
Malam harinya di Agartha...
Sinar rembulan bersinar dengan terang. Cahayanya sampai masuk ke kamar sepasang suami istri yang sedang pijat-pijatan. Sang istri tak henti-hentinya dinakali oleh suaminya. Pria tampan itu terus saja menggoda istrinya yang mengenakan kemben di bagian atas tubuhnya. Sehingga bahu sang istri dapat terlihat dengan sempurna.
"Sayang, sudah. Kau ini nakal!" Istrinya pun memukul tangan suaminya yang mulai gentayangan di sekitar dada.
"Kangen. Ingin menyusu," ujar sang suami sambil memajukan bibirnya.
"Astaga. Aku lelah, Sayang. Sudah pijat lagi." Sang istri pun meminta suaminya untuk terus memijat bahunya.
Mereka adalah Ara dan Rain yang baru saja selesai mandi dan langsung pijat-pijatan di dalam kamar. Kamar yang sengaja ditutup rapat agar tidak ada orang yang bisa masuk tiba-tiba. Karena biasanya para pelayan istana langsung masuk ke padepokan Ara. Hanya ke bagian kamar sajalah yang tidak diperbolehkan.
Semilir angin malam tampak menerbangkan tirai-tirai jendela. Rain pun terus memijat bahu istrinya yang terasa pegal setelah membantu proses pengobatan. Ara pun tampak menikmati setiap pijatan dari suaminya. Terkadang ia meminta dipijat di titik tertentu agar merasa lebih enakan. Namun, hal itu malah membuat Rain memanfaatkan kesempatan. Sehingga Ara kesal lalu memukul tangan suaminya.
"Sayang."
"Hm?"
Kira-kira sudah berapa lama ya kita di Agartha?" tanya Ara kepada Rain.
Rain sambil terus memijat bahu istrinya. "Mungkin sudah lama. Aku juga tidak tahu pasti. Kalau di sekitaran Black Hole, satu jam sama dengan tujuh tahun di bumi." Rain menceritakan.
__ADS_1
"Ih!" Seketika Ara mencubit paha suaminya. "Ini di Agartha, bukan Black Hole!" Ara terlihat kesal.
"Hahahaha." Rain tertawa. "Aku mana tahu, Sayang. Tapi mungkin saja perbedaan waktunya cukup lama. Memangnya kenapa?" tanya Rain kepada Ara.
Ara termenung sejenak. Ia memegangi perutnya. "Aku khawatir anak kita ikut beradaptasi dengan waktu dunia ini. Aku takut mereka mengalami keterlambatan pertumbuhan saat kita sampai ke bumi." Ara mengungkapkan kekhawatirannya.
Rain berhenti memijat. Ia memutar tubuh istrinya. "Kau amat mencemaskan hal itu?" tanya Rain sambil memegang kedua pundak istrinya.
Ara mengangguk.
Rain menarik tubuh istrinya. Ia memeluknya. "Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, Sayang. Aku percaya di manapun kita tinggal, anak di dalam kandunganmu akan tetap sehat. Bisa saja nanti sesampainya di bumi, ia kembali beradaptasi dengan waktu. Bukankah kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya?" Rain berusaha menenangkan hati istrinya.
Saat itu juga Rain melepas pelukannya. "Jangan berkata seperti itu." Ia mengusap wajah istrinya. "Aku rela apapun yang kau lakukan untukku. Kita sudah bersama. Dan sebentar lagi kita akan menjadi orang tua yang paling berbahagia karena dikarunia buah hati tercinta. Jadi jangan bersedih ataupun risau, Sayang. Serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa." Rain menenangkan.
Ara mengangguk. Ia mencoba tenang setelah rasa khawatir dan lelah melandanya. Mungkin karena rasa lelah itulah ia terlalu mengkhawatirkan kandungannya. Rasa khawatir yang hampir menganggu seluruh pikiran positifnya.
Sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitu juga dengan Ara, ia ingin mempersembahkan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Malam ini Rain melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami dengan menenangkan hati sang istri. Sedikit banyak ia mengetahui tentang mood seorang ibu hamil. Walaupun aktivitasnya padat, ia masih sempat meluangkan waktu untuk mencari tahu fase-fase apa yang akan dilalui seorang ibu hamil selama masa mengandung. Hanya saja di Agartha ia tidak lagi bisa melakukannya. Namun, ia masih ingat hal apa saja yang perlu dilakukan saat mood sang istri berubah. Dan Rain telah melakukannya.
Tenang Sayang. Aku akan selalu ada untukmu. Aku juga menantikan kelahiran buah hati kita. Tak sabar rasanya ingin melihat wajah mereka. Kira-kira mirip siapa ya? Aku atau dirimu?
__ADS_1
Rain tersenyum seraya menatap lembut istrinya. Ia kemudian mencium kening Ara dengan durasi yang lama. Seolah menyiratkan kasih sayang yang begitu besar dari dalam hatinya. Ara pun dengan rela menerima ciuman dari suaminya. Ia telah menyerahkan diri dan mengabdikan sisa usia untuk sang suami tercinta.
Anakku, baik-baik di dalam sana. Tumbuh berkembang dan sehat ya. Ibu menantikan kalian.
Ara tersenyum sambil mengusap perutnya. Rain juga ikut mengusap-usap perut Ara yang sedang mengandung anaknya. Sepasang suami istri itu bak pasangan yang dipenuhi cinta. Keharmonisan rumah tangga pun akhirnya mereka dapatkan.
Kerja sama perlu dilakukan sepasang suami istri dalam menjalani biduk rumah tangga. Mengetahui peran dan tanggung jawab masing-masing perlu dilakukan tanpa harus dipaksa atau diminta. Apalagi jika sudah dikarunia buah hati. Sang suami harus lebih pengertian kepada istrinya. Karena dengan pengertian, membuat sang istri jadi lebih bersemangat dalam mengurus anak-anaknya. Seperti kerja sama dalam sebuah tim untuk memenangkan sebuah pertandingan. Begitu juga dengan kehidupan rumah tangga.
Sementara itu di kamar Lily...
Lilin beraroma terapi di hidupkan di kamar Lily agar ia merasa lebih relaks lagi. Lily mendapat terapi pijat dan juga ramuan tambah tenaga dari pelayan perempuan istana. Tentunya ramuan itu dibuat langsung oleh Tabib Hu agar kondisinya lekas membalik seperti sediakala. Lily pun kini tampak lebih bergairah dan bertenaga.
Wajahnya yang pucat berangsur-angsur merona. Tubuhnya yang dingin pun kini sudah hangat seperti biasanya. Suhu tubuhnya kembali normal. Aura kecantikannya pun ikut terpancar dari dalam tubuhnya. Apalagi ia mendapatkan perlakuan istimewa dari pelayan istana. Membuat dirinya tenang dan tidak perlu merisaukan sesuatu.
Selepas menjalani pengobatan di tepi telaga seribu warna dan dimandikan, Lily segera kembali ke istana untuk menjalani terapi kecantikan. Sesudahnya ia dimandikan lalu dipijat oleh pelayan perempuan yang sudah ahli. Ia juga diminta meminum ramuan yang telah dibawakan. Alhasil kondisi kesehatan Lily mulai mendekati pulih sempurna.
Kamar yang ditempati Lily bersampingan langsung dengan kamar pangeran. Hal itu dilakukan agar pangeran bisa terus mengawasi perkembangan kesehatan Lily. Tabib Hu juga selama beberapa hari ini akan tetap berada di istana untuk melakukan pengobatan lanjutan. Karena pasca pengobatan bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kini pangeran tampak menunggu Lily yang sedang didandani oleh pihak penata rias kerajaan. Malam ini akan diadakan acara makan malam bersama Ara dan Rain serta Tabib Hu. Pangeran menyiapkan makan malam sebagai rasa terima kasih karena ketiganya telah membantu proses pengobatan Lily. Ia juga telah memesan menu teristimewa dari dapur istana untuk disantap bersama.
Semua ini adalah wujud rasa syukurnya karena Lily bisa kembali tersadarkan. Tentunya tanpa bantuan Ara dan lainnya, hal itu hanya sebatas angan yang tak sampai. Karenanya pangeran ingin menjamu tamu-tamunya dengan perlakuan yang istimewa. Berharap mereka merasa betah di Agartha.
__ADS_1