
Ara menggelengkan kepala. Ia menutupi kekhawatirannya.
Rain menarik tubuh istrinya. Ia rebahkan di dadanya. "Jangan khawatir. Tinggal dua gantungan lagi kita pasti bisa melaluinya." Rain ternyata menyadari apa yang sedang dipikirkan Ara.
Ara mengangguk pelan. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Kakek Ali waktu itu. "Sayang, Kakek Ali sempat mengatakan jika saat gantungan bulan terlepas adalah saat terberat untuk kulalui. Aku khawatir dengan gantungan bulan ini." Ara mengungkapkan kegelisahan yang melanda hati dan pikirannya.
"Em, benarkah? Aku lupa-lupa ingat dengan apa yang kakek Ali katakan." Rain mencoba mengingatnya kembali.
Ara mengangguk. "Kakek Ali bilang, gantungan bintang tidak terlalu masalah. Hanya saja gantungan bulan ini cukup berat untukku. Kira-kira peristiwa apa yang akan terjadi ya?" Ara memikirkannya.
Rain mengecup kening istrinya. "Sudah, jangan khawatir. Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-NYA. DIA lebih tahu yang terbaik untuk kita. Percayalah." Rain menguatkan hati Ara.
Ara menarik napas dalam-dalam. Ia memeluk suaminya. "Sayang, berjanjilah jika kau akan selalu setia padaku, menemani dan menguatkanku," pinta Ara kepada Rain.
Rain menoleh ke istrinya. "Tentu saja, Sayang." Ia tersenyum. "Aku akan selalu setia berada di sisimu. Sudah, ya. Jangan dipikirkan." Rain menenangkan.
Ara merasa cemas dengan gantungan bulan yang belum terlepas. Ia mengira-ngira hal apa yang akan terjadi nantinya untuk melepas gantungan bulan ini. Ia dilanda kekhawatiran akan masa depan. Namun, ia juga tidak dapat menolak jalan yang ditakdirkan. Untungnya Rain selalu menguatkan sehingga ia tidak terlalu tertekan. Rain menunjukkan sikap yang bertanggung jawab dan pengertian. Tidak hanya secara lahir, namun juga secara batin. Dan hal itu cukup untuk menenangkan hati Ara.
Pagi ini keduanya akan memulai hari di Kota Turki. Yang mana hari ini juga Rain akan menelepon Owdie untuk meminta bantuan. Tapi, apakah Owdie benar-benar bisa dipercaya untuk tidak membocorkan keberadaan Rain? Dan apakah Owdie bisa membantu Rain dalam menjalani kehidupan baru di Turki?
Washington DC, pukul tiga pagi...
Dering ponsel berbunyi di kamar seorang kakek tua keturunan USA. Ia tampak terganggu dengan bisingnya suara telepon hingga harus terbangun dari tidurnya. Ia lantas mengambil ponsel itu dari meja kasurnya. Ia pun segera mengangkat telepon itu. Tak lama suara seseorang dari seberang pun terdengar.
__ADS_1
"Tuan Sam, maaf mengganggu pagi-pagi." Seorang pria menelepon Sam pagi ini.
"Ada apa? Apakah ada kabar untukku?" tanya Sam ke seseorang itu.
Seseorang itu terlihat menghisap cerutunya di tengah kegelapan. "Aku hanya ingin memastikan virus yang dibuat oleh cucumu sudah dapat didistribusikan. Apakah sudah ada kabar?" Seseorang itu bertanya kepada Sam.
Seketika Sam menyadari hal apa yang ingin ditanyakan oleh sosok itu sampai harus meneleponnya pagi-pagi. Sam pun beranjak bangun, duduk di kepala kasurnya. Merebahkan punggung dengan bantal sebagai sandaran. Ia kemudian membaca pesan masuk yang ada di ponselnya.
"Virusnya sudah jadi. Tapi aku ingin kesepakatan yang berarti. Apa Anda bisa mengaturnya?" tanya Sam yang tidak mau rugi.
Sosok itu beranjak dari duduknya. Ia menatap pemandangan kota dari balik jendela ruangannya. "Jangan khawatir. Jika virus ini berhasil, kau akan mendapatkan sepertiga keuntungannya, Tuan Sam." Sosok itu berjanji.
Sam pun mengerti jika ia harus segera memastikan virus itu sudah siap untuk didistribusikan. "Baik. Akan kukabari secepatnya." Sam mematikan teleponnya.
Menjelang siang di Istanbul, Turki...
Angin sepoi-sepoi melanda kawasan perkotaan. Sebuah kota yang dekat dengan kawasan perairan. Tak ayal kota ini memiliki banyak armada angkutan laut yang bisa dilihat dengan leluasa. Di kota ini juga terdapat berbagai destinasi wisata yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Banyak sejarah terukir tentang peradaban dunia dari masa ke masa.
Di kota ini banyak jajanan pasar di sepanjang jalan pertokoan. Banyak orang yang sudah lanjut usia bermain catur di tepi jalan untuk mengisi waktu luangnya. Para penduduknya juga ramah-tamah dan tidak mengenal perhitungan terhadap harta dunia. Mereka memiliki sisi kedermawanan yang luar biasa. Jika ada yang meminta, mereka akan memberikannya sekalipun amat membutuhkan. Tak ayal kota ini menjadi kota istimewa setelah kota Timur Tengah lainnya.
Ara dan Rain kini baru saja keluar dari bank yang ada di kota. Mereka mendepositokan sisa uangnya untuk membuat buku tabungan atas nama Ara. Hal itu dilakukan karena Rain tahu jika dibuat atas namanya akan memicu permasalahan. Rain masih ingin merahasiakan keberadaannya dari pihak-pihak yang tidak diinginkan.
Kini sepasang suami istri itu tengah mencari penjual roti untuk mengganjal perutnya. Mereka berjalan bergandengan tangan di sepanjang jalanan kota. Rain pun mengingat-ingat kembali sesuatu hal yang pernah terjadi di kota ini. Tak lama ia pun menemukannya.
__ADS_1
Ibu ....
Dari seberang jalan Rain melihat sesosok wanita paruh baya sedang menjaga gerobak kecilnya. Gerobak itu berisi roti khas Turki dengan berbagai macam selai dan juga manisan. Sontak Rain menggenggam tangan istrinya lalu menyeberangi jalan bersama. Ara pun merasa bingung dengan sikap suaminya.
"Sayang, ada apa?" Ara tampak bingung.
Rain diam. Ia belum sempat menceritakan apa yang terjadi di telaga seribu warna saat pangeran membantunya, menemukan siapa kedua orang tuanya. Ara pun tampak menurut kepada Rain. Ia mengikuti langkah kaki sang suami menuju gerobak roti yang ada di seberang sana.
Ibu, aku datang ....
Semakin lama langkah kaki mereka semakin cepat. Hingga akhirnya Rain sampai di hadapan seorang wanita paruh baya yang ia rasa adalah ibu kandungnya. Kenangan akan pertemuan pertamanya dengan wanita itu pun teringat kembali di benaknya. Dimana Rain merasa lapar dan ingin mengganjal perutnya dengan roti yang dijual di pinggir jalan. Rain turun dari mobil lalu membeli roti itu dari ibu tersebut...
"Ibu, aku ingin membeli roti. Berapa harganya, Bu?" tanya Rain sambil menunjuk roti yang ia inginkan.
"Oh, harganya hanya dua puluh lira, Nak." Ibu itu menyebutkan.
Rain pun merogoh saku celananya. "Aku beli tiga, Bu." Ia menyerahkan seratus lira kepada ibu tersebut.
Ibu itu pun mengambilkan roti pilihan Rain. Rain kemudian menerima roti itu lalu segera pergi, tanpa peduli jika masih ada kembaliannya.
"Nak! Kembaliannya!" Ibu itu berteriak memanggil Rain.
"Ambil saja, Bu. Terima kasih." Ia pun dengan segera masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1