Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Sweet Memories


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Langit gelap berangsur-angsur terang. Pagi datang menggantikan malam. Tak selamanya malam menyelimuti bumi. Pagi pasti kan datang setelah malam menerjang.


Mungkin pepatah walau habis gelap terbitlah terang itu sangat cocok untuk menggambarkan hatiku saat ini. Keadaanku bersamanya berangsur-angsur membaik, seolah tidak ada luka yang tercipta. Kuakui jika kini tak hanya hati dan pikiranku yang terikat dengannya. Tapi juga tubuhku. Dia mengikat tubuhku dengan lembut belaian kasihnya.


Terkadang kontak fisik yang terjadi membuat hatiku semakin takut kehilangannya. Aku sadar aku ini siapa, tapi aku juga manusia. Kadang kala takut jika habis manis sepah dibuang begitu saja. Aku bukan tebu, aku adalah manusia yang mempunyai hati. Dan akan terluka jika disia-siakan begitu saja olehnya.


Beberapa hari kemarin kami lebih dalam menjalin hubungan. Dia banyak mengajarkanku bagaimana cara menghadapi sikap aslinya. Semenjak kejadian di kolam itu, aku sadar jika dia membutuhkanku dan aku juga membutuhkannya. Mungkin sebentar lagi aku tidak dapat menolak pernikahan itu.


Aku teringat jelas bagaimana dia memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar di perutku. Dan aku diminta melihat ke arah wajahnya. Dia memelukku dalam air kolam yang dingin, menambah sensasi tersendiri bagi jiwaku. Di saat itu juga dia menciumku. Dia tidak memberi jeda bagiku untuk berhenti. Kami terus berciuman menyalurkan hasrat yang bergejolak di dada. Hingga akhirnya aku pasrah di pelukannya.


Dia membalikkan tubuhku lalu menciumku kembali. Dia mulai bermain lebih dalam dengan cinta ini. Dia mengajak ku beradu, mengajarkan bagaimana menyalurkan hasrat yang terpendam. Dan akhirnya aku terhanyut dalam permainannya. Aku memeluknya, membalas ciumannya. Hingga air kolam yang dingin seolah menjadi panas karena gejolak di dada.


Tidak berhenti sampai di situ saja. Dia menggendongku bak anak kecil. Dia menggendong depan tubuhku. Kedua kakiku melingkar di pinggangnya. Dia membawaku naik ke atas kolam lalu mendudukkanku di atas pangkuannya. Dan akhirnya kami saling bertatapan satu sama lain seolah hasrat telah menggebu-gebu dan tak lagi bisa untuk ditahan.


Aku ingat benar bagaimana wajahnya yang menginginkan permainan itu diteruskan. Dan entah mengapa aku seperti terhipnotis, tidak berdaya menolaknya. Kucumbu dia, kuajak dia beradu dalam jalinan benang saliva yang saling terhubung. Entah berapa lama kami melakukannya, sampai pinggulnya bergerak sendiri. Napasnya tersengal hingga akhirnya merebahkan kepala di dadaku.


Hasrat kami sudah di puncak, tak mampu lagi ditunda. Aku mencium lehernya,menggelitik telinganya. Dan kulihat saat itu dia memejamkan kedua matanya seraya berkata, "Cium aku lagi, Ara." Suaranya terdengar seksi sekali. Dia seperti sudah tidak berdaya melawan keadaan. Hingga akhirnya aku memberanikan diri, melupakan siapa diri ini di hadapannya.


Kulingkarkan kedua tanganku di lehernya sambil membelai-belai tengkuk lehernya dengan jemariku. Kuambil apa yang dia punya di antara dinginnya semilir angin yang berembus. Dia memegang erat pinggulku sambil memadukan kembali benang saliva yang sempat terputus. Dia kembali menggerakkan pinggulnya, menggetarkannya. Semakin lama semakin cepat hingga membuatku merasakan sesuatu amat keras menyentuh area pribadiku. Aku melayang bersamanya.


"Ara, lepaskan saja."


Kata-kata itu yang kudengar saat dia mendekap tubuhku. Kedua tangannya melingkar di tubuhku dengan pinggul yang masih bergetar-getar tanpa henti. Aku tidak dapat bergerak di atas pangkuannya. Aku hanya bisa merasakan apa yang dia lakukan. Dia pun mencium bagian atas dadaku. Dan dia mengemutnya sampai tercipta tanda merah di antara putih mulusnya dada ini. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan api di dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Sayang, sudah."


Hanya kata-kata itu yang mampu kuucapkan padanya saat sudah merasa melayang bersamanya. Tapi pinggulnya masih bergerak dan dia pun mengajak ku terus beradu. Hampir-hampir saja kembenku ini turun dan memperlihatkan apa yang harusnya kusembunyikan. Hingga akhirnya, dia melepaskannya. Tubuhnya tersentak hebat di bawah tubuhku. Napasnya amat tersengal seolah kehilangan udara yang ada. Dia jatuh lemas di dadaku.


Hangat napasnya masih memburu. Begitu juga aku yang sudah tidak dapat lagi mengendalikan diri saat itu. Aku mau dipeluknya, diciumnya, bahkan dipermainkan olehnya. Mungkin aku memang murahan di matanya. Hasrat itu membuat aku menggila.


Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah hidupku. Dan dia berhasil menaklukkanku. Dia juga bilang jika aku adalah wanita pertama baginya. Aku mengambil apa yang dia punya. Dan dia tidak akan melepaskanku sekalipun aku kabur ke ujung dunia. Dia pasti akan mengejarku.


Sejak saat itu aku tidak lagi menjaga jarak darinya. Aku sadari jika kami saling membutuhkan. Dia pakaianku dan aku pakaiannya. Walau belum sepenuhnya terpakai, suatu hari nanti akan kejadian. Dan aku percaya dia tidak akan mengingkari janjinya.


Apa yang terjadi kutuliskan di dalam kisahku. Kisah harianku yang semoga saja suatu hari nanti ada yang meminangnya. Aku ingin dunia tahu bagaimana perjalanan hidupku. Walaupun jalannya mustahil terjadi di dunia ini. Tapi, aku telah membuktikannya.


"Selamat pagi, calon istriku." Dia memelukku dari belakang.


"Selamat pagi." Aku menjawab sambil mengusap wajahnya.


"He-em. Ini kesukaanmu, bukan?" Aku bertanya padanya.


"Em, apapun yang kau buat, aku suka." Dia mengecup pipiku.


"Ih, kau ini. Mandi dulu sana. Bau tahu!" Aku mengejeknya.


Dia segera melepaskan pelukan lalu mencium aroma tubuhnya sendiri. Seketika aku ingin tertawa melihatnya. Dia percaya begitu saja apa yang aku katakan.


"Benarkah, Ara? Sepertinya tidak." Dia merasa yakin apa yang aku katakan tidaklah benar.

__ADS_1


"Hahaha."


Aku pun tertawa setelah mengangkat telur dadar buatanku. Kumatikan kompor lalu menyajikan telur ini ke atas piring. Aku berniat membawanya ke meja makan.


"Kau selalu harum, Sayang," kataku lalu mencium pipinya.


"Eh ...?" Dia menaikkan satu alisnya.


"Apa?" tanyaku.


"Apa mau mengulang untuk yang ke dua kalinya?" tanyanya yang membuatku mencubit pinggangnya.


"Ih, nakal! Sudah mandi sana!" Aku mendorongnya keluar dari dapur hingga ke depan pintu kamar mandi.


"Iya-iya aku mandi." Dia akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.


"Dasar." Aku pun berbalik untuk kembali ke dapur. Tapi...


"Ara." Dia memanggilku dengan membuka sedikit pintu kamar mandinya.


"Ya?" Aku berbalik lagi ke arahnya.


"Kau begitu indah," katanya yang sontak membuatku tersipu.


Dia tersenyum lalu menutup pintu kamar mandinya. Kata-katanya pagi ini mampu menghipnotisku sehingga tubuhku seperti kaku tak berdaya. Hati ini jika bisa berkata, maka dia akan berkata, "Jangan membuatku tersipu." Tapi sayangnya hatiku tidak bisa mengucapkannya.

__ADS_1


Kita sudah sedekat ini. Lalu apa yang kau tunggu? Kapan kau akan menyatakan perasaan cintamu, Tuan?


Walau sesuatu telah terjadi di antara kami, dia masih belum juga menyatakan perasaan cintanya. Aku jadi tidak mengerti sebenarnya apa yang telah membuat dia menahan kata-kata itu. Aku penasaran, sungguh penasaran tentang rahasia yang belum diungkapkan olehnya. Tapi, demi cinta ini aku akan menunggunya. Aku berharap masih bisa sabar menunggu hingga hari bahagia itu datang menemani hidupku.


__ADS_2