Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Delay The Fire


__ADS_3

Napasnya terdengar berat saat kulepas bibirku dari bibirnya. Pandangan matanya berubah dalam sekejap. Dari tajam, tegas, berwibawa menjadi tatapan seperti orang mabuk dalam asmara. Dia menatapku, dalam rasa heran karena aku mencoba untuk menghentikan ulahnya.


"Sayang, jangan ya. Kita kan mau ke istana. Nanti jika ditunda akan terlambat." Kuberikan penjelasan selogis mungkin agar dia tidak salah paham denganku.


"Tapi, Ara ...." Dia seperti keberatan.


"Sayang, nanti kan bisa." Bodohnya aku malah berkata seperti itu.


"Benar, ya?" Dia seakan menyimpan janjiku.


Karena sudah terlanjur berkata seperti itu, mau tak mau aku mengangguk seraya tersenyum padanya.


"Ara ...."


Dia lantas memelukku, memberatkan kepalanya di kepalaku. "Maafkan aku. Jangan berpikir yang macam-macam padaku. Hal yang kulakukan adalah naluri alami seorang pria kepada wanitanya. Jangan berpikir jika aku hanya menyukai tubuhmu saja." Dia menjelaskan.


Kuakui jika kami saling menjaga perasaan dan tidak ingin menyakiti. Ya, walaupun terkadang aku selalu menjadi bahan kejahilannya. Aku selalu saja digodanya. Kadang aku berpikir ingin bergantian menggoda. Tapi, rasanya itu hanya akan mengkhawatirkan diriku sendiri. Dia tidak digoda saja sudah seperti ini, apalagi digoda? Bisa-bisa hal yang kujaga selama hidupku lepas begitu saja. Dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi.


Ara memiliki kekhawatiran dalam hatinya meskipun Rain sudah menunjukkan itikad baik ke ibu Ara sendiri. Ara masih khawatir jika sampai kehilangan kendali lalu melepas keperawanannya. Ia menyadari jika dirinya hanyalah manusia biasa, yang bisa tergoda, terhanyut dalam buaian lembut kekasihnya. Dan Ara akan berusaha sekuat mungkin untuk menjaganya, sampai ikatan sah itu didapatkan. Ia tidak ingin mengalami seribu penyesalan di hari kemudian.


Lain Ara, lain juga dengan Rain. Rain sebenarnya tidak ingin hal itu terjadi. Tapi, lagi-lagi dorongan alami terkadang membuat ia melupakan siapa dirinya. Ia berharap Ara tidak berpikiran yang macam-macam. Karena ia sangat bersungguh-sungguh ingin mempersunting gadisnya.


Perbedaan budaya tidak menjadi kendala di antara mereka. Namun, terkadang hasrat biologis tidak dapat diajak bicara. Terlebih Rain memang sudah lama menahan gejolak di tubuhnya. Sehingga saat bertemu dengan Ara, gejolak itu meluap-luap hingga tak terkendali. Begitupun dengan Ara yang mulai beranjak dewasa. Di mana hormon sedang berkembang dengan pesatnya. Rasa ingin tahu pun menyelimuti hati dan pikirannya, yang terkadang membuatnya sampai lupa ke jati diri.


Terlepas dari itu, keduanya saling mencintai dan tidak ingin menunda pernikahan lebih lama lagi. Namun, terkadang jalan tidak lurus begitu saja. Walaupun tidak berkelok, setidaknya pasti ada kerikil yang ada. Sehingga Rain berniat untuk menyingkirkannya terlebih dahulu. Ia ingin tenang saat menjalani kehidupan biduk rumah tangganya bersama Ara.


Lain Ara dan Rain, lain juga dengan Jasmine dan Rose. Di kampus, tampak keduanya berdiaman padahal Jasmine sudah berusaha untuk menegur Rose. Rose jadi jutek kepada Jasmine tanpa Jasmine sadari sedikitpun apa alasannya.


Di kampus...


"Rose, kita makan siang di mana?" Jasmine bertanya setelah mata kuliah selesai.


Rose diam, dia segera pergi dari hadapan Jasmine. Dan karena sudah berhari-hari didiamkan, Jasmine lalu mengejar Rose.


"Rose, tunggu!" Gadis berblus putih itu mengejar gadis bersweter hitam seraya menggandeng tas kuliahnya. "Rose!" Jasmine menahan Rose.

__ADS_1


Rose berhenti.


"Rose, ada apa? Kenapa beberapa hari ini kau mendiamkanku? Apakah aku membuat kesalahan?" tanya Jasmine yang tidak tahu-menahu.


"Jangan berlagak baik di depanku." Rose berkata jutek.


"Rose, apa maksudmu?" Jasmine tidak mengerti.


"Sudah, pergi saja. Aku tidak membutuhkanmu!" Rose lalu pergi meninggalkan Jasmine.


Jasmine tersentak dengan perkataan Rose. Ia bingung karena perubahan sikap Rose kepadanya. Pertengkaran keduanya pun dilihat oleh Taka dan kedua temannya dari jauh.


"Hei, lihat itu!" Nidji menunjuk Rose yang pergi dari Jasmine.


"Kenapa mereka?" tanya Ken.


"Entahlah. Mungkin sedang datang bulan." Taka menjawabnya dengan enteng.


"Hahaha. Kau ini seperti tahu saja tentang wanita." Ken menepuk pundak Taka seraya tertawa.


"Sembarangan! Ara mana mungkin seperti itu. Dia bukan tipe gadis yang mudah mengumbar sesuatu. Dia lebih banyak menyimpannya sendiri." Taka menjelaskan.


"Hoh, begitu. Jadi bagaimana dengan rencana kita? Apa jadi menjenguknya?" Nidji segera bertanya tentang rencana mereka yang ingin menjenguk Ara.


"Sore saja kita menjenguknya. Sepulang kuliah, bagaimana?" tanya Taka.


"Aku setuju." Ken mengiyakan. "Lagipula jam kuliah juga sudah selesai. Tapi nanti kita bawa apa untuk menjenguknya?" Ken berpikir.


"Bawa bunga saja," celetuk Nidji kemudian.


"Bunga?" Ken merasa heran.


"Ya, bunga. Bunga deposito. Biasanya wanita menyukai bunga jenis itu." Nidji lantas tertawa.


"Hahahaha. Aku pikir bunga apa." Ken juga ikut tertawa.

__ADS_1


"Hah, kalian ini. Sudah kita makan siang dulu. Nanti kita bicarakan lagi. Ayo!" Taka lekas mengajak temannya makan siang bersama.


Ketiganya lalu berjalan menuju kantin, berniat makan siang. Yang mana mereka mempunyai rencana untuk menjenguk Ara selepas kuliah sore nanti. Entah apa yang akan mereka bawa sebagai buah tangan, sepertinya baik Taka, Ken maupun Nidji sudah merasa dekat dengan Ara. Walaupun jarang bersua dan berbicara, gadis itu seperti memiliki daya tarik tersendiri yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Lain ketiganya, lain pula dengan Lee. Lee tampak sibuk hari ini sehabis mengadakan rapat dengan para dosen. Ia keluar ruangan dengan tergesa-gesa.


"Dosen Lee!" Tiba-tiba dosen lain memanggilnya.


"Dosen Kaf?" Lee pun menghentikan langkah kakinya.


Ia adalah Kaf, dosen kesiswaan di kampus. Ia memegang data seluruh siswa di kampus Ara. Ia juga yang membantu Lee untuk mendapatkan data pribadi sang gadis. Yang mana Kaf menghampirinya untuk membicarakan gadis itu.


"Dosen Lee sudah menghubungi mahasiswi tersebut?" tanya Kaf seraya keluar ruang rapat bersama.


"Em, sudah. Ada apa?" tanya Lee antusias.


"Em, tidak. Aku hanya merasa heran saja dengan gadis itu." Dosen berkaca mata itu mengungkapkan isi hatinya.


"Maksud Dosen Kaf?" Lee bingung, ia kemudian menghentikan langkah kakinya.


"Em, begini." Kaf juga ikut berhenti berjalan. "Bukan hanya Dosen Lee saja yang menanyakan data pribadi mahasiswi itu. Tapi juga Rose dan juga Jasmine. Saya kira hal ini sedikit mengherankan, terlebih mahasiswi itu masih baru di kampus." Kaf menjelaskan kenapa ia membicarakan Ara.


Lee terdiam sejenak. Ia memikirkan hal ini.


"Maaf jika saya membuat Dosen Lee tersinggung. Saya hanya mengungkapkan keheranan tentang gadis itu. Saya permisi." Kaf membungkukkan badannya ke arah Lee. Ia berpamitan.


Lee mengangguk seraya tersenyum tipis. Tetapi di dalam hatinya memikirkan hal ini. Tentang mengapa Rose dan Jasmine juga ikut mencari data pribadi Ara. Ia sedikit curiga jika hal ini ada kaitan dengan dirinya. Tapi, ia belum dapat memastikan sebelum semuanya terbongkar.


Ara, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi mungkin sore ini aku akan menjengukmu. Semoga aku bisa mendapatkan jawaban.


Lee kemudian bergegas meninggalkan koridor ruang rapat.


Lee kemarin memang sempat menelepon Ara, tapi sayang teleponnya itu tidak ditanggapi. Ia merasa heran dengan Ara karena tidak seperti mahasiswi lainnya. Ia merasa mahasiswi lain begitu mengidolakannya. Namun, entah mengapa hal itu tidak terjadi pada Ara, yang mana membuatnya semakin penasaran terhadap sang gadis.


Sore ini juga Lee berniat untuk menjenguk Ara di apartemennya. Entah apa yang akan terjadi, sepertinya sang penguasa akan melihat sendiri pria yang membuatnya cemburu buta waktu itu. Jika memang benar, kepada siapa nanti Ara akan berpihak? Akankah terjadi kesalahpahaman lagi di antara Ara dan Rain?

__ADS_1


__ADS_2