Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Human Demon


__ADS_3

Pelayan-pelayan pun menoleh. "Pejabat Han?" Seketika mereka melepaskan Ara.


Pria berjubah hijau itu bernama Han. Ia adalah tangan kanan pangeran dalam menjalankan aktivitas kerajaan. Ia terlihat masih muda. Usianya belum sampai menginjak kepala empat. Ia kemudian bergegas mendekati kerumunan yang ada di depan kamar Mile.


"Apa ada Nona?" tanya Han kepada Ara.


"Pejabat Han, tolong aku. Mereka melarangku untuk masuk ke dalam kamar ini. Seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan." Ara menuturkan.


Han terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah pintu kamar Mile.


"Tidak mungkin mereka bersikeras jika tidak terjadi sesuatu di dalam. Terlebih aku bermimpi suamiku dibawa masuk ke sini. Tolong aku Pejabat Han." Ara meminta lagi.


Sebelumnya Han telah diperintahkan oleh pangeran untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Ara dan juga Mile. Kini saatnya bagi Han untuk membuktikan kecurigaan pangeran. Ia kemudian mendobrak pintu kamar Mile untuk membuktikannya. Saat itu juga semua pelayan terdiam dan tidak ada yang berani melawan.


Ya Tuhan, tolong tunjukkan kebenaran kepada kami.


Ara harap-harap cemas. Bersamaan dengan itu pintu kamar Mile pun terbuka. Seketika Ara segera masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan suaminya. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat tubuh seorang wanita sedang merangkak di atas tubuh suaminya. Ara tak menyangka dengan apa yang dilihatnya.


"Wanita laknat!!!"


Ara segera berlari. Menarik rambut wanita itu hingga wanita itu kesakitan. Jantung Ara berdegup kencang saat melihat pemandangan yang terjadi. Begitu juga dengan wanita itu yang kepergok oleh Ara. Ia tak menyangka jika Ara akan datang.


"Wanita iblis!" Ara menampar pipi wanita itu yang tak lain adalah Mile. Ia tidak lagi ingat di mana dirinya sekarang. "Berani-beraninya kau menyentuh suamiku!" Ara kehilangan kendali. Ia menarik Mile lalu mendorongnya hingga membentur dinding.


"Akh!" Mile pun kesakitan.


"Astaga?!"


Han segera masuk begitu melihat Ara main hakim sendiri. Ia ingin melerainya. Tapi tidak jadi karena melihat Rain tak sadarkan diri di atas kasur Mile. Ia melihat sendiri bagaimana tamu kerajaan diperlakukan tak pantas oleh Mile. Jubah Rain terlepas, pria itu bertelanjang dada dengan resetling celana yang sudah terbuka.

__ADS_1


"Hentikan! Sakit!"


Sementara itu Mile tidak punya persiapan untuk melawan Ara. Sedang Ara terus saja menghakiminya. Mile jadi bulan-bulanan istri sang penguasa.


"Binasalah dirimu!"


Ara pun semakin naik pitam, ia main hakim sendiri. Ia menjambak, menarik rambut Mile lalu menghempaskannya ke dinding kamar. Tak ayal keributan itu memancing penghuni istana lainnya. Keributan terjadi di saat pangeran sedang tidak berada di istana.


"Rasakan ini!"


Ara melemparkan Mile ke sudut kamar. Mile terjatuh, keningnya ternyata membentur meja. Sehingga terlihatlah darah segar yang mengalir dari keningnya. Di saat itu juga Han segera beralih ke Ara lalu menghentikannya.


"Nona, sudah." Han menahan Ara agar tidak bertindak lebih anarkis lagi.


Beberapa saat kemudian...


Semoga Tuhan melaknatnya.


Jika bukan karena pejabat Han, tentu saja dia sudah mati di tanganku. Aku tidak peduli lagi sedang berada di mana dan di dunia siapa. Aku tidak rela jika suamiku ada yang menyentuhnya. Sekalipun dia seorang putri yang berkuasa di negeri ini.


Kasihannya suamiku ....


Kini aku sedang menunggu suamiku tersadar. Beberapa tabib datang membantu melakukan pengecekan tubuhnya. Mereka menggunakan jarum dan api untuk mengobatinya. Tak lama kemudian, suamiku pun mulai tersadar.


Syukurlah ....


"Ara ...." Namaku lah yang pertama kali disebut olehnya.


"Sayang." Aku pun bergegas mendekatinya.

__ADS_1


Para tabib memundurkan langkah kakinya setelah berhasil membantuku. Mereka membiarkanku sejenak untuk berbicara kepada suamiku. Aku pun dengan segera menggenggam tangannya agar dia menyadari jika aku berada di sisinya.


"Ara ... jangan pergi." Dia berkata lagi dengan suara yang lemah.


"Sayang, aku di sini. Aku tidak ke mana-mana."


Kukecup tangannya seraya kupegang erat.


Wajah suamiku tampak pucat pasca kejadian tadi. Entah apa yang terjadi, sepertinya sesuatu telah dilakukan oleh putri itu terhadap suamiku. Baru kali ini aku melihatnya lemas. Nada suaranya pun paling rendah yang pernah kudengar. Mungkin dia diberikan obat bius oleh wanita itu sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Nona, suami Nona sepertinya meminum teh penaik gelora. Saya sarankan untuk segera dimandikan." Salah satu tabib berkata padaku.


Aku menoleh ke arah tabib. "Dimandikan?" Aku merasa heran.


"Benar Nona. Sari teh itu kemungkinan sedang melaju di aliran darah tuan. Saya khawatir akan berdampak buruk jika tidak segera dimandikan. Tuan bisa tidak terkendali," tutur tabib yang lain.


Aku tertegun. Teh penaik gelora? Apa ini semacam obat pemancing gairah jika di duniaku? "Em, baik. Kalau begitu tolong bantu aku untuk menyiapkan airnya. Terima kasih, Tabib." Aku menyetujui saran dari mereka.


Tentu saja mendengarnya semakin membuatku geram kepada wanita yang disebut putri itu. Tak habis pikir dengan kelakuannya. Bisa-bisanya dia memberi suamiku obat penaik gelora. Sungguh aku kesal bukan main. Rasanya tanganku ini ingin sekali menghabisinya.


Tenanglah Ara, semuanya sudah baik-baik saja.


Ara tak menyangka jika akan mengalami kejadian seperti ini, di mana suaminya sendiri harus menjadi korban kebiadaban seorang wanita yang disebut putri. Ia melihat sendiri bagaimana putri itu ingin melakukan hal tak pantas kepada suaminya. Tak ayal emosi Ara membumbung tinggi. Ia tidak lagi peduli sedang berada di mana dan di dunia siapa. Ia lampiaskan seluruh rasa kesal dan amarahnya kepada putri itu.


Mile sendiri kini mengalami luka akibat perbuatannya. Ia tengah diobati para pelayan wanita suruhan tabib. Ia tidak menyangka jika rencananya akan gagal. Ia merasa telah salah perhitungan.


Perjalanan yang Ara lalui untuk bersama Rain tidaklah mudah. Aral rintangan selalu saja datang, menghadang cintanya. Hingga akhirnya cinta Ara semakin dalam kepada sang penguasa. Sehingga ia tidak rela jika ada yang merebut Rain darinya. Begitu juga dengan Rain yang kini menganggap Ara sebagai belahan jiwanya. Terlebih gadis asal Indonesia itu kini tengah mengandung anaknya. Hanya Ara lah yang bertahta di dalam hati Rain. Tidak ada wanita lain.


Saat ini Rain belum bisa banyak bicara karena baru saja tersadar. Keadaan sekitar juga belum memungkinkan. Rain baru tersadar pasca kejadian yang tak diinginkan. Para tabib pun bekerja keras agar Rain dapat segera kembali bugar. Mereka lekas-lekas menyiapkan air untuk pemandian Rain. Mereka meyakini jika air pemandian bisa menetralkan tubuh Rain. Percaya tak percaya, Ara pun mencobanya.

__ADS_1


__ADS_2