Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Want To Try


__ADS_3

"Sayang, kau baik-baik saja?" Dengan penuh perhatian dia bertanya padaku.


Aku mengangguk lalu meminta untuk dibangunkannya. Dengan perlahan dia pun membangunkanku sehingga aku duduk di depannya.


"Aku bertemu kembali dengan nenek pemberi gelang ini," kataku seraya memegang gelang di pergelangan tangan kananku.


"Lalu?" tanyanya antusias.


"Nenek bilang, semua yang terjadi termasuk keberadaan kita di sini sudah menjadi suratan takdirku. Aku harus bersabar dalam menjalaninya, meskipun tidak menyenangkan bagiku." Aku menuturkan seraya tertunduk.


"Apa nenek itu meninggalkan pesan untuk kita?" tanyanya lagi.


Aku mengangguk seraya melihat paras tampannya. "Sayang, nenek memberiku sebuah benda." Aku meraba rambutku, mencoba mencari benda seperti tusuk konde yang nenek berikan. Dan ternyata, benar saja. Benda itu memang ada di kepalaku. "Ini." Aku menunjukkan kepadanya.


Rain melihatnya dengan saksama. Dia tampak memperhatikan lebih dalam benda yang kuperlihatkan ini. Aku pun ikut memperhatikannya. Benda yang hanya sebesar jari telunjuk ini membuat kami terpukau dengan kilau emasnya. Aku rasa jika dinominalkan di duniaku pasti harganya sangat mahal.


"Dia memberimu benda ini. Apakah ada syarat tertentu untuk menebusnya?" Dia tampak berhati-hati.


Aku menggelengkan kepala. "Tidak, Sayang. Nenek bilang benda ini hanya untuk membantuku, melindungi dari hal-hal yang tak terduga. Karena nenek melihat putri negeri ini kurang menyukaiku." Aku mulai mengutarakan apa yang kudengar dari nenek itu.


"Camomile?" Suamiku langsung tertuju kepada wanita itu.


"He-em." Aku mengangguk. "Seperti dugaanku sebelumnya, dia memang menyukaimu. Dia ingin mengambilmu dariku." Nada suaraku terdengar lirih di hadapannya.


"Astaga, Sayang ...."


Rain segera memelukku. Pelukan hangat yang kurasakan di tengah semilir angin bukit yang dingin. Cukup untuk menghangatkan tubuhku. Rasanya aku ingin terus seperti ini. Dimanja olehnya, disayang, diperhatikan. Aku ingin tetap menjadi nomor satu di hatinya. Tidak ada wanita selain diriku. Selamanya.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin berpaling darimu, Istriku. Kau sedang berjuang dalam mengandung anakku. Hanya pria tidak tahu diri saja yang berpaling dari istrinya. Apalagi istrinya sedang mengandung anaknya. Aku akan selalu setia berada di sisimu hingga masa yang akan memisahkan kita. Percayalah," katanya seraya mengusap kepalaku.


Aku mengangguk seraya tersenyum. Rasanya senang sekali. Dia menenangkanku dengan ucapannya. Tapi rasanya cukup untuk membuatku tidak berpikiran macam-macam lagi. Aku pun membalas pelukannya dengan erat. Kusadari jika dia sudah menjadi suamiku. Maka dengan segenap jiwa dan raga aku juga akan melayani dirinya, menjaga kehormatannya.


Kami sudah mengikat janji, tidak ada hal lain yang perlu ditakuti ataupun disembunyikan dari kami. Kami sudah berbaur menjadi satu. Dan aku harap selamanya bisa seperti ini. Berada dalam kehangatan kasih sayangnya.


"Sayang."


"Hm?"


"Nenek menyebut kandunganku dengan kata mereka." Aku menceritakan padanya.


"Mereka?" Rain melepaskan pelukan.


"Iya. Dia bilang, jagalah kandunganmu. Mereka akan mengubah dunia," kataku lagi, menceritakan padanya.


"Sepertinya kita akan mempunyai anak kembar." Aku tersenyum padanya.


"Hah? Apa?!" Seketika kedua mata suamiku terlihat berkaca-kaca.


"Iya, Sayang. Kau sudah siap menjadi ayah dari dua bayi sekaligus?" tanyaku, menggodanya.


"Ya Tuhan ...."


Suamiku seperti tidak bisa berkata apa-apa. Dia memelukku kembali lalu membenamkan wajahnya di pundakku ini. Kulihat kebahagiaan tersirat dari wajahnya tentang berita yang kukabarkan. Aku pun turut bahagia karena melihatnya bahagia. Aku rasa sebentar lagi kami akan menjadi orang tua yang paling bersuka cita karena dikaruniai dua buah hati sekaligus. Senang dan bahagia tak terkira menyelimuti hati kami.


Rain bahagia mendengar kabar dari Ara. Ia merasa amat beruntung dan juga bersyukur bilamana benar dikaruniai dua anak sekaligus. Baginya ini adalah sebuah keajaiban yang tak terduga. Hampir-hampir saja ia menangis jika tidak ingat sedang berada di mana. Kesendiriannya kini perlahan-lahan terkikis oleh kabar bahagia yang dibawa oleh sang istri tercinta, Aradita.

__ADS_1


Rain hidup sebatang kara tanpa mempunyai kedua orang tua. Sampai saat ini ia belum juga mengetahui di mana keberadaan kedua orang tuanya. Ia ingin sekali memberi kabar bahagia ini kepada ayah dan ibunya. Rain ingin ayah dan ibunya turut berbahagia karena tak lama lagi akan mempunyai cucu darinya.


Besar harapan di hatinya, Rain menginginkan apa yang dikabarkan oleh istrinya adalah benar. Kedua anaknya bisa meneruskan perjuangan dalam merubah tatanan dunia menjadi yang lebih baik lagi. Rain berharap putra-putrinya bisa seperti dirinya yang selalu berusaha menjaga kestabilan ekosistem dunia. Ia amat berharap kepada Sang Pencipta.


Tuhan, terima kasih. Jika benar aku akan mempunyai dua anak sekaligus, segala puji bagi-MU yang telah menciptakan alam ini. Aku amat bersyukur bilamana mendapat karunia ini dari-MU. Aku berharap masa depan dunia akan lebih baik lagi di tangan-tangan mereka. Tidak ada lagi peperangan, tidak ada lagi kelaparan. Semua manusia bisa hidup tenang dalam kebahagiaan. Aku berharap suatu hari nanti hal itu dapat segera terwujud.


Semilir angin bukit pun menyertai kebahagiaan keduanya. Pelukan erat, ciuman hangat saling mereka berikan sebagai ungkapan rasa sayang tak terhingga. Keduanya bak sepasang kekasih yang tidak akan terkikis oleh masa. Mereka saling menyayangi satu sama lain. Berharap semesta ikut merestui kisah kasih mereka.


Sayang, tetaplah menjadi hujanku yang penuh kasih. Aku mencintaimu sepenuh jiwa dan ragaku. Perjalanan kita untuk bersatu tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Maka saat berada di puncak kesuksesanmu nanti, jangan pernah lupakan masa-masa ini. Masa di mana aku menemani dan setia berada di sisimu. Aku bersamamu, Suamiku.


Perjalanan pulang ke istana Agartha...


Matahari tampak redup. Angin yang berembus pun terasa lebih dingin. Sang kusir terlihat mengendarai kereta kudanya menuju istana Agartha. Ia menjalankan kewajibannya sebagai seorang kusir istana.


Ara sendiri di dalam kereta menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Ia hirup dalam-dalam aroma tubuh suami tercinta dengan sepenuh hati. Ia berulang kali mencium dada suaminya sebagai rasa sayang dan ingin lebih diperhatikan. Rain pun mengusap-usap kepala Ara dengan penuh kasih. Ia genggam tangan sang istri lalu dikecupnya sebagai tanda cinta. Bagi Rain, Ara adalah segalanya.


"Aku ingin sekali mengabarkan kabar bahagia ini kepada ayah dan ibu." Rain bergumam dalam kebahagiaannya.


Ara mendongakkan kepala, melihat Rain. "Sayang?" Ia pun merasa prihatin.


"Hah, andai aku tahu di mana keberadaan mereka sekarang," cetus Rain kembali.


Ara memeluk suaminya. "Suatu hari nanti kalian akan bertemu lagi. Aku yakin itu. Jangan sedih, ya. Ada aku." Ara menenangkan, mengusap-usap dada suaminya.


Rain mengangguk lalu mengecup kening istrinya. "Apakah Pangeran Agartha bisa membantuku mencari tahu di mana keberadaan mereka?" tanya Rain sendiri.


Ara terperanjat. "Kau benar-benar ingin meminta bantuannya?" tanya Ara serius kepada Rain.

__ADS_1


__ADS_2