat di belokan koridor apartemen malam itu. Dia menangis karena aku bilang mau menikah dengan Ara." Rain mencoba mengingat yang terjadi.


"Astaga ...." Jack menunduk.


"Apakah karena hal itu?" Rain benar-benar tidak tahu jika akar permasalahan ada di sana.


"Tuan, hubungan Anda dan nona Jane pastinya sudah sangat dekat. Dan kabar pernikahan Anda pastinya membuat dia terluka." Jack menerangkan.


"Maksudmu dia yang melakukan semua ini kepada Ara?" Rain langsung ke inti pembicaraan.


"Maaf, Tuan. Untuk sementara kita tidak bisa menuduhnya tanpa bukti. Hal ini tidak berkaitan dengan hukum dunia, dan tidak bisa dilihat maupun dibuktikan dengan kasat mata. Kita harus berhati-hati dalam mencari kebenarannya," tutur Jack.


Rain bertambah pusing mendengar hal ini. "Mungkin aku yang salah. Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Rain lagi.


"Tuan jangan panik. Kita tunggu kakek Ali kembali. Kita turuti saja apa yang dikatakan olehnya. Kita usaha dulu. Karena secara medis nona Ara hanya sebatas kelelahan. Selebihnya dia baik-baik saja." Jack memberi saran.

__ADS_1


"Baiklah. Kita tunggu kakek Ali kembali."


Rain akhirnya mau tak mau menuruti saran dari Jack demi keselamatan calon istrinya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Ia berharap Ara bisa cepat tersadarkan dari fase deltanya.


__ADS_2