Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Go Away From Me!


__ADS_3

"Tuan ...." Mile pun menyapa Rain dengan lembut.


Rain memutar tubuhnya ke arah Mile. "Putri?" Ia seperti setengah sadar saat menjawab panggilan Mile.


Aku harus cepat. Kalau tidak efeknya bisa segera hilang. "Tuan, mari ikut bersamaku." Mile mengajak Rain agar mengikutinya.


Rain pun mengangguk. Seolah tidak mampu untuk menolak.


Mile tersenyum tipis. Ia kemudian menggandeng tangan Rain. Rain pun menurut, mengikuti ke mana langkah kaki Mile pergi. Sang penguasa terlihat mulai terjebak ke dalam perangkap Mile.


Beberapa saat kemudian...


"Cepat letakkan di atas kasurku!"


Mile meminta kepada pelayan-pelayan pria agar menidurkan Rain di atas kasurnya. Pelayan-pelayan itu pun dengan sekuat tenaga menggotong Rain.


"Bagus!" Tak berapa lama Rain pun berhasil dibaringkan di atas kasur Mile. "Ini upah untuk kalian. Sekarang cepat keluar dari kamarku dan berjaga di sekitar. Cepat!" Mile memerintahkan kepada pelayan-pelayan itu.


"Baik Putri." Kedua pelayan pun menurut.


Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya rencana Mile berhasil dilakukan. Kini di atas kasurnya tengah terbaring seorang pria yang selama ini ia inginkan. Ialah Rain Sky.


Sungguh keberuntungan bagiku di saat istrimu tidak tahu jika kau sudah pulang ke istana. Dan juga ... si pangeran bodoh itu tengah pergi ke selatan tanpa banyak bertanya. Sehingga aku mempunyai banyak waktu luang untuk bersenang-senang denganmu, Pria Tampan.


Mile senang bukan kepalang. Ia amat bahagia karena apa yang dinantikannya akhirnya dapat terwujudkan. Ia kemudian mendekati Rain yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas kasurnya. Mile merasa hari ini adalah hari keberuntungannya. Ternyata dalam pengaruh mantra, Rain telah meminum teh yang sudah disiapkan oleh Mile. Alhasil, Mile pun berhasil membuat Rain tidak sadarkan diri lebih lama.

__ADS_1


Aku harap dia tidur sampai pagi di sini.


Mile kemudian duduk di pinggir kasurnya. Ia pandangi sosok pria yang selama ini mencuri perhatiannya. Ia merasa usahanya tidak sia-sia. Pengaruh mantra yang ia bacakan ternyata berefek mengalihkan kesadaran Rain. Sehingga kini Rain seperti orang mabuk. Setengah sadar dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya.


"Baiklah. Mari kita mulai permainan ini." Mile kemudian melepas jubah yang Rain pakai.


Mile tidak lagi memperhitungkan apa yang akan terjadi atas perbuatannya. Hasrat ingin memiliki, menggelapkan mata hatinya. Sehingga tidak peduli lagi terhadap apa yang akan terjadi nantinya. Ia tertarik kepada Rain, dan bahkan secara terang-terangan ingin menjadi yang ke dua setelah Ara. Ia tidak lagi memikirkan bagaimana dampak ucapannya bagi orang lain. Termasuk Ara yang merupakan istri dari Rain sendiri.


Sementara itu di padepokan...


"Astaga! Suamiku?!"


Ara terbangun dari tidurnya. Ia bangun dengan terkejut setelah mengalami mimpi yang tak diinginkan. Ia pun lekas-lekas duduk tegak di atas kursi, tempat dirinya merebahkan tubuh. Ia merasa kejadian yang dialaminya di dalam mimpi seperti benar-benar terjadi.


"Mengapa aku bermimpi putri itu membawa suamiku ke dalam kamarnya?" Ia bertanya-tanya sendiri. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Ara merasa mimpinya bukan hanya sekedar bunga tidur biasa. "Aku harus segera ke istana untuk memastikannya. Mimpi ini tidak boleh terjadi." Ia pun lekas-lekas beranjak pergi menuju istana.


Sayang, apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah pulang ke istana? Mengapa tidak segera kembali ke padepokan kita? Aku merindukanmu.


Semakin lama langkah kaki Ara semakin cepat. Ia ingin segera tiba di istana dan mencari di mana keberadaan suaminya. Jika benar mimpinya terjadi, pastilah ia akan menyesal seumur hidupnya karena tidak antisipasi. Namun, ia berharap semuanya masih bisa dicegah sebelum terlambat. Ara pun terus melangkahkan kakinya menuju istana Agartha. Tak lama kemudian, ia akhirnya sampai juga di pintu belakang istana.


Sementara itu di kamar Mile...


Kamar luas calon permaisuri ini dipenuhi dengan aroma-aroma dupa yang memabukkan. Mile sengaja membakarnya untuk berjaga-jaga agar Rain tetap dalam posisi setengah sadar dan tidak bisa melawan jika tiba-tiba terjaga. Mile sudah mempersiapkan semuanya sebelum menjalankan rencana. Ia tidak lagi memikirkan bagaimana perasaan pangeran jika mengetahuinya.


"Uuh ... dada bidang yang terbentuk dengan sempurna." Mile telah berhasil membuka jubah yang Rain kenakan. Kini suami dari Ara itu bertelanjang dada di depannya. "Mengapa kita baru bertemu sekarang, Tuan? Harusnya sejak dulu sehingga aku tidak bersama pangeran itu!" Mile bergumam sendiri.

__ADS_1


Mile kemudian membelai dada Rain dengan jari telunjuknya. Ia pun menggigit bibirnya sendiri kala merasakan setiap inchi permukaan dada Rain yang bidang. Hasrat dalam tubuhnya mulai berkobar. Nafsu pun mulai menyelimuti seluruh pikirannya. Mile tidak lagi bisa menahan diri dari api yang sedang menggelora. Ia kemudian melepaskan gaunnya sendiri di hadapan Rain yang sudah bertelanjang dada.


"Kau sangat tampan, Tuan. Tubuhmu kekar dan terbentuk dengan sempurna. Mata mana yang bisa berpaling darimu?" Mile merasa sebentar lagi akan segera mendapatkan surga dunianya. "Mari Tuan, kita nikmati permainan ini."


Gaun Mile akhirnya terlepas, terjatuh ke lantai kamar. Sehingga kini Mile hanya menggunakan kemben di bagian atasnya. Bahu mulus nan putih itu terlihat jelas dimilikinya. Belahan dadanya pun tampak menggoda gelora pria. Mile masih menggenakan celana panjang gaunnya, namun bagian atas tubuhnya terbuka. Ia kemudian mulai merayap di atas tubuh Rain. Merangkak perlahan-lahan sambil menikmati aroma tubuh sang penguasa. Ia ingin segera memulai permainannya.


"Biarkan aku masuk ke sini!"


Sementara itu Ara sudah tiba di depan kamar Mile. Ia ingin segera masuk ke dalam kamar, tapi dihalangi oleh pelayan-pelayan yang berjaga.


"Nona tidak boleh masuk. Ini ruangan pribadi calon permaisuri Negeri Agartha." Pelayan-pelayan itu mencegah Ara.


"Apa yang kalian sembunyikan sehingga aku tidak boleh masuk?! Menyingkir kalian!" Ara tetap memaksa untuk masuk ke dalam kamar Mile.


"Nona! Jangan paksa kami untuk melakukan kekerasan!" Pelayan pria ikut datang menghadang Ara.


Keributan pun akhirnya terjadi di depan kamar Mile. Tak terelakan lagi saat Ara bersikeras untuk masuk ke dalam kamar. Tapi, para pelayan itu dengan seribu cara menghalanginya. Ara pun semakin curiga dengan yang sedang terjadi. Ia merasa harus segera masuk sebelum semuanya lebih terlambat lagi.


"Lepaskan aku! Biarkan aku masuk!" Ara berontak saat kedua lengannya dipegangi oleh pelayan-pelayan itu.


"Nona, jangan paksa kami untuk bertindak lebih kasar!" Pelayan pria mengancam Ara.


Ara tidak menggubrisnya. Ia tidak peduli terhadap ancaman pelayan. Sekuat tenaga ia melepaskan diri agar bisa masuk ke dalam kamar.


"Hentikan!"

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada seorang pria berjubah hijau melihatnya. Ia meminta pelayan untuk segera menghentikan keributan.


__ADS_2