Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Seduce


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


AC masih menyala di ruangan yang sepi ini. Detik jam terdengar pelan namun semakin lama semakin kencang. Ponsel Ara pun bergetar di atas meja ruang tamu. Dan ternyata, satu panggilan tidak terjawab olehnya.


Ara masih tertidur dalam selimut tebal berwarna putih. Lambat laun ia mendengar suara getaran dari tempat terdekat. Perlahan-lahan ia pun menyadari jika ada yang meneleponnya. Tangannya merambat-rambat mencari di mana gerangan ponselnya berada.


Diambilnya ponsel itu lalu dilihatnya siapa yang menelepon. Dan ternyata, Rain lah yang menelepon. Segera ia mengangkat telepon itu tanpa bangun terlebih dahulu.


"Halo?" jawabnya dengan suara serak.


"Ara, sudah tidur, ya?" Rain sedang berdiri di atas anjungan kapal seorang diri.


"Hm, ya. Tapi tak apa, aku rindu." Tanpa sadar Ara mengucapkannya.


Ara ....


Seketika Rain tersenyum sendiri.


Rain mengenakan pakaian serba tebal untuk menutupi hawa dingin di lautan. Ia pun menelepon Ara lewat jaringan selular biasa melalui ponsel mininya. Sedang ponsel pintarnya belum bisa diaktifkan untuk sementara.


"Maaf aku menelepon malam-malam. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja di sana." Rain memandangi bintang dari atas kapal.


"Hm, ya. Aku baik. Hanya saja merasa kesepian." Ara menarik selimutnya.


"Kesepian atau kedinginan?" Rain mulai menggoda gadisnya.

__ADS_1


Seketika Ara tersadar jika sedang digoda oleh Rain. Ia pun mendapat ide jahil untuk mengerjai prianya.


Ini saatnya untuk membalas dendam. Ara merasa senang. "Iya, aku kedinginan. Aku butuh kehangatan. Bisakah kau memberikannya padaku?" pancing Ara.


"Ara?!" Rain terkejut.


"Engghhh..." Ara pun mengulet, suara seraknya sontak membuat sekujur tubuh Rain merinding.


"Ara, jangan nakal! Di sini dingin." Saraf sensorik Rain berfungsi otomatis.


"Ahh ... aku ingin," kata Ara dengan manjanya.


"Ara, jangan begitu!" Rain makin gelisah.


"Hahahaha." Ara pun tertawa mendengar Rain gelisah sendiri. Ia merasa menang telak dari Rain.


"Kenapa memangnya? Salah?" Ara gantian menggoda Rain.


"Awas ya saat aku pulang!" Rain membenarkan celananya.


"Hahaha. Maaf, tak lagi-lagi." Ara menahan tawa.


"Tidak bisa. Sudah terjadi dan kau harus bertanggung jawab. Aku pulang secepatnya besok!" Rain tidak mau kalah.


Eh? Dia sungguhan?!

__ADS_1


Ara terkejut karena ternyata gurauannya ditanggapi serius oleh Rain. Dilihatnya jam di dinding dan ternyata sudah menunjukkan pukul dua pagi. Ara pun menyadari jika wajar saja Rain gelisah karena udara pasti amat dingin di lautan.


"Iya, sudah. Kamu tidak tidur apa?" tanya Ara mengalihkan.


"Pekerjaanku baru selesai. Pengeboran juga baru dimulai. Ini aku sedang berada di atas kapal dengan jarak satu kilometer dari tanki pengeboran. Sebentar lagi mungkin tidur." Rain menuturkan.


"Di sana pasti dingin sekali. Lalu bagaimana caramu menepiskan rasa dingin itu?" Ara beranjak duduk.


"Aku minum dan makan yang hangat-hangat. Di kapal kan ada dapur. Tapi kalau di apartemen ada yang lebih hangat dari makanan dan minuman." Rain mulai menggombal.


"Apa itu?" tanya Ara dengan polosnya.


"Cintamu yang menghangatkanku, Ara," kata Rain segera.


Tuan ....


Seketika hati Ara berbunga-bunga mendengarnya. Ternyata sang tuan bisa juga merayunya. Ara pun tersenyum tak karuan di sofa.


"Ada yang kau inginkan, Ara?" tanya Rain karena Ara diam saja.


"Em, tidak ada. Aku hanya ingin kau selamat sampai di sini," jawab sang gadis.


"He-em. Tunggu aku kembali. Dan jangan nakal, ya," pinta Rain kepada Ara.


"Iya, kamu juga jangan nakal." Ara ikut-ikutan.

__ADS_1


Kemesraan keduanya membuat iri siapa saja. Ara dan Rain sama-sama membuka dirinya. Yang mana tak lama lagi Rain akan segera meminang gadisnya. Seorang gadis yang ia jumpai karena keajaiban terjadi.


Rain menyadari bagaimana perasaannya kepada Ara. Tapi sayang, entah mengapa kata cinta itu belum terucap dari bibirnya. Sedang sang gadis masih menunggu dan terus menunggu.


__ADS_2