
Sesampainya di Pantai Jumeirah...
Kami tiba di depan salah satu warung vendor pantai ini. Kata tuanku sih pantai paling terkenal di Dubai. Pasirnya berwarna keemasan dan air lautnya begitu biru. Tapi tidak tahu jika belum melihatnya langsung. Aku tidak begitu percaya jika belum membuktikannya sendiri.
"Kita sudah sampai, Ara."
Tanpa ba-bi-bu tuanku segera melepas jas dan sepatunya. Aku pun hanya bisa memperhatikannya saja. Tapi yang uniknya, dia selalu membawa topi bundarnya ke mana-mana. Mungkin topinya mempunyai sejarah yang luar biasa sampai harus dibawa ke manapun.
"Hei, diam saja? Nanti lama-lama kucium juga dirimu." Dia seperti mengancamku.
"I-iya, Tuan."
Aku segera melepas sandal lalu keluar dari mobil. Sedang tas dan ponsel kubiarkan di dalam mobil saja. Karena kulihat tuanku juga tidak membawa apa-apa.
Pemandangan lepas pantai ini memang tidak biasa. Ada sebuah gedung tinggi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai. Sekeliling pantai juga dipenuhi oleh gedung-gedung bertingkat tinggi. Aku jadi penasaran, di mana padang pasirnya?
"Tu-tuan?!!"
Di tengah lamunanku, aku dikagetkan olehnya. Dia tiba-tiba menggendongku tanpa aba-aba terlebih dahulu. Dan kini dia membawaku ke pesisir pantai.
"Tuan, turunkan aku!"
Sebenarnya aku tidak mau turun dari gendongannya. Gendongan ala pengantin ini membuatku merasa menjadi pengantin sungguhan. Kulihat dia juga tersenyum sambil memperlihatkan gigi-gigi putihnya padaku. Dia dengan santai menggendongku ke tepi pantai. Dan semakin mendekati, semakin cepat langkah kakinya. Lalu...
"Aaahh!!" Dia menceburkanku. Seketika pakaian dan rambutku basah semua. "Tuaaan!!!" Aku pun kesal sejadi-jadinya.
"Hahahaha. Anggap saja ini hukuman bagimu karena telah menyebalkan." Dia tertawa puas di hadapanku.
"Apa?!!"
Tak ingin kalah darinya, kuseruduk saja dia. Kuseruduk bak banteng sampai dia jatuh tercebur ke dalam air.
"Hah! Rasakan!" Aku bertolak pinggang di depannya, merasa puas karena telah berhasil membalas ulahnya.
"Araaaaa!" Dia beranjak berdiri. Seketika aku jadi takut sendiri karena melihat roman pembalasan darinya. "Kau ini memang benar-benar menyebalkan." Dia menarikku lalu menceburkan diri bersama ke air laut.
"Tuaaaan!!" Dia seperti ingin membuatku tenggelam.
Tak tahu kenapa aku merasa aneh sekali. Aku bisa sedekat ini tanpa malu atau sungkan kepadanya. Dia juga seperti tidak keberatan dengan sikapku, seolah-olah aku ini memang benar kekasihnya. Sungguh sampai detik ini aku masih belum percaya jika dia ingin menikahiku.
"Hah, hah, hah."
Aku menolakkan kaki ke dasar lalu muncul ke permukaan untuk menghirup udara. Cepat-cepat mengambil napas lalu berjalan ke tepian.
"Hei, tunggu!" Dia pun menyusulku.
"Tuan, jangan seperti ini. Nanti aku bisa mati," gerutuku padanya.
"Lalu bagaimana?" tanyanya yang kini berjalan bersampingan denganku.
__ADS_1
"Lembutlah sedikit. Aku ini manusia," kataku yang masih terengah-engah karena ulahnya.
Seketika dia terdiam. "Em, baiklah. Tapi ajari aku bagaimana caranya," pintanya.
"Hei, kau ini!" Kupukul saja dadanya. Seketika itu juga dia memegang tanganku. "Tuan ...." Dia menatapku dalam.
"Ara, sudahi kesenjangan ini. Aku ingin lebih dekat denganmu. Bukan sebagai tuan dan asistennya, tapi sebagai suami istri." Dia mengungkapkan keinginannya.
"Tuan ...."
"Aku ... aku ...." Dia seperti ingin mengucapkan sesuatu. "Aku ...." Dia seperti tidak mampu melanjutkan perkataannya.
Ombak menerpa kami yang kini berdiri berhadapan. Tubuh tingginya membuatku merasa terlindungi dari niatan jahat orang lain. Dan entah mengapa aku menghambur begitu saja ke pelukannya.
"Tuan ...." Aku seperti sedang mabuk kala ini.
"Ara ...."
Kudengar dia menyebut namaku, lembut sekali. Dan kurasakan sentuhan tangannya membelai rambutku yang dibiarkan tergerai. Lambat laun dia membalas pelukanku, memelukku dengan erat. Aku pun tersenyum bahagia sambil mendengarkan alunan merdu jantungnya.
"Tolong percaya padaku. Tidak ada wanita lain yang sedekat ini selain dirimu, Ara." Dia mengatakannya sambil memelukku.
"He-em." Aku mengangguk.
"Aku tidak peduli dari mana kau berasal, apa yang sudah terjadi di masa lalumu, selama kau mencintaiku." Dia mengecup kepalaku.
Dia mengangguk. "Kita jangan bertengkar lagi, ya," pintanya.
"He-em." Aku pun mengangguk lalu kembali memeluknya.
Entah setan apa yang merasuki kami, siang ini kami mencurahkan perasaan yang ada di hati. Aku berharap ini bukanlah mimpi karena aku benar-benar ingin bersamanya.
...
Siang ini kami menghabiskan waktu bermain di tepi pantai sampai sore hari. Berenang bersama, bermain air dan juga berfoto-foto. Dia tanpa malu meminta foto padaku, berpose bersama topi bundar kesayangannya di depan layar ponselku ini.
"Tuan, apa yang kau lakukan?!"
Kulihat dia membuka kancing kemeja putihnya lalu menurunkan celana jeans-nya hingga hampir saja terlihat apa yang harusnya tersembunyi.
Dia ingin pamer padaku apa?
Tak lupa kami juga berfoto bersama, menambah koleksi kebersamaan ini. Tapi yang membuatku terkejut, di salah satu jepretan kamera ponsel dia berani mencium pipiku. Rasanya senang bercampur bingung. Tak percaya jika hal ini akan terjadi pada kami.
"Nakal, ya!" Aku memukulnya dan dia pun menjulurkan lidahnya, seperti mengejek.
"Ara." Dia kemudian mulai serius saat kami sudah selesai berfoto-foto.
"Ya?"
__ADS_1
"Terimalah ini sebagai tanda keseriusanku."
Dia berlutut dengan satu kaki di depan. Aku baru menyadari jika dia mempunyai perasaan yang sama saat mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dia ... memberiku cincin.
"Tuan ...."
Cahaya matahari seolah merestui kami. Ombak laut berkejaran menjadi saksi atas keseriusan ucapannya yang ingin mengajak ku menikah. Aku pun terharu dengan kejutan yang dia berikan. Hampir saja aku menangis dibuatnya.
"Apa ini serius?" tanyaku tak percaya.
Dia mengangguk sepenuh hati.
Tuan ... ini seperti mimpi saja.
Kuulurkan tangan kiriku dan dia pun tersenyum senang. Dia memasangkan cincin di jari manis ini lalu berdiri dan memintaku memakaikan cincin di jari manisnya juga. Dengan gemetar aku memakaikannya. Hari ini kami resmi jadian.
Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari doaku?
Rasanya senang bukan main. Kami pun berpelukan di depan pengunjung pantai lainnya. Tanpa malu, tanpa ragu. Kami mengutarakan perasaan masing-masing di tepi pantai ini. Biarlah langit dan bumi menjadi saksi. Untuk ke depannya semoga aku bisa lebih memperbaiki diri.
"Mulai hari ini aku tidak akan sungkan lagi padamu, Ara." Dia membelai rambutku.
"He-em." Aku mengangguk di pelukannya.
"Jika ada masalah jangan dibiarkan berlarut-larut, ya. Aku tidak bisa tidur nyenyak di malam hari," katanya lagi.
Seketika aku tersadar jika dia juga memikirkanku. "Baik Tuan," sahutku.
"Tuan?!" Dia segera mendorongku.
"Em, maaf. Maksudku, Sayang," kataku mengoreksi sambil nyengir tak karuan di depannya.
"Kau ini memang menyebalkan." Dia mencubit pipiku.
"Aw, sakit!" Kuusap pipiku segera.
"Salah sendiri pipimu menggemaskan." Dia tertawa di depanku.
"Dasar." Aku pun tidak dapat berbuat apa-apa selain mengusap pipiku yang terkena cubitannya.
"Kita bilas, ya. Habis ini melihat matahari terbenam." Dia memegang tanganku lalu mengajak ke tempat bilas pengunjung.
"He-em." Aku pun mengangguk seraya tersenyum.
Kami berjalan bersama menuju mobil lalu mengambil pakaian ganti. Kami bergantian membilas diri lalu makan di salah satu warung yang ada di sini. Kami mencoba seafood khas pantai ini. Dan rasanya memang luar biasa.
Aku tidak akan melupakan hari ini, Tuan.
Kami bak sepasang kekasih yang tanpa malu bersuap-suapan di warung makan, seolah dunia hanya milik berdua. Tak peduli ada yang melihatnya atau tidak, hari ini kami telah resmi jadian.
__ADS_1