
Sesampainya di apartemen...
Aku diam sedari tadi dan hanya menjawab seperlunya saja. Suasana hatiku sedang kurang baik hari ini setelah mengikuti audisi. Padahal aku sudah yakin bisa mendapatkan peran utama tadi, tapi nyatanya malah gagal.
"Kenapa sih diam saja?"
Aku duduk di kursi menyandarkan punggung sambil melihat langit-langit apartemen. Tuanku datang membawakan minuman bersoda yang kusukai. Dia lalu menuangkan minuman rasa lime itu ke gelas kaca dan memberikannya kepadaku. Aku pun meneguknya segera.
"Jangan bilang kau akan mendiamkan aku lagi." Dia juga ikut meminumnya, tapi seperti biasa memakai gelas punyaku, entah kenapa.
"Aku gagal mendapatkan peran utama tadi." Aku menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Gagal?" tanyanya.
Aku mengangguk.
Dia lalu menarikku ke dalam pelukannya. Dia memeluk dan merebahkan kepala ini di dadanya. Kubiarkan saja dia melakukannya karena memang sedang membutuhkan tempat bersandar.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin belum diizinkan memainkan peran itu." Dia menghiburku.
"Tapi..."
"Mungkin Tuhan punya pekerjaan yang lebih baik untuk masa depanmu kelak." Dia membelai rambutku yang dibiarkan tergerai.
"Apa itu?" Aku menoleh, melihat wajahnya.
"Jadi ibu rumah tangga. Ibu dari anak-anakku kelak," katanya yang sontak membuatku tersipu malu.
Dia pun menyadari perubahan sikapku ini. Jari telunjuknya mengangkat wajahku yang tertunduk.
"Pekerjaan tertinggi wanita adalah mengurus rumah tangga, Sayang."
Dia mengucapkan kata sayang padaku yang membuat hatiku terasa syahdu. Rasanya aku ini memang sudah jadi istrinya saja. Dia menatapku dalam dan memperhatikan pergerakan mataku yang juga menatapnya. Kedua mata kami seolah-olah sedang berbicara.
"Tuan..." Aku ingin mengucapkan kata cinta padanya.
"Ya?" Dia masih memperhatikanku.
__ADS_1
"Terima kasih," kataku padanya. Tak berani mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di hati.
"Hanya terima kasih?" Dia seperti pamrih padaku.
"Huh!" Aku pura-pura ngambek lagi, memalingkan badan darinya.
"Ara, jangan kebiasaan." Dia membalikkan badanku ke arahnya.
"Apa?" kataku pura-pura ngambek.
Dia tersenyum. Tangannya yang memegang lenganku perlahan merambat ke atas. Ke leher lalu ke telingaku. Seketika aku merasa geli sendiri dengan sentuhannya ini. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Tuan, kau ingin menciumku?
Hangat napasnya bisa kurasakan. Kedua ujung hidung kami pun sudah bersentuhan. Jantungku terasa berdebar sekali. Bibir tipis merah mudanya sudah berada di dekat bibirku. Dan entah mengapa, aku pasrah saja. Kupejamkan kedua mata ini saat tangan kirinya memegangi tengkuk leherku. Lalu akhirnya...
Ponselnya tiba-tiba berdering. Seketika dia tidak jadi menciumku. Ponsel selular biasa menyadarkannya jika ada panggilan masuk, dari suasana romantis ini. Mau tak mau dia menjauhkan wajahnya dariku lalu mengangkat telepon itu.
Dia berdehem terlebih dahulu. "Halo?" jawabnya.
Entah apa yang dia bicarakan, aku menuang kembali minuman bersoda ini ke dalam gelas. Rasanya kesal juga karena adegan ciuman kami harus tertunda. Padahal sedikit lagi bibir kami bisa bertemu.
"Baik, terima kasih," katanya lagi lalu menutup telepon.
"Ada apa?" tanyaku segera, setelah dia menutup teleponnya.
Dia memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. "Ara, Minggu depan aku tidak bisa lama menemanimu pulang. Selasa pagi aku harus sudah bekerja. Ro memberitahu jika Selasa ada pertemuan. Jadi..."
"Ya, sudah. Kau di sini saja. Tidak usah ikut aku pulang ke rumah," kataku mengertikan pekerjaannya.
"Tidak-tidak." Dia menggelengkan kepalanya. "Aku harus ikut, aku ingin meminta langsung pada ibumu. Biar tidak ada lagi keraguan di hatimu." Dia bersikeras.
Seketika aku menyadari sesuatu, jika dia masih merasa aku ragu padanya. Mungkin memang benar apa yang dia rasakan tentang perasaanku. Tapi sebenarnya, aku hanya menjaga karena takut salah langkah. Aku tidak mau jadi bonekanya. Aku ingin hubungan ini langgeng sampai akhir masa.
"Maaf, ya. Telah membuatmu harus meliburkan diri nanti." Aku tak enak hati.
"Tak apa, Ara. Jangan khawatir. Nanti Jumat malam kita langsung berangkat agar cepat sampai. Bagaimana?" Dia bertanya padaku.
__ADS_1
"Sampainya kapan?" tanyaku ingin memastikan.
"Jika berangkat jam sembilan malam, kemungkinan sampai jam tiga pagi waktu sana." Dia menuturkan.
"Berarti enam jam perjalanan," gumamku sendiri.
"Itu sudah termasuk cepat, Ara. Karena kita tidak transit lagi. Nanti aku akan meminta bantuan Ro untuk mengurus semuanya. Jack juga akan menemani kita ke Indonesia." Dia menjelaskan.
"Eh? Jack juga ikut?" Aku kaget.
"Tak apa, bukan? Dia sudah tersertifikasi. Dia seperti bodyguard-ku. Aku akan mengajak keluarganya juga ke Indonesia. Kita liburan di sana sekalian melamarmu," katanya lagi.
Seketika aku terharu, benar-benar terharu mendengar penuturannya. Tak mampu lagi aku menahan air mata ini. Kupeluk saja dirinya lalu membenamkan wajah di pundaknya. Rasanya dia memang tercipta untukku.
"Ara ...." Dia mengusap kepalaku.
Aku seolah tak bisa bicara. Yang aku bisa hanya memeluknya dan membenamkan wajah ini di pundaknya. Aku merasa telah menjadi miliknya. Ya, miliknya. Dia amat baik padaku dan juga orang-orang di sekitarnya. Sepertinya tidak mungkin dia meninggalkanku jika tidak ada sesuatu yang memaksanya.
"Sudah, jangan menangis."
Dia membalas pelukanku sambil membelai rambutku ini. Dia juga ikut membenamkan wajahnya di pundakku. Kami sama-sama melampiaskan rasa sayang yang bersemi. Dan akhirnya aku mengusap air mataku sendiri di depannya.
"Maafkan aku. Aku masih butuh waktu untuk belajar menjadi wanitamu, Tuan," kataku seraya memegang kedua tangannya penuh haru.
"Ara, panggil saja Rain. Jangan tuan." Dia meminta.
"Baiklah, Tuan Rain," kataku lagi.
"Aduh!" Dia menepuk jidatnya sendiri. "Sampai kapan kau akan seperti ini? Aku sudah akan menjadi suamimu. Aku akan menjadi pakaianmu, Ara. Percayalah padaku, hatiku..." Dia mengarahkan tanganku ke dadanya. "Hatiku hanya untukmu," katanya lagi.
Aku tertawa dalam tangis. Tangisan bahagia setelah melewati masa berdiaman berhari-hari. Telah kuputuskan untuk menyerahkan hati ini kepadanya. Aku percaya dia akan menjaga hatiku di manapun dia berada. Karena aku ... menyayanginya.
Keraguan akan kegagalan rumah tanda ibunya membuat Ara bersikap keras terhadap dirinya sendiri. Tapi, Rain sama sekali tidak menyerah menyakinkan Ara, akan keputusannya untuk segera menikah. Terlepas dari kebutuhan biologis yang harus segera dipenuhi, Rain memang benar-benar menyayangi gadisnya. Ia ingin Ara hanya menjadi miliknya semata.
Ara, maaf. Aku tidak bisa memberi tahu jika akulah yang meminta Owdie untuk menggagalkan peranmu menjadi tokoh utama. Sungguh aku tidak mau melihatmu beradegan mesra dengan pria lain. Aku takut tidak bisa mengontrol emosi walau kutahu itu hanya peran semata.
Maafkan aku. Aku tidak ada maksud untuk menggagalkan cita-citamu. Semua ini demi kebaikan kita ke depannya. Aku tidak mau mengekspos dirimu karena merasa masih mampu menafkahimu dan anak-anak kita kelak. Aku menyayangimu.
__ADS_1
Siang ini menjadi saksi atas penjagaan Rain kepada gadisnya. Ia membuktikan kepada semesta jika sanggup menjadi seorang suami bagi Ara. Ia tidak ingin mengumbar calon istrinya ke mana-mana. Karena menurutnya pribadi, menjadi aktris berat godaannya walaupun hanya sebatas peran semata. Ia cukup mengetahui bagaimana industri hiburan bekerja. Dan ia tidak ingin Ara terjerumus karenanya.