Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Decision


__ADS_3

Sementara itu di mobil Rain...


Rain dan Jack sedang mengobrol tentang Ara. Di dalam mobil Rain banyak meminta pendapat kepada Jack bagaimana caranya menghadapi wanita. Rain merasa Jack bukan lagi orang lain, melainkan sudah seperti kakaknya sendiri.


"Sepertinya semua berjalan lancar, Tuan?" Jack menuju ke inti pembicaraan sebelum sampai ke tujuan.


"Ya, aku mencoba menuruti saran darimu, Jack. Sepertinya wanita itu memang membutuhkan kepastian." Rain duduk sambil menyandarkan punggung di dalam mobil.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud menggurui. Saya hanya tidak tega melihat Tuan uring-uringan sendiri."


Jack teringat dengan kejadian di bar. Dimana ia melihat tuannya mabuk setelah meminum berbotol-botol anggur. Ia merasa iba sekaligus tidak tega melihat Rain seperti itu lagi.


Malam itu...


"Tuan, sudah. Anda sudah sangat mabuk. Tidak baik jika minum lagi." Jack berusaha menghentikan Rain yang ingin meneguk botol ke tiga anggurnya.


"Biar saja, Jack. Aku tidak peduli." Rain menuangkan anggurnya ke dalam gelas.


Jack tidak tahu apa yang terjadi pada Rain. Namun, setelah mengajak Rain pulang, Jack menyadari sesuatu.


"Tuan, kita pulang saja. Ini sudah malam." Jack merangkul Rain, berniat membawanya pulang.


"Aku tidak mau pulang, Jack." Perkataan Rain terdengar melayang karena mabuk.


"Tuan, Anda tidak boleh merusak diri sendiri. Mari, saya antarkan." Jack segera membawa Rain dari meja bar.


"Aku tidak mau pulang, Jack. Aku tidak mau. Aku ingin di sini saja. Dia sudah jahat padaku." Rain pun hampir jatuh saat dibawa oleh Jack menuju pintu keluar bar.


"Jahat? Nona Ara?" Jack penasaran.


"Ya ... dia jahat padaku. Dia berulang kali menolakku. Aku ... tidak ingin bertemu dengannya." Rain pun jatuh terduduk, tepat di pintu keluar.


"Tuan! Astaga!" Jack kewalahan membawa Rain menuju parkiran mobil. "Tolong bantu aku." Ia meminta bantuan penjaga agar membawa Rain masuk ke dalam mobil.


Sejak saat itu Jack menyadari apa yang terjadi pada tuannya. Di sepanjang perjalanan pulang ke apartemen pun Rain tidak henti-hentinya bergumam sendiri. Menyebut nama Ara berulang kali sambil mengatakan jika Ara jahat padanya.


...

__ADS_1


"Ya. Aku juga tidak mengerti mengapa bisa seperti ini."


Rain tertunduk. Ia mengambil ponsel lalu membuka galeri berisi foto-foto kebersamaannya dengan Ara. Seketika itu juga rasa rindu mulai menyelimuti hatinya. Padahal mereka baru saja berpisah.


Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku hanya ingin kau selalu di sisiku. Jika ini memang cinta, semoga cinta kita abadi dan tak lekang oleh waktu. Ara ... maaf, aku belum bisa menyatakannya padamu.


Hiruk-pikuk kendaraan lalu lalang di sepanjang jalan menuju Burj Khalifa, sebuah gedung tertinggi di dunia. Jack pun kembali fokus melajukan mobilnya agar sang tuan bisa segera sampai dan bekerja. Jack amat berkompeten dalam pekerjaan sehingga Rain memercayainya. Bukan hanya dalam hubungan kerja, tetapi juga dalam hubungan asmara. Rain seringkali meminta pendapat dari Jack untuk menjadi bahan pertimbangannya.


Lima belas menit kemudian...


Rain baru saja tiba di kantornya. Ia bersama Jack berjalan menuju ruangan. Namun, Jack hanya mengantarkan sang tuan sampai di depan pintu ruangan saja.


"Hari ini Ara pulang sebelum makan siang. Tolong antarkan aku untuk menjemputnya." Rain berpesan.


"Baik, Tuan." Jack pun menyanggupi.


"Em ... satu lagi. Tolong belikan setangkai mawar merah. Aku ingin memberikan bunga itu kepadanya." Rain menambahkan.


Jack tersenyum. "Baik, Tuan. Apakah saya boleh menambahkan cokelat? Setahu saya wanita menyukai cokelat." Jack memberi saran.


"Oh, ya. Baik. Kalau begitu sampai bertemu." Rain segera masuk ke ruangannya.


Aku harap mereka tidak akan bertengkar lagi. Mungkin ini salah satu alasan tuan yang tidak mau menerima asisten wanita dalam kesehariannya. Dia takut jatuh hati sendiri.


Jack berjalan melewati karyawan kilang minyak yang lalu lalang di lantai seratus gedung Burj Khalifa tersebut. Ia menuju lift agar dapat cepat sampai ke lantai dasar. Seketika itu juga ia teringat bagaimana pengakuan tuannya terhadap Ara.


Malam itu...


Jack mendatangi ruang kerja Rain karena sang tuan belum juga turun ke lantai dasar. Di sana ia mendapati Rain yang sedang melamun di depan meja kerjanya.


"Tuan." Jack memberi salam.


"Jack?!"


Rain terkejut dengan kedatangan Jack. Ia tidak menyadari jika Jack telah mengetuk pintu terlebih dulu.


"Tuan, sudah pukul sembilan. Anda tidak ingin kembali ke apartemen?" tanya Jack santun.

__ADS_1


"Em, aku rasa ... tidak." Rain bergegas merapikan meja kerjanya.


"Apakah hal ini ada hubungannya dengan nona Ara?" tanya Jack memberanikan diri.


Seketika Rain terhenti. Ia menghela napas panjang.


"Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu? Saya rasa tidak baik jika hal ini dibiarkan berlarut-larut." Jack menawarkan diri.


Rain melanjutkan merapikan meja kerjanya. Setelah selesai ia segera berjalan mendekati Jack yang masih berdiri di depan pintu ruangan.


"Jack, apa boleh aku menginap di rumahmu?" tanya Rain saat berhadapan dengan supir pribadinya.


Sontak Jack terkejut dengan pertanyaan Rain.


"Em, maksudku ... aku bisa saja menginap di hotel saat ini. Tapi, aku membutuhkan teman untuk bertukar pikiran. Apakah kau bersedia?" tanya Rain lagi.


Jack pun mengerti. "Baik, Tuan. Tapi rumah saya tidaklah terlalu besar, kamarnya hanya ada dua. Apa Tuan tidak keberatan tidur di kamar kecil?" Jack menanyakan dengan sopan.


"Aku tidak masalah dengan hal itu. Saat ini aku butuh teman untuk bertukar pikiran. Dan aku rasa kau bisa diandalkan." Rain berharap.


"Baik, Tuan. Saya mengerti." Jack pun menyanggupi.


Keduanya lalu menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Mereka menuju parkiran mobil untuk pulang ke rumah Jack. Malam ini sang penguasa akan tidur di rumah supir pribadinya sendiri. Tak lain dan tak bukan karena ingin membicarakan tentang Ara. Dan Jack pun memahami kegelisahan tuannya.


Sesampainya di rumah Jack...


Sang istri menyambut Jack pulang dengan mencium tangan suaminya. Sontak Rain teringat cepat dengan gadisnya itu. Dan akhirnya, semalaman suntuk Rain berbincang bersama Jack mengenai perasaan yang menganggu hatinya akhir-akhir ini.


"Tuan, kalau boleh saya menyarankan lebih baik menikah saja dulu. Saya sendiri belum dapat memastikan perasaan yang ada di hati Tuan." Jack mengambil jalan terbaik.


"Tapi, apa dia tidak terkejut nantinya?" Rain ragu akan saran dari Jack.


"Saya rasa kegelisahan yang melanda akan segera terjawabkan setelah pernikahan. Ada atau tidak adanya cinta, tidak akan menjadi masalah. Dan mungkin nona Ara juga berharap Tuan menyatakan perasaannya. Karena dari cerita tadi, sepertinya nona dengan tulus melakukan apa yang Tuan pinta." Jack mengungkapkan pandangannya.


"Hm, ya. Usiaku juga sudah cukup untuk menikah. Tapi, aku masih khawatir dengan keputusan ini. Aku juga tidak bisa tenang jika jauh darinya. Aku bingung dengan diriku sendiri." Rain mengungkapkan.


"Saya akan membantu sebisa mungkin, Tuan. Untuk sementara mantapkan hati Tuan terlebih dahulu. Biarkan hati yang menuntun mau ke mana." Jack meminta Rain membulatkan tekad.

__ADS_1


"Aku akan memikirkannya kembali, Jack. Terima kasih." Rain tersenyum tipis.


Keduanya melanjutkan obrolan sebelum rasa kantuk datang. Hati Rain yang gelisah berangsur-angsur membaik setelah bertukar pikiran dengan Jack. Ia tidak ingin salah langkah untuk sebuah keputusan yang amat besar. Rain harus memikirkannya masak-masak.


__ADS_2