
Beberapa jam kemudian...
Aku terbangun dari tidurku yang entah sudah berapa lama. Tadi saat baru lepas landas kepalaku terasa pusing sekali bahkan sempat mual-mual. Padahal sudah meminum obat anti mabuk. Mungkin karena baru pertama kali naik pesawat terbang jadinya seperti ini.
Untung saja ada istri Jack yang cepat menolongku. Kalau tidak mungkin sudah meminta turun dari pesawat. Dia mengerok punggungku tadi, dan ternyata merahnya luar biasa. Sepertinya aku memang masuk angin namun tidak dirasa.
Kini tubuhku terasa lebih ringan saat berjalan di dalam pesawat. Tidak seperti tadi yang seolah sedang hamil tiga bulan, serba salah mau ke mana-mana. Kata ibuku sih fase tiga bulan pertama mengandung rasanya mual bukan main. Mungkin seperti itu yang kurasakan saat di pesawat terbang.
Jack memperkenalkanku dengan istrinya. Istri Jack memakai cadar sehingga hanya saat di kamar aku bisa melihat wajahnya. Dan ternyata wajahnya cantik sekali, khas wanita Timur Tengah yang menawan hati. Pantas saja Jack segera menikahinya. Kepribadian istrinya juga amat luar biasa. Bertutur kata lemah lembut dan menjaga pandangannya dari pria lain. Kadang aku berpikir, kapan bisa sampai di fase seperti itu?
Jack dan istrinya mempunyai dua orang putra yang tampan. Usia mereka tidak berbeda jauh. Namun, si bungsu sepertinya amat menyaingi paras kakaknya. Kulitnya lebih putih dan bibirnya merah merona. Keduanya membuatku terpana.
Mereka sudah tidur.
Aku berjalan keluar kamar, berniat mencari tuanku. Saat membuka pintu, kulihat ada sofa di kanan dan kirinya. Tuanku tidur di sebelah kanan sedang Jack di sebelah kiri. Keduanya terlihat lelah sekali. Rasanya kasihan jika membangunkannya. Tapi sepertinya aku membangunkan calon suamiku saja.
"Sayang," kataku pelan sambil menarik lengan sweternya.
Kulihat paras tampan nan menggoda sedang tidur dengan polosnya. Rambut-rambut halus di sekitar wajahnya itu sangat kusuka. Dia bak Pangeran Arab yang begitu mempesona. Jadi wajar saja jika aku tergila-gila padanya.
Mimpi tadi sore sebenarnya masih terbayang di benakku. Namun, sebisa mungkin aku mengabaikannya. Tidak ingin terlalu memikirkannya karena khawatir akan menambah beban pikiran saja. Toh, saat ini dia masih bersamaku. Jadi kunikmati saja kebersamaan ini tanpa pikiran negatif mengelilingi. Aku ingin hidupku tenang di hari-hari menjelang pernikahan.
"Sayang ...."
Aku menyapanya kembali. Tapi ternyata yang bangun adalah Jack. Kulihat dia bangun lalu melihatku duduk di pinggir sofa tuanku.
"Nona?"
"Jack, tidur di dalam saja. Aku ingin di sini," kataku padanya.
Dia terdiam sejenak. "Tapi Tuan Rain meminta agar Nona yang di dalam. Saya tidak enak," tanggapnya.
"Em, tidak apa-apa. Nanti aku yang bilang kepada tuan. Kau jangan khawatir." Aku meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah, Nona. Nanti ketuk saja pintunya jika ada keperluan." Dia akhirnya memenuhi permintaanku.
"He-em." Aku pun mengangguk.
Jack segera pergi, dia masuk ke kamar dan beristirahat di sana. Sedang aku ... aku melihat jam di pergelangan tangan tuanku. Dan ternyata sudah pukul dua belas malam.
Apa masih lama ya sampainya?
Kami berangkat dari bandara sekitar pukul delapan malam. Bisa dipastikan jika perjalanan kami sudah memakan waktu empat jam. Tapi tidak tahu jika sudah sampai di Indonesia, karena kedua negara mengalami perbedaan waktu sekitar tiga jam.
Aku melihat ke luar jendela. Dan kulihat awan putih disinari terang bulan dan cahaya lampu pesawat. Dari sini aku tidak merasa bising sama sekali. Dan perjalanan juga seperti tenang-tenang saja. Awan telihat bergerak amat lambat.
Ibu, Ara pulang.
Tuanku tak kunjung terbangun dari tidurnya. Dan karena rindu akan kehangatannya, aku tiduran saja di sampingnya. Tidur menyempil di sisi kanannya. Seketika kurasakan dia terbangun karena ada orang di sisinya. Dia pun perlahan-lahan membuka kedua mata.
"Baa!" kataku.
"Ara ...?"
"Kenapa terbangun?" tanyanya lembut.
"Aku ingin," jawabku polos.
"Ha?!" Seketika dia terkejut lalu memukul pelan keningku dengan kepalan tangannya.
"Kenapa?" Aku pura-pura tidak tahu.
"Ara, kau ini ya!"
Dia berbalik menghadapku. Wajah kami pun berhadapan. Entah apa yang dia pikirkan, aku merasa jika dia amat menyayangiku.
Tuan kapan sih mengatakan aku sayang kamu kepadaku?
__ADS_1
Aku tersenyum padanya. Dia pun membalas senyumku lalu kemudian mencium kening ini. Sepertinya dia sudah tidak gila seperti dulu. Dia dapat menahan hasratnya sekarang. Aku jadi bertambah sayang kepadanya.
"Apa penerbangan masih lama?" tanyaku sambil memeluknya.
"Mungkin dua atau tiga jam lagi. Ingin kutanyakan pada pilotnya?" tanyanya.
"Tidak. Tidak perlu. Di sini saja bersamaku. Aku percaya padamu," kataku.
Seketika kudengar detak jantungnya berdegup kencang, entah kenapa. Namun setelah itu dia memelukku erat.
Ini apa ya?
Saat dia memeluk aku merasakan ada yang mengganjal di perutku. Aku pun berusaha melihat ke bawah. Dan ternyata ada penghalang antara aku dan dirinya. Aku pun ingin menyingkirkannya. Tapi, seketika itu juga dia menahannya.
"Ara, sudah!" Dia menahan tanganku.
"Eh?" Aku bingung.
"Jangan dipegang. Biarkan saja. Nanti juga tidur," katanya.
"Apanya yang tidur?" Aku bingung. "Aw!" Dia tiba-tiba menjitak kepalaku.
Beberapa detik kemudian aku tersadar apa yang dimaksudkan olehnya. Ternyata dia menahan tanganku agar tidak memegang benda itu. Benda yang bisa mengeras dengan sendirinya.
Dasar!
Aku pun mengabaikan lalu memeluknya dengan erat. Kudengar detak jantungnya melaju cepat karena hal yang ingin kulakukan tadi. Kucium saja dadanya, kuhirup aroma parfumnya yang memabukkan. Sebentar lagi dia akan menjadi pakaianku selamanya.
Ara masih harus banyak belajar tentang prianya. Rain yang sudah lebih mengerti pun harus bersabar mengajari gadisnya. Dan akhirnya pelan-pelan Ara mengerti akan maksud dirinya.
Benar apa yang dikatakan oleh Owdie jika menikahi gadis polos harus banyak mengajarinya. Termasuk hal yang seperti ini juga. Tapi sepertinya Rain tidak merasa keberatan sama sekali. Ia terlihat senang dan bahagia. Hanya saja harus menahan diri dari hasrat yang tiba-tiba. Saraf sensorik di tubuhnya bereaksi alami saat bersama gadisnya.
Pernikahan keduanya akan segera dilangsungkan. Harapan akan kelancaran acara juga dipanjatkan. Tapi bagaimana jika hambatan selalu ada menjelang hari-hari pernikahan? Mampukah keduanya bersatu melewatinya?
__ADS_1
Ara, kau ini memang menyebalkan. Aku bukannya tidak mau, tapi menahannya saja. Awas kau ya saat kita sudah menikah. Aku akan bergantian membuatmu menderita di atas kasur pengantin. Suka atau tidak aku akan melakukannya. Tunggu saja! Kau belum tahu bagaimana priamu yang sebenarnya.
Rain tersenyum sambil memeluk gadisnya. Mereka kembali memasuki destinasi alam mimpi yang indah.