Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Don't Leave Me


__ADS_3

Sementara itu di padepokan Rain dan Ara...


"Sayang, Sayang." Rain menepuk-nepuk pipi istrinya. Ia tampak cemas.


"Tuan Rain, harap tenang. Istri Anda baik-baik saja." Tabib Hu bersama pelayan lainnya melakukan pertolongan pertama pada Ara.


Rain begitu panik melihat keadaan Ara. Saat kembali membawa air minum, ia sudah melihat istrinya tidak sadarkan diri. Gelas berisi air yang ia bawa pun jatuh, pecah tak berbentuk karena melihat Ara terbaring lemah tidak menanggapi panggilannya. Ia sudah berusaha menyadarkan Ara sendiri, namun tak bisa. Hingga akhirnya ia meminta prajurit agar memanggilkan Tabib Hu beserta pelayan ahli. Tak ayal menjelang siang ini istana diramaikan oleh kepanikan Rain.


Ya Tuhan, ada apa lagi? Cukup sudah kami seperti ini. Kasihan istriku. Dia harus berulang kali mengalami hal seperti ini. Sudahi ini ya Tuhan, aku mohon.


Rain tampak cemas. Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang begitu besar. Ia merasa panik hingga aliran darah di tubuhnya seakan membeku. Ia sampai harus meniup kepalan tangannya sendiri agar tidak terlarut dalam kecemasan. Sedang Tabib Hu melakukan pengobatan alternatif kepada Ara dengan dibantu oleh beberapa pelayan wanita. Beberapa titik di bagian lengan dan kaki Ara dipijat menggunakan minyak kayu gaharu. Alhasil, lambat laun Ara pun tersadarkan.


"Suamiku ...." Nada suara Ara terdengar lemah begitu siuman.


"Ara!" Rain pun segera mendekati istrinya. Ia memegang tangan Ara lalu mengecupnya. "Sayang, apa yang terjadi. Mengapa seperti ini lagi?" Rain begitu panik.


Ara membuka kedua matanya perlahan. "Suamiku ... semuanya sudah selesai. Kita bisa segera kembali." Ara berucap seperti itu.


Rain mengangguk. "Ya, Sayang. Kita akan segera kembali." Rain mengiyakan perkataan Ara.


Ara tersenyum kepada suaminya. Namun, tiba-tiba tangannya kembali lemas dan melesat dari pegangan Rain. Ia kembali menutup mata dan tidak sadarkan diri.


"Ara! Ara!"

__ADS_1


Bertambah panik lah sang suami. Di hari menjelang pernikahan pangeran, Rain harus mengalami kepanikan karena kondisi Ara yang pingsan lagi. Bulir-bulir air mata itu pun tak kuasa untuk tetap bertahan di persembunyiannya. Hingga akhirnya ikut jatuh membasahi pipi.


"Sayang, jangan tinggalkan aku." Rain meminta sambil menahan isakan tangisnya.


Tabib Hu segera mengecek kondisi Ara kembali. Ia memeriksa denyut nadi istri dari sang penguasa itu. Alhasil, Tabib Hu pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ini aneh." Ia terlihat tak percaya dengan kondisi Ara. "Tuan, nona Ara harus banyak-banyak istirahat. Tapi tuan jangan khawatir karena nona hanya kelelahan." Tabib Hu mengabarkan.


"Kelelahan?" Rain yang sudah panik itu mengusap air matanya segera.


"Ya. Nanti akan saya buatkan ramuan khusus untuknya agar bisa menambah tenaga. Sepertinya untuk sementara nona di sini saja," lanjut Tabib Hu.


Rain bisa bernapas sedikit lega. "Jadi istriku?" Ia ingin kepastian tentang kondisi istrinya.


"Istri Tuan baik-baik saja. Hanya kondisi tubuhnya saja yang kelelahan sehingga pingsan lagi. Nanti saya akan meminta pelayan membakar wewangian sebagai terapi penenang untuknya. Tuan jangan khawatir." Tabib Hu mengatakan.


Kejadian ini tentu saja membuat Pangeran Agartha mendatangi padepokan Ara dan Rain dengan tergesa-gesa. Ia memasuki padepokan dan melihat banyaknya pelayan wanita yang berada di dalam kamar tamunya. Saat itu juga ia segera masuk dan menanyakan apa yang terjadi.


"Tabib Hu? Tuan Rain?" Pangeran Agartha ingin tahu apa yang terjadi.


Tabib Hu menyambut kedatangan pangeran. "Semuanya baik-baik saja, Pangeran. Nona Ara hanya kelelahan. Dia harus banyak-banyak beristirahat." Tabib Hu menuturkan.


Pangeran mengernyitkan dahinya. "Apa yang terjadi padanya?" tanya pangeran lagi. Ia juga ikut khawatir.

__ADS_1


Tabib Hu berpikir sejenak sebelum menjawabnya. "Cakra di dalam tubuh nona seperti terkikis saat tidak sadarkan diri. Dia harus banyak-banyak beristirahat dan mendapat asupan nutrisi yang cukup. Kelihatannya nona belum bisa mengendalikan kemampuan yang dia miliki, sehingga seringkali mengalami kelelahan seperti ini." Tabib Hu menduganya.


Pangeran Agartha terdiam. Ia mengangguk, seperti membenarkan apa yang Tabib Hu katakan. Sementara Rain masih berada di sisi Ara, menunggu Ara tersadarkan kembali. Raut wajah sang penguasa terlihat begitu sedih.


Kasihan sekali Tuan Rain. Pangeran Agartha berempati. "Katakan saja apa yang dibutuhkan, Tabib Hu. Kami akan segera menyediakannya." Pangeran Agartha meminta.


Tabib Hu mengangguk. "Baik, Pangeran. Nanti saya akan minta langsung kepada pelayan di sini." Pria berjanggut putih itupun mengiyakan.


Pangeran mengangguk. Ia berharap tamunya bisa segera pulih. Namun, entah mengapa saat melihat mata Rain yang memerah, ia merasa bersalah. Tidak seharusnya ia sampai menyusahkan tamunya yang datang ke istana. Pangeran Agartha pun merasa berutang budi kepada keduanya.


Sore harinya...


Semilir angin sore berembus lembut mengenai tirai-tirai jendela kamar Rain dan Ara. Di atas kasurnya masih terbaring lemah seorang wanita yang kini tengah mengandung buah hati tercinta. Ialah Ara, istri dari sang penguasa pertambangan minyak di Timur Tengah. Jari-jari tangannya mulai bergerak, pertanda sudah siuman dari pingsannya.


Ara tampak kelelahan setelah kembali menjelajah dimensi. Apalagi kali ini ia harus bertarung dengan sosok wanita bertanduk hitam. Walaupun pertarungannya hanya sebentar, tetapi tetap saja menguras tenaganya. Sehingga nenek pemberi gelang harus ikut membantu agar urusannya di Agartha cepat selesai.


Kini urusan Ara di Agartha telah benar-benar selesai, setelah berhasil mengalahkan sosok wanita bertanduk hitam. Kedua matanya pun mulai terbuka, melihat ke langit-langit kamar. Namun, kali ini ia mencium aroma terapi dari wewangian yang dibakar. Aromanya sama persis seperti yang pernah ia hirup saat pertama kali tersadarkan dari penjelajahannya waktu itu, aroma kayu gaharu.


"Sa ... yang ...."


Ara mencoba memanggil suaminya. Namun ternyata, ia sendirian di dalam kamar. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi sehingga suaminya tak ada. Pikiran buruk pun mulai menyelimuti hatinya. Ia khawatir terjadi sesuatu kepada suaminya.


"Sayang ...."

__ADS_1


Ara mencoba bangun. Ia lihat sekeliling kamar tampak sepi. Ia kemudian mencoba melangkahkan kaki ke luar. Ara ingin mencari di mana keberadaan suaminya. Ia tidak ingin berlama-lama diselimuti pikiran buruknya sendiri.


Dibukanya pintu kamar lalu melangkahkan kaki menuju teras depan padepokan. Suaranya masih serak sehingga tidak memungkinkan untuk berteriak. Dan di saat membuka pintu depan, ia melihat suaminya tengah berbincang bersama Tabib Hu. Salah satu tabib istana yang paling lanjut usianya. Ara pun mencoba mendengarkan saksama pembicaraan yang sedang terjadi dari balik pintu.


__ADS_2