
"Tuan Sam, Anda tidak apa-apa?" Pria itu ingin menolong.
Sam memberi kode dengan tangannya jika ia baik-baik saja. Ia kemudian duduk di kursi kebesarannya. Ruangan super mewah berisi properti berlapis emas itu tampak tak bisa menahan rasa keterkejutannya.
Nick ... ternyata ....
Sam merenungi kabar ini. Ia menarik napas dalam-dalam. Tak percaya jika Nick, cucu kandungnya sendiri telah terlibat dalam kecelakaan kapal pengeboran minyak Rain.
"Lalu bagaimana spekulasi terakhir kasus ini?" tanya Sam lemah. Ia tampak tak bertenaga.
Pria itu melanjutkan. "Tuan Nick disinyalir mengambil andil dalam meledaknya kapal pengeboran minyak tuan Rain. Karena sebelumnya memang datang ke rumah kepala pengeboran minyak itu. Kemungkinan besar tuan Nick jugalah yang melakukan pembunuhan terhadap kepala pengeboran minyak untuk menghilangkan jejaknya." Pria itu menuturkan kembali.
"Astaga ...." Seketika Sam memijat dahinya sendiri. Ia merasa pusing dengan laporan ini.
"Saat ini pemerintah Dubai tengah didesak oleh pihak media untuk mengusut tuntas kasus dan menghukum seberat-beratnya dalang meledaknya kapal pengeboran minyak. Karena hal ini berdampak buruk bagi negerinya. Kini Dubai mengalami kekurangan pasokan minyak. Pihak Timur Tengah yang lainnya pun seperti akan segera memutus kerja samanya dengan organisasi." Pria itu menuturkan.
"Apa?!!" Bagai petir menyambar di siang hari. Sam tidak menyangka akan mendengar kabar ini.
"Ya, Tuan. Mereka amat mengkhawatirkan kerja sama akan berdampak buruk seperti yang terjadi di Dubai. Pemutusan kontrak kerja sama tercium oleh salah satu agen kami yang diutus ke sana. Sepertinya pihak organisasi akan mengalami masa-masa kritis karena hal ini. USA pun tidak dapat memainkan perannya untuk tetap memaksa negara penghasil minyak mengirim bahan bakar ke sini." Pria itu mengungkapkan temuannya.
Sam menghela napasnya. Ia tampak amat pusing mendengar hasil investigasi tim yang diutusnya. Ia tidak menyangka jika dampak yang ditimbulkan akan separah ini. Setelah menderita kerugian besar, ia juga harus berada di ujung tanduk organisasi.
Perlu diketahui, Sam hampir menguasai semua kerja sama ladang minyak di Timur Tengah terkecuali Turki. Ia membuat kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak, yang mana organisasi bertanggung jawab penuh terhadap kelancaran pengeboran. Sedang pemilik ladang minyak mendapatkan hasil bersih keuntungan.
Kini berita yang disampaikan itu membuat Sam harus memutar otak dengan cepat untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Jika pihak Timur Tengah memutuskan semua kontrak kerja samanya, itu berarti organisasi tak lama lagi akan runtuh karena tidak mempunyai pegangan. Bagaimanapun minyak merupakan bahan bakar pokok dalam semua sarana transportasi. Sam pun harus memikirkan cara lain agar organisasi tetap berdiri.
"Jalankan operasi rubah merah. Jangan sampai mereka membawa paksa Nick untuk dihukum di sana." Sam akhirnya mengambil keputusan.
"Tapi, Tuan—" Pria itu tampak keberatan.
__ADS_1
"Tidak ada cara lain. Mereka bisa mandiri sekalipun tanpa kerja sama dari kita. Tapi, jangan biarkan cucuku sampai mendapat hukuman di sana. Lakukan apa yang kalian bisa. Kalau perlu, tutup mulut media agar tidak lagi memberitakan kejadian ini." Sam memerintahkan.
Pria itu seperti tak habis pikir. "Tapi banyak biaya yang akan dikeluarkan Tuan." Pria itu mengajak Sam memikirkan ulang tindakan.
"Aku tak peduli. Jangan sampai ada cucuku yang mati selama aku masih hidup di sini." Sam bersikeras dengan pemikirannya.
Pria itupun mengangguk, mengerti keinginan Sam. "Baik. Kalau begitu saya akan segera menjalankan operasinya. Permisi Tuan." Pria itu segera undur diri dari hadapan Sam.
Sam mengangguk. Ia membiarkan pria itu pergi dari ruangannya. Ia kemudian menelepon seseorang untuk meminta bantuan. Yang mana tak lama teleponnya itu diangkat oleh seberang. Sam pun segera menuturkan keinginannya.
"Kabarkan kepada pejabat tinggi USA, aku ingin mengadakan rapat malam ini," pintanya kepada seseorang di seberang telepon.
"Baik, Tuan." Sosok itu pun memenuhi permintaan Sam.
Sam seperti tidak mempunyai pilihan untuk melindungi Nick dari jerat hukum Dubai. Ia harus melakukan operasi rubah merah untuk meredam hal yang sedang menjadi topik hangat di negeri tersebut. Yang mana operasi kali ini mengeluarkan biaya yang tidaklah sedikit. Sam pun harus menanggung beban organisasi demi membela cucunya dari hukuman. Namun, apakah Nick akan berubah setelah ditolong kakeknya?
Pagi hari yang indah telah datang dan mengantarkan sepasang suami istri ini untuk duduk bercengkrama ria di teras depan padepokan. Keduanya tengah menikmati sinar mentari pagi yang menghangatkan. Sekaligus berjemur untuk menyehatkan badan. Yang mana secangkir teh hijau menemani kebersamaan mereka. Satu cangkir teh itu diminum bersama.
"Sayang."
"Hm?"
"Apa kau ingat apa saja yang dilakukan wanita itu kepadamu?" Ara ingin tahu cerita yang sebenarnya.
Rain tersenyum. "Masih ingin dibahas?" tanya Rain kepada istrinya.
Ara mengangguk.
"Bagaimana jika ada yang ngambek nanti?" tanyanya lagi kepada sang istri.
__ADS_1
"Ih! Aku kan ingin tahu, masa tidak boleh?!" Ara menggerutu sambil memasang wajah sebal.
Rain duduk lebih mendekat ke istrinya. "Tu kan, belum cerita saja sudah ngambek seperti ini?" Ia meledek istrinya.
Ara malu sendiri. Saat itu juga Rain menarik Ara agar merebahkan diri di dadanya.
"Aku tidak ingat apa-apa setelah meminum teh itu. Kesadaranku seperti hilang." Rain menceritakan.
"Meminum teh?"
"Ya. Sebelumnya putri itu mengajak ku meminum teh, tapi aku menolaknya. Dan entah kenapa dia mengejarku lalu menepuk pundakku ini. Setelah itu aku merasa tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri," terang Rain.
Seketika Ara merasa aneh. "Lalu?" tanya Ara lagi.
"Aku diminta olehnya untuk meminum teh yang telah dia buat. Dan entah mengapa, otakku tidak bisa memerintahkan tubuhku untuk menolaknya. Aku menurut saja." Rain menjelaskan lagi.
"Astaga ...." Saat itu juga Ara menyadari sesuatu.
Jadi ini yang dimaksud oleh nenek pemberi gelang padaku? Ternyata wanita itu menggunakan kekuatannya untuk membuat suamiku patuh. Tapi, apakah ini sejenis sihir?
Ara bertanya dalam hatinya.
"Sungguh aku tidak ingat apapun, Sayang. Ingatanku terakhir kali adalah meminum teh itu. Lalu tak lama aku seperti hilang kesadaran dan berada di dimensi lain. Aku tidak bisa merasakan apapun. Bahkan untuk menggerakkan tanganku sendiri aku tidak mampu. Tapi anehnya, aku seakan bisa melihat tubuhku sendiri. Mungkin seperti mengalami sleep paralysis." Rain menceritakan.
"Ketindihan maksudmu?" Ara ingin memperjelas.
"Ya, mungkin. Aku tidak tahu apa namanya jika di negerimu. Yang jelas aku merasa seperti berada di alam mimpi, namun aku tersadar jika sedang bermimpi. Entah bagaimana aku harus menggambarkannya. Hahaha." Rain akhirnya tertawa sendiri.
Ara menelan ludahnya. Ia tak habis pikir jika suaminya akan mengalami hal semacam ini. Ia merasa curiga dengan sesuatu yang telah dilakukan oleh Mile terhadap suaminya.
__ADS_1