Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Blushing


__ADS_3

Semburat aneh muncul dari wajahnya saat melihatku. Aku pun hanya bisa tersenyum, berharap penampilanku tidak terlalu mengecewakannya.


"Tuan, aku sudah siap." Aku menyapanya lagi.


Dia masih diam sambil terus memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Entah apa yang ada di pikirannya, tiba-tiba saja...


"Pelayan, tolong beri jepit hias untuk menutupi bagian dadanya!"


Dia meminta pelayan salon memakaikan jepit hias untuk menutupi bagian gaun dadaku. Pelayan salon pun dengan cepat mengambilkan jepit hias untuk menutupinya.


Ternyata dia menyadari jika belahan dadaku sedikit terlihat.


"Seperti ini, Tuan?" tanya pelayan setelah memakaikan jepit ke bagian dadaku.


"Ya sudah." Dia memejamkan kedua mata, seolah meminta pelayan pergi meninggalkan kami.


"Tuan." Aku pun segera mendekatinya.


"Ayo, cepat!" Dia segera menarik tanganku tanpa melihatku sama sekali.


Tuan ....


Dia menarikku agar segera mengikutinya. Tapi dia tidak memegang telapak tanganku, melainkan pergelangan tanganku yang tertutupi gaun ini. Walaupun begitu, tetap saja terasa pegangan tangannya. Entah kenapa aku jadi tidak ingin melepas pandangan darinya.


Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?


Aku tidak mengerti mengapa perasaanku seperti ini. Mungkin karena baru pertama kali melihat pria tampan jadinya begini. Atau mungkin ada sesuatu hal yang tidak kuketahui. Sikapnya yang bersahabat membuatku bertanya-tanya, apa mungkin orang sepertinya bisa dengan mudah menerima kehadiranku tanpa alasan? Tentu jawabannya adalah tidak.


"Cepat masuk!"


Setelah sampai di parkiran salon, dia segera memintaku untuk masuk ke dalam mobil. Aku pikir Jack akan ikut bersamanya, tapi ternyata dia sendirian.


"Jangan duduk di belakang, aku bukan supirmu," katanya yang sontak membuatku ingin tertawa.


"Baik Tuan."


Setelah memasang sabuk pengaman, kami mulai melaju menuju gedung pertemuan makan malam. Di sepanjang perjalanan aku hanya diam saja karena takut salah bicara. Sedangkan dia...


Kenapa dia selalu melirik ke arahku? Kenapa kaca depan di arahkannya kepadaku?

__ADS_1


Aku tidak mengerti mengapa dia berusaha mencuri pandang saat aku tidak melihatnya. Tetapi aku tetap diam saja, berusaha tidak peduli. Toh, aku hanya seorang pekerja, pembantu baginya. Bukan orang spesial yang harus diistimewakan. Aku coba sadar diri dan tahu terima kasih.


Sesampainya di gedung pertemuan...


Sepanjang perjalanan kami hanya berdiaman dan sesekali aku melihat ke arahnya yang fokus melajukan mobil. Tak tahu kenapa, dia seperti menghindari pandangan dariku.


Beberapa belas menit kami lalui sambil tetap memandangi jalanan kota ini. Dan akhirnya, kami sampai juga di sebuah gedung pertemuan. Tuanku lalu membukakan pintu mobilnya untukku.


"Berlagaklah seperti pasanganku. Jangan membuatku malu," bisiknya sambil membantuku turun dari mobil.


Aku tidak tahu mengapa dia seperti ini. Aku juga diminta berpura-pura jadi pasangannya. Sungguh hatiku senang sekali walau hanya berpura-pura, setidaknya bisa menjadi kekasih pria tampan dalam hitungan jam.


"Gandeng lenganku."


Kami belum pernah bersentuhan langsung. Tapi malam ini dia memintaku untuk mengandeng tangannya. Alhasil aku pun menuruti permintaannya. Tanpa pikir panjang kugandeng mesra dirinya seraya masuk ke dalam gedung pertemuan. Aku pun melangkahkan kaki ke atas karpet merah.


Semoga ceritaku tidak seperti Cinderella.


Beberapa penjaga pintu masuk berjas hitam memberikan sapaan selamat datang kepada kami. Kami pun akhirnya tiba di dalam gedung ini. Dan betapa terkejutnya saat aku melihat tatanan ruang yang amat mewah. Dimana banyak pot bunga berjajar rapi dengan lampu lampion indah berwarna-warni. Seperti acara pesta pernikahan mewah di negeriku.


"Ah, Tuan Rain."


Seorang pria paruh baya mengenakan pakaian formal menghampiri kami. Pria itu lalu melirik ke arahku.


"Dia Ara, dia kekasihku."


Apa?!! Sontak aku terkejut bukan main dengan pengakuannya. Kekasih? Secepat ini?!!


Semakin lama aku semakin penasaran dengan sikapnya. Sungguh hal ini terlalu cepat bagiku. Pasti ada sesuatu dibalik sikapnya ini. Dan sepertinya aku harus segera mencari tahu.


"Oh, selamat datang, Nona. Senang bertemu denganmu." Pria itu mengajak ku berjabat tangan.


"Terima kasih." Aku hanya meletakkan tangan kanan di dada karena tangan kiri menggandeng tuanku.


Melihat sikapku yang menolak berjabat tangan ini membuat tuanku menoleh cepat ke arahku. Dan aku hanya tersenyum kepadanya, senyum manis nan manja. Seolah-olah aku ini benar-benar kekasihnya.


Kumainkan peranku, Tuan.


Entah apa yang ada di dalam pikirannya, dia lalu ikut tersenyum dan membalas jabatan tangan si pria paruh baya itu. "Senang bisa berjumpa kembali. Apakah kami sudah bisa mencicipi hidangan pembukanya?" Ternyata tuanku ini to the point orangnya.

__ADS_1


"Oh, ya. Astaga. Maafkan kami, Tuan Rain. Mari." Pria paruh baya itu mempersilakan kami menuju meja hidangan.


Aku pun melangkahkan kaki bersama tuanku menuju meja hidangan super besar. Tak lupa kutebarkan senyuman di sepanjang jalan. Kuingat benar pesannya agar berlagak seperti kekasih sungguhan. Ya sudah, kuturuti saja.


Tuan, dua tahun aku ikut organisasi teater di sekolahku. Aku harap aktingku ini tidak terlalu mengecewakanmu. Malam ini akan kutunjukan sisi lain dari diriku.


Sesampai di meja hidangan super besar, aku segera mengambilkan minuman untuk tuanku. Aku memanjakannya layaknya kekasih. Dan kulihat dia terheran-heran sendiri dengan sikapku ini.


"Ara, apa kau baik-baik saja?" Dia berbisik ke telingaku, di tengah keramaian tamu undangan yang datang.


"Aku baik-baik saja, Sayang."


Kubisikkan pelan di telinganya, seketika itu juga dia terbelalak mendengar ucapanku. Aku sih santai saja, toh cuma pura-pura jadi kekasihnya.


Eh?! Pipinya merona?


Kulihat kedua pipi tuanku memerah saat mendengar kata sayang dariku. Tapi kuabaikan saja karena si pemilik acara telah naik ke atas panggung. Dia menyampaikan kata pembukanya. Dan baru kusadari jika undangan makan malam ini ternyata bukanlah undangan makan malam biasa, melainkan merayakan hari jadi pernikahan si pemilik acara.


Eh? Siapa itu?


Sambil berdiri di dekat tuanku, aku melihat ke sembarang arah. Dan tanpa sengaja aku melihat seorang pria seperti sedang memperhatikanku dari jauh. Tidak tahu siapa, tapi saat aku menoleh ke arahnya, dia tersenyum sambil mengangkat gelasnya, seolah mengajak ku minum.


Eh, dia mengajak ku atau mengajak yang lain?


Aku segera melihat ke samping dan ke belakang, kali-kali saja dia mengajak yang lain. Tapi ternyata, pria itu benar-benar mengajak ku, tidak ada gadis lain yang sebaya di dekatku ini. Aku lalu menoleh ke arahnya lagi. Dan kulihat dia tersenyum-senyum sendiri melihat tingkahku.


"Hei, ada apa?" Ternyata sikapku ini disadari oleh tuanku.


"Oh, tidak, Tuan. Tidak ada apa-apa." Segera kujawab pertanyaannya sambil tersenyum palsu.


"Tuan?!"


Dia menatapku tajam, seperti kesal. Kedua alisnya pun naik seketika. Tatapan matanya seperti ingin menghabisiku. Seketika itu juga aku teringat dengan pesannya.


Astaga, aku lupa jika sedang berpura-pura! "Maaf, Sayang. Aku baik-baik saja." Aku tersenyum manis kepadanya lalu merebahkan kepala di bahunya.


Tak tahu apa yang ada di pikirannya, dia lalu menyentil keningku ini dengan tangan kirinya. Seketika aku pun mengusap-usap keningku karena terasa sakit.


Dia ini menyebalkan! Baru juga lupa sekali sudah menyentilku.

__ADS_1


"Kembali fokus ke acara," pintanya sambil berbisik.


Aku menurut. Dan akhirnya kunikmati undangan makan malam ini. Sambutan demi sambutan pun kudengarkan dengan baik. Hingga akhirnya sesi acara bebas mulai diadakan oleh si tuan rumah. Para tamu undangan diminta mengirimkan atensinya ke atas panggung.


__ADS_2