Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Let's Start!


__ADS_3

Aku tersenyum kembali.


"Aku tidak punya hubungan apapun dengannya selain pertemanan. Apa yang kau lihat tadi bukanlah yang sesungguhnya." Dia menjelaskan padaku.


Kutelan ludah sambil mengambil napas dalam. "Maaf, Tuan. Aku merasa tidak pantas untuk menerima penjelasan dari Anda." Aku kembali tersenyum padanya.


"Ara ...."


"Pembicaraan ini menyiratkan jika Tuan merasa bersalah atas kejadian tadi. Maaf jika aku salah mengira. Tapi sepertinya, tidak ada yang perlu dibicarakan tentang hal barusan. Aku juga tidak punya alasan yang kuat untuk marah." Kutatap wajahnya seraya tersenyum, menutupi duka di hati ini.


Kulihat dia menelan ludahnya. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Aku hanya berusaha mengobati perasaanku sendiri.


"Ara." Dia mendekatkan wajahnya ke arahku. "Mengapa kau seperti ini? Mengapa memanggilku dengan sebutan tuan kembali? Apa kau marah padaku?" tanyanya serius.


Aku tersenyum seraya menunduk, menutupi perasaan yang sesungguhnya. "Tidak, Tuan. Bukankah hubungan kita hanya sebatas kontrak? Aku tidak berhak marah kepada Anda." Aku tersenyum lagi.


Dia diam lalu memperhatikanku sejenak.


Aku tidak mau peduli lagi padanya. Rasanya sudah cukup sakit hati ini. Aku tidak boleh membiarkan hatiku menjadi mainannya. Aku harus bangkit dari rasa sakit ini.


"Ara ...." Dia mencoba memegang tanganku.


Segera kutarik tangan yang ingin dia pegang. Seketika itu juga raut wajahnya berubah masam. Dia mengusap kepalanya lalu mengembuskan napas dengan kuat.


"Baiklah-baiklah. Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanyanya, seperti tidak mempunyai jalan lagi.


"Tuan, sudah pukul satu. Aku bawakan bekal untuk makan siang di kantor, ya." Aku beranjak melangkahkan kaki menuju dapur.


"Ara!" Dia memanggilku, berdiri dari duduknya.


"Ya, Tuan?" Aku membalikkan badan ke arahnya.


"Kau benar-benar ingin aku pergi sekarang? Kau tidak ingin bicara lagi padaku?" tanyanya, dengan tatapan seperti menahan kesal.


"Tuan, aku laksanakan tugasku. Aku siapkan bekal," kataku lagi seraya tersenyum.


Kubalikkan badan, membelakanginya lalu berjalan menuju dapur. Kusiapkan segera bekal makan siang untuknya. Sungguh aku tidak mampu jika harus berlama-lama berhadapan dengannya. Aku bisa menangis dan dia mengetahui perasaanku yang sesungguhnya.


Maafkan aku, Tuan.


Setelah selesai menyiapkan bekal makan siang untuknya, aku kembali ke meja makan. Tapi ... ternyata dia sudah tidak ada.


Tuan ...?

__ADS_1


Tak lama nada pesan pun terdengar dari ponselku. Dan kulihat jika dialah yang mengirimkan pesan.


...


/Jika kau ingin aku pergi, maka aku akan pergi./


Rain


...


Satu kalimat yang kubaca membuat hatiku tercabik-cabik sendiri. Ternyata dia pergi begitu saja tanpa ada kata pamit kepadaku. Rasa sesak pun kembali melanda dada ini. Begitu sakit hingga rasanya ingin melupakan semua. Segera kuletakkan kotak bekal yang kubawa lalu duduk termenung di depan meja makan. Rasanya kepalaku sakit sekali.


Tuan ... kenapa harus seperti ini?


Kupegang kepalaku karena rasa sedih yang tertahan. Rasanya baru semalam kami berbagi kasih. Tapi, siang ini duka sudah kembali menerpa kami.


Sungguh aku tidak percaya jika akhirnya seperti ini. Mungkin akunya yang salah, harusnya lebih tahan banting melihatnya bersama wanita lain. Atau mungkin akunya yang masih kekanak-kanakan dan dia yang belum dewasa? Entahlah, lebih baik kuteguk saja kopi yang ada di meja untuk mengembalikan suasana hatiku. Namun nyatanya ... aku tidak mampu.


.........


Sayang,


Bahkan di hatiku aku melihat kamu tidak jujur ​​padaku.


Terkadang aku berharap bisa memutar kembali waktu.


Tidak mungkin seperti yang terlihat, tapi aku berharap bisa.


Sangat buruk, Sayang.


Berhentilah bermain-main dengan hatiku.


Berhenti bermain-main dengan hatiku,


Sebelum kau memisahkan kita.


Seharusnya aku tahu dari awal.


Kau tahu harus berhenti.


Kau mengobrak-abrik hatiku.


Berhentilah bermain-main dengan hatiku.

__ADS_1


Sayang, Sayang...


Cinta yang kita miliki begitu kuat.


Jangan tinggalkan aku di sini selamanya.


Oh, Sayang...


Ini tidak benar.


Mari kita hentikan malam ini...


.........


Aku tersenyum mengingatnya. Waktu itu dia masih menjadi tuanku. Aku bekerja padanya sebagai asisten rumah tangga. Namun, dia juga menguliahkanku di universitas ternama. Tidak tahu berapa kisaran biayanya, aku hanya terima jadi saja. Dan sekarang dia telah menjadi suamiku. Waktu merestui kami untuk terus bersama.


Rasanya memang sungguh luar biasa. Dari pembantu menjadi ratu. Mungkin hal ini amat langka terjadi di dunia nyata. Namun, aku berhasil mendapatkannya. Aku pun akan terus berusaha menjaga kisah ini hingga akhir masa kami.


Ara teringat dengan perjalanan cintanya bersama Rain. Dimana untuk pertama kalinya ia merasakan cemburu terhadap sang hujan. Di saat itu rasa yang ada di hati Rain juga sudah tumbuh merekah bak bunga yang indah. Namun, kesalahpahaman harus terjadi di antara mereka yang membuat keduanya terpisah. Tidak hanya sehari, melainkan berhari-hari. Ara pun menyadari betapa sulitnya hati untuk tidak memikirkannya. Selama Rain tidak pulang ke apartemen, ia selalu kepikiran dan gelisah.


Hal itu jugalah yang membuat Ara menyadari betapa rindu pangeran kepada Lily sudah tidak dapat terbendung lagi. Pangeran menceritakan jika sudah lama tidak bertemu Lily. Hampir dua bulan lamanya ia tidak pernah melihat Lily lagi. Sedangkan Ara yang hanya beberapa hari saja tidak bertemu Rain, sudah gelisah tak karuan. Tidur tak nyenyak, makan tak enak. Ara merasa apa yang terjadi pada pangeran adalah hal yang wajar. Karena ia pun pernah mengalaminya. Bagaimana kerinduan itu telah berhasil membuat hati dan pikirannya resah dan gelisah.


Rain sendiri tampak ikut merasakan apa yang pangeran rasakan. Ia mencoba mengerti atas situasi yang sedang terjadi. Hatinya iba, namun tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mampu bertindak untuk membantu keadaan agar lekas pulih ke sediakala. Sedang pangeran sendiri tampak berpikir keras mengenai hal ini. Setelah tabib menuturkan apa saja yang harus ia lakukan, mau tak mau ia harus memohon kepada Ara agar membantunya.


"Nona, Nona Ara?" Pangeran memanggil-manggil Ara yang masih terdiam dalam lamunannya.


"Sayang, Sayang." Rain pun mengusap-usap punggung sang istri agar kembali fokus ke perbincangan. Saat itu juga Ara tersadar dari ingatan masa lalunya.


"Ya?" Ia melihat wajah suaminya.


"Pangeran ingin meminta bantuanmu, Sayang." Rain menjelaskan kepada istrinya.


"Ya, Pangeran?" Ara segera beralih ke pangeran.


Pangeran terlihat cemas. "Maaf, Nona. Tapi aku harus merepotkanmu lagi. Aku tidak mempunyai pilihan lain." Pangeran mengungkapkan.


Ara terdiam sejenak. Ia berpikir maksud dari kata-kata pangeran. "Em, akan aku usahakan semampunya." Ia akhirnya menyanggupi permintaan pangeran.


Pangeran tersenyum senang. "Terima kasih. Terima kasih banyak Nona. Apakah kita bisa segera memulai tahap pengobatannya?" Pangeran bertanya lagi kepada Ara.


Ara menoleh, melihat suaminya. Raut wajahnya terlihat kebingungan. Rain pun menyadari kebingungan sang istri lalu tertawa. Ia menyadari jika Ara belum tahu tahapan apa saja yang harus dilakukan. Karena tadi Ara tidak mendengarkan.


"Aku akan membantu istriku. Pangeran jangan khawatir." Akhirnya Rain yang menjawab pertanyaan pangeran.

__ADS_1


Pangeran tersenyum semringah mendengar hal ini. Prosesi penyembuhan akan segera dilaksanakan. Pangeran pun meminta pelayan untuk membantu persiapan. Ia amat ingin Lily segera tersadarkan. Karena baginya Lily adalah segalanya. Seorang wanita yang amat berharga di hatinya.


__ADS_2