
"Dia gadis yang istimewa. Anda beruntung memilikinya, Tuan Rain." Ara mendengar Tabib Hu mengatakan seperti itu kepada Rain. "Hanya saja ... tidak akan ada perjalanan yang mudah untuk mencapai suatu tujuan. Semua harus melalui kepahitan akan lika-liku kehidupan." Tabib Hu melanjutkan.
Rain mengangguk. "Aku tahu Tabib Hu. Aku hanya kasihan padanya. Aku merasa sangat bersalah. Semenjak dekat denganku, dia jadi sering mengalami hal seperti ini." Rain terlihat sedih.
Tabib Hu tersenyum. Ia menepuk pundak Rain. "Ini adalah jalan takdir untuk kalian. Jika dia tidak memiliki keistimewaan, sepertinya tidak mungkin bisa bertemu dengan Anda, Tuan." Tabib Hu mengajak Rain agar tidak menyesali apa yang terjadi.
Rain kembali mengangguk.
"Baiklah. Untuk sementara waktu nona Ara memang harus banyak-banyak beristirahat terlebih dahulu. Saya yakin seiring berjalannya waktu, nona Ara pasti bisa mengatur tenaganya saat kembali berpergian. Tuan Rain jangan khawatir." Tabib Hu menuturkan.
"Semoga, Tabib." Rain berharap. "Tapi jika boleh memilih, aku ingin dia biasa-biasa saja. Aku tidak tega melihatnya seperti ini terus-terusan." Rain mengungkapkan kecemasan di hatinya.
Tabib Hu mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu saya pamit. Tak lama lagi istri Tuan akan siuman. Jangan lupa untuk meminumkan ramuan penambah tenaga yang telah kami buatkan. Jika memang dirasa sulit untuk ke istana, besok pagi saja. Jangan dipaksakan. Pangeran juga pasti mengerti. Terlebih acara memang baru dimulai esok pagi. Saran saya beristirahat lah hari ini." Tabib Hu berpesan.
"Terima kasih Tabib Hu." Rain pun mengiyakan. Ia melepas kepergian Tabib Hu dari padepokan.
Tabib Hu bersama salah satu tabib istana lainnya akhirnya pergi meninggalkan padepokan Ara. Mereka harus segera kembali ke istana untuk mengawasi kondisi Lily pasca pengobatan. Rain pun segera membalikkan badan untuk masuk kembali ke dalam padepokan. Namun, saat ia membalikkan badan, saat itu juga Ara keluar dari balik pintu. Rain pun terkejut melihat Ara sudah berada di hadapannya.
"Sayang?!" Rain segera mendekati Ara. "Kau sudah siuman?" tanya Rain yang begitu khawatir kepada istrinya.
Ara hanya diam.
"Sayang, bagaimana kondisimu? Apa sudah baikan?" tanya Rain lagi.
__ADS_1
Ara masih diam. Namun, ia diam bukan tanpa alasan. Hatinya merasa sedih karena hal yang ia dengar tadi. Ternyata suaminya merasa bersalah dengan semua kejadian ini. Dan hal itulah yang membuat Ara membungkam mulutnya. Ia seperti tidak dapat berkata apa-apa.
Air mata Ara mulai menggenang. Kedua kakinya lalu berjinjit untuk melakukan sesuatu. Tanpa kata, tanpa bicara, Ara mencium bibir Rain begitu saja. Ia mencium bibir suaminya tanpa aba-aba. Sontak Rain pun terkejut dengan sikap istrinya. Namun, ia membiarkan Ara untuk terus mencium bibirnya.
Sayang, apa yang terjadi padamu?
Dalam hati Rain bertanya, sedang Ara terus mencium bibirnya. Mengecupnya perlahan namun berkelanjutan. Kedua matanya pun terpejam seolah merasakan setiap sentuhan. Namun, tak berapa lama air mata Ara jatuh membasahi pipinya. Ara merasa sedih dengan pembicaraan tadi.
Sayang, entah mengapa hatiku merasa sakit saat mendengar pengakuanmu. Aku sama sekali tidak kelelahan dengan semua yang terjadi. Kau tahu, cinta ini begitu membutakanku. Awalnya aku hanya berkhayal bertemu dengan seorang pangeran. Tapi, jalan takdir mengantarkanku untuk bertemu denganmu. Aku tidak pernah menyesalinya meski harus melewati banyak kesulitan. Karena aku mencintaimu.
Ara sedih bukan karena marah kepada Rain. Ia sedih karena Rain menganggap dirinya sebagai penyebab kesulitan Ara selama ini. Hal itu tidak disukai olehnya karena ia sendiri rela merenggang nyawa demi Rain. Ara baru pertama kali jatuh cinta dan cinta itu jatuh kepada Rain.
Kini janin yang sedang ia kandung menjadi saksi betapa besar cinta itu dan tidak ingin penyesalan mewarnai kehidupan rumah tangganya. Walaupun Ara tahu Rain amat mengkhawatirkannya, ia tidak ingin mendengar Rain menyalahkan dirinya sendiri. Karena Ara percaya, apapun yang terjadi memang sudah kehendak takdir, sekalipun itu terasa pahit sekali.
"Sayang, kenapa?" Rain bertanya lembut kepada Ara.
Ara terdiam. Ia tidak mampu menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya. Saat itu juga Rain menyadari jika sesuatu telah terjadi. Ia lantas meminta maaf kepada Ara.
"Maafkan aku jika ada kata-kataku yang membuatmu diam seperti ini. Aku menyayangimu, Istriku. Tapi aku juga tidak ingin membebankanmu." Kedua bola mata biru Rain menatap Ara dengan lembut.
Ara menarik napas dalam-dalam. Ia hanya bisa menatap dan memandangi paras rupawan suaminya tanpa bisa berkata apa-apa.
"Jika ada cara lain untuk memutus mata rantai hal yang kau alami ini, aku akan bersedia melakukannya, Sayang. Aku tidak ingin kau terus-terusan mengalami hal seperti ini." Rain ingin Ara menjadi manusia biasa, tanpa memiliki kelebihan apapun. Karena ia ingin menjalani kehidupan rumah tangganya dengan tenang.
__ADS_1
Ara masih terdiam. Ia sengaja mengunci mulutnya agar tidak bicara. Rain pun segera menarik tubuh Ara lalu memeluknya. Ia seperti menyadari apa yang sedang terjadi pada istrinya.
Sayang, maafkan aku.
Semilir angin sore menjadi saksi dua insan yang sedang berpelukan di teras padepokan. Cinta mereka begitu besar hingga tak mampu terangkai kata-kata. Dan mereka berharap cinta itu abadi, sampai nanti, sampai mati.
Malam harinya di istana Agartha...
Hari ini Lily belum bertemu sama sekali dengan pangeran. Ia tampak sibuk melakukan perawatan dan juga didandani oleh pihak penata rias istana. Pangeran pun seperti tidak sempat untuk menemui Lily, sehingga Lily merasa kesepian.
Agartha ... kenapa belum juga menemuiku?
Kini gadis itu tengah dihena tangannya. Ia didampingi beberapa pelayan istana kepercayaan pangeran. Ia juga tidak diperkenankan untuk keluar kamar. Sedari selesai perawatan, ia hanya berada di dalam kamar. Seperti dipingit sebelum melangsungkan pernikahan.
Tentu saja hal ini membuat Lily merasa kesepian. Tidak ada yang ia kenal di istana selain pangeran seorang. Namun, beberapa gurauan dari penata rias sepertinya cukup untuk membuatnya tersenyum. Walaupun pada kenyataannya ia amat merindukan pangeran.
Agartha ... aku merindukanmu.
Jendela kamar yang dibiarkan terbuka membuat tirai-tirai melayang terkena embusan angin malam. Lily pun memandangi sinar rembulan dari dalam kamarnya. Rembulan yang bersinar terang seolah memberi kehangatan padanya. Lily pun berharap esok hari akan menjadi hari paling bahagia untuknya. Di mana ia dipinang oleh seorang pria yang dicintai.
Agartha, sampai bertemu esok hari.
Lily tersenyum. Ia memutuskan untuk menikmati setiap tahapan tradisi kerajaan sebelum menjadi pengantin istana. Ia merasa tidak baik jika berlama-lama terlarut dalam perasaannya. Karena Agartha juga akan menjadi suaminya.
__ADS_1