
Di natatorium hotel...
Sore ini tuanku mengajak berolahraga dan memintaku untuk membawa pakaian ganti. Aku tidak tahu mau diajak ke mana olehnya, aku mengikut saja. Sampai tiba di sebuah kawasan hotel yang ada di dekat apartemen ini, aku baru menyadari ke mana gerangan dia mengajak ku.
Sepanjang jalan dia menggenggam tanganku. Dan kini kami masuk ke sebuah ruangan perawatan. Ruangannya tampak sepi namun ada kolam berendam yang cukup luas jika hanya diisi kami berdua. Tak beberapa lama tiga pelayan datang menghampiri kami. Satu membawa peralatan spa, satu membawa handuk dan kain dan satu lagi membawakan minuman untuk kami.
Kami diminta berganti pakaian. Dan aku hanya mengenakan kain putih sebatas dada hingga lutut. Aku pun diminta berbaring di atas kasur, sedang tuanku berada di samping. Tak jauh dariku.
Mungkin dia sengaja agar bisa melihatku.
Kami akhirnya dipijat bersampingan. Sebenarnya aku malu terlihat olehnya seperti ini. Tapi aku belajar menyesuaikan diri karena kupikir hanya bagian punggung dan kaki saja yang terlihat olehnya. Dia pun tidak pernah melepas pandangannya dariku.
Mungkin saatnya mempercantik diri.
Setelah selesai dipijat, aku diluluri. Begitu juga dengan dirinya. Hingga akhirnya aku harus melakukan waxing di seluruh tubuh. Sungguh menyiksa sekali, tapi mau tak mau aku melakukannya. Toh, untuk kecantikanku sendiri.
Setelah di-waxing tubuhku diolesi cairan khusus seperti lotion mahal yang tak tahu apa mereknya. Mungkin hanya ada di sini. Katanya sih terbuat dari mutiara asli. Entah benar atau tidak, aku tunggu saja sampai lotion-nya meresap hingga ke lapisan kulitku. Dan akhirnya...
Taraaaa! Kulit tubuhku semakin bersih saja, cantik bak putri kerajaan. Tentunya dia akan kaget melihat penampilanku yang semakin cantik ini.
Jangan terlalu berharap, Ara. Nanti kecewa.
Setelah selesai perawatan tubuh, kini beranjak ke wajah. Wajahku dilaser dan dihilangkan noda-noda hitamnya. Di-waxing juga tapi hanya di bagian tertentu. Hingga akhirnya wajahku ikut dimasker. Tak perlu menunggu lama, akhirnya maskerku dilepas. Dan astaga ... semua komedo dan kulit mati ikut terangkat tak bersisa. Wajahku jadi glowing bak artis Korea.
Habis berapa dia ya?
Aku tidak tahu berapa banyak uang yang dihabiskannya untuk perawatan kali ini. Dan kini aku sedang menunggu diuapi. Seluruh tubuhku akan diuapi hingga kotoran tersumbat keluar semua dari dalam tubuhku. Lalu setelahnya aku diminta meminum ramuan khas spa ini. Mungkin bisa dibilang seperti ramuan gurah.
Mataku ditetesi ramuan khusus hingga mengeluarkan banyak kotoran. Begitu juga dengan telinga, hidung dan mulutku. Semuanya dibersihkan dengan ramuan spa ini. Tenggorokanku sampai memerah karena harus berkumur-kumur dengan ramuannya. Tapi katanya ini hanya semalam saja. Besok sudah kembali ke sediakala.
Dia ke mana ya?
Jam demi jam kulewati hingga tak terasa waktu sudah memasuki malam saja. Aku pun diarahkan ke sebuah ruangan bercat putih setelah proses perawatanku selesai. Dan kulihat tuanku sedang berenang di sana.
Dia ...?
__ADS_1
Aku terkejut saat masuk ke sebuah ruangan yang mana ada kolam renangnya. Dan di tengah kolam ada terasnya. Di teras itu sudah tersaji makan malam yang romantis. Bisa kupastikan jika ruangan ini sejenis kolam renang tertutup dan ekslusif.
"Tuan Rain."
Aku menyapanya yang sedang menyandarkan punggung di tepi kolam sehabis berenang dari ujung ke ujung. Dia pun menoleh ke arahku dan aku tersenyum kepadanya.
"Sudah selesai? Aku dari tadi di sini menunggumu."
Dia melebarkan senyumannya untukku. Seketika aku jadi malu sendiri karena ditatapnya seperti itu. Dia seperti sedang menggodaku.
"Kemari, Ara. Berenanglah bersamaku." Dia memintaku.
Aku datang ke ruangan ini menggenakan kimono handuk berwarna putih. Sedang dalamnya mengenakan kemben dan leging pendek yang juga berwarna putih. Andai handuk dibuka, pastinya tubuhku akan kelihatan olehnya.
"Ara, kemari." Dia memintanya lagi.
Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika dia melihatku mengenakan pakaian terbuka dan juga ketat. Mungkin malam ini sudah saatnya bagiku menepiskan jarak yang ada. Dan karena lama tak kunjung mendekatinya, dia naik ke tepi lalu mendekatiku. Seketika itu juga kulihat tubuhnya hanya mengenakan celana hitam pendek saja. Aku bisa melihat dengan jelas bentuk tubuhnya yang kekar dan juga atletis.
Astaga! Astaga!
Aku menelan ludah melihatnya dalam keadaan seterbuka ini. Ditambah air kolam yang membasahi tubuhnya, seolah-olah memancing hasratku untuk menghabiskan malam bersamanya. Sampai akhirnya dia tiba di hadapanku lalu merendahkan sedikit tubuhnya ke arahku. Dia lalu bertanya padaku yang masih terpaku.
"Tu-tuan ...." Aku seperti terhipnotis, tidak dapat berkata apapun di hadapannya.
"Mari kita berenang, Ara. Lepaskan handukmu." Dia memintaku.
Saat mendengar permintaannya, jantungku berdegup kencang tak menentu. Aku takut tapi rasa penasaran juga menyelimutiku. Namun, rasa ragu lebih besar dari rasa penasaranku ini. Sehingga aku menolak membuka handuk kimonoku di depannya.
Kulihat dia tertawa. "Ara, aku tak menyangka jika kau terlalu keras pada dirimu sendiri," katanya.
"Tuan ...." Aku merasa bingung, namun tiba-tiba... "Tuan, turunkan aku!" Dia menggendongku ala pengantin lalu menjatuhkan diri bersama ke kolam.
"Tuan, jangan!"
Kata-kata belum sempat kuteruskan karena terburu terjebur ke dalam kolam. Dan kini aku masuk ke kolam bersamanya.
__ADS_1
"Hah, hah ...." Aku berenang ke tepian karena takut tenggelam. Tapi dia malah menahanku.
"Ara." Dia menarikku ke dalam pelukannya.
"Tu-tuan ...?" Kini kami pun berdiri berhadapan di dalam kolam.
Aku pikir kolamnya dalam, tapi ternyata tidak. Mungkin hanya sekitar 150cm. Jadi aku masih bisa berdiri sambil bernapas.
"Mau ke mana? Malam ini biarkan aku memilikimu." Dia menatapku dalam.
"Tuan ...." Aku tak tahu apa yang harus kuucapkan padanya.
Dia kemudian melepas handuk kimono yang kupakai. Dia biarkan handuk itu mengambang ke sembarang arah. Dan kini aku hanya mengenakan kemben dan leging pendek saja. Dia bisa melihat bahuku yang terbuka dengan jelas di matanya.
"Aku ingin memilikimu, Ara." Dia berbisik di telingaku.
Sontak aku merasa geli hingga mengangkat bahu ini. Namun, di saat itu juga dia mencium telingaku.
"Tuan, geli."
Aku berusaha berontak, menolaknya. Tapi apa daya, tenangaku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Dan kini aku hanya bisa pasrah. Mungkin malam ini sudah dirancang olehnya untuk mencurahkan segala rindu dan sayang yang sempat tertunda. Ya sudahlah. Kunikmati saja bersamanya.
...
Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.
Kugantungkan hidupku di tanganmu.
Orang bilang aku ini gila dan aku buta.
Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.
Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.
Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.
__ADS_1
Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.
Selama kau masih di sini bersamaku...