Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
My Fire


__ADS_3

Kami saling bertatapan, tepat di mata. Dia memperhatikan kedua bola mataku. Sedang aku memperhatikan kedua bola mata hijau kebiru-biruannya. Entahlah, aku bingung memastikan warna bola matanya ini. Yang jelas kedua bola matanya sangat indah, terlebih bulu matanya lentik dan juga lebat. Dia sempurna di mataku.


"Tuan, sebaiknya kita jangan seperti ini." Aku beranjak bangun darinya.


"Ara ...." Dia juga ikut bangun.


"Tuan, kau tahu. Kau selalu menggodaku. Berhentilah bersikap seperti itu! Itu sangat menggangguku!" seruku padanya.


"Hm, jadi kau merasa tergoda?" Dia seakan berpikir.


"Bu-bukan itu maksudku. Tapi bisakah kau bersikap biasa saja?" Aku menutupi isi hati.


"Salah sendiri tidak mau cepat menikah. Jika terjadi sesuatu pun itu bukan salahku." Dia lalu berjalan melewatiku.


Tuan!!!


Entah mengapa aku merasa kesal dengan sikapnya. Dia seperti mengejek dan menyudutkanku. Ingin rasanya kukejar lalu kujitak kepalanya. Tapi rasa-rasanya itu tidak mungkin. Tubuhnya tinggi dan aku hanya sebahunya saja. Jadi jika ingin menjitak kepalanya, aku harus berjinjit dahulu. Dan selama aku berjinjit pastinya dia akan melakukan sesuatu padaku.


Awas dia, ya!


Kutahan rasa kesalku. Kulihat dia masuk ke dalam kamarnya. Tapi ... tidak jadi.


"Kau sedang memikirkan aku, bukan? Pikirkan saja sampai rasanya benar-benar tumbuh dan merekah," katanya lalu kembali masuk ke dalam kamar.


Diaaa!!! Apa dia sudah tahu bagaimana perasaanku yang sesungguhnya?!


Tak habis pikir dengan sikapnya, dia sekarang sudah berani mengejekku. Aku kesal sendiri jadinya. Kuputar otak dengan cepat, mencari cara untuk membalas ejekannya ini. Dan kutemukan sebuah cara jitu untuk membalas ejekannya.


Lihat saja, tuan. Kau akan merona malu dengan pembalasanku!


Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Rasa-rasanya aku harus kembali beristirahat daripada terus memikirkannya. Ya, sudah. Dia juga pasti sudah tidur di kamarnya.


Kumatikan lampu yang sedari tadi dihidupkan olehnya. Sepertinya dia memang sengaja menghidupkan lampu ruangan agar aku bisa dengan cepat menemukannya. Entahlah, aku tidak tahu apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.


Selamat tidur, Ara. Mimpi indah bersama bintang.


Kurebahkan diri di atas sofa lalu mulai merelaksasikan badan. Tak lama aku kembali memasuki fase delta dengan perlahan, mengetuk alam mimpi yang indah.


Beberapa jam kemudian...


Aku bangun pada pukul enam pagi. Cahaya matahari menyorot dari balik kaca jendela dan menyilaukan mimpi indahku. Semalam aku bermimpi berciuman dengan tuanku. Ciuman manis dan menggugah hati. Rasa-rasanya aku memang tercipta untuknya. Mungkin saja aku adalah tulang rusuknya yang bengkok. Tapi apa tidak salah, sampai harus jauh nyasar ke sini?

__ADS_1


Lekas-lekas aku pergi ke kamar mandi, membasuh wajah agar tidak terlihat kusut. Dan kulihat ada yang aneh di pagi ini. Tanpa kusadari tuanku sudah bangun dan kini dia berada di...


"Dapur?!! Tuan apa yang kau lakukan di sini?!" Aku terkejut melihatnya sedang merebus sesuatu.


"Tuan lagi, tuan lagi. Nanti lama-lama kau kucium, Ara." Dia mengambil sumpit lalu mengaduk sesuatu yang sedang direbusnya.


"Tuan?" Segera kudekati dia dan melihat apa yang sedang dimasaknya. Ternyata... "Pasta?" Aku bertanya padanya.


"He-em, ya. Aku tidak bisa masak, tapi pagi ini ingin membuatkan sarapan untukmu," katanya, yang seketika membuat hatiku cenat-cenut tak karuan.


Tuan ....


"Kau tahu, Ara. Selama ini aku selalu beli jadi. Maka dari itu tidak ada makanan di sini karena aku tidak bisa memasak." Dia meniriskan spagetinya.


Oh, jadi begitu ....


"Kakekku orang yang tidak mau ribet. Dia hanya mengajarkan kepada kami bagaimana caranya menguasai suatu kawasan, tapi tidak pernah mengajarkan bagaimana caranya memasak."


"Eh???" Aku jadi bingung sendiri.


"Kau tahu, pria di Eropa itu hampir semuanya bisa memasak. Mereka kurang berkenan jika wanitanya yang memasak. Maka itu kebanyakan koki seorang pria, bukan? Mereka rata-rata berasal dari sana." Dia menceritakan.


Sepertinya pagi ini adalah waktu untukku mengenalnya lebih dekat.


"Sayang, Ara. Sayang. Bukan tuan!" Seketika dia menjitak kepalaku dengan kepalan tangannya


"Aw! Sakit tahu!" Kuusap-usap kepalaku.


"Sakit, ya?" Dia menatapku, meninggalkan spagetinya. "Muach!" Dia lalu mencium bagian kepalaku yang dijitaknya. "Sudah?" tanyanya dengan tatapan memabukkan.


"Sayang." Aku mulai membiasakan diri memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Ya?" Dia segera menanggapi.


"Boleh aku menggigitmu?" tanyaku memberanikan diri.


"Menggigit? Kenapa tidak dicium saja?" Dia malah balik bertanya.


"Dasar, itu sih maumu!"


Aku berbalik, segera berjalan menuju pintu dan kutinggalkan saja dia di dapur. Lama-lama aku tidak sanggup jika terus berdekatan dengannya. Matanya, senyumnya, tawanya, wajahnya ... arrrgh! Benar-benar membuatku mabuk.

__ADS_1


Kuakui jika tuanku ini memiliki daya tarik yang tinggi. Dia juga memperlakukanku amat lembut, seperti kekasihnya. Tapi, sampai sekarang kami belum pernah berciuman secara tersadar penuh. Yang kemarin itu hanya karena tidak sengaja saja. Tapi, mimpiku semalam seperti mendorongku untuk segera mewujudkannya.


Aduh, pikiranku ....


Mungkin karena baru beranjak dewasa, rasa penasaran di dalam diriku ini begitu kuat. Ingin semuanya dicoba tanpa memikirkan masak-masak ke depannya. Mungkin inilah yang dinamakan darah muda, serba penasaran dan serba ingin mencoba.


Tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, kududuk saja di depan meja makan seraya mengotak-atik ponselnya. Dia sengaja meletakkan ponselnya di atas meja makan atau memang terlupa. Entahlah. Tanpa sengaja aku pun melihat percakapan grupnya.


Astaga! Astaga!


Aku terperanjat melihat percakapan di grup yang dinamakan Empire Earth ini. Dan karena tidak mau ketahuan, kulihat saja dari layar depan. Satu per satu aku mulai menemukan sesuatu tentangnya.


...


Nick : /Dia membawa gadis ke pesta untuk menutupi penyimpangan seksualnya, Kawan. Hahaha./


Seseorang bernama Nick seperti sedang membicarakan tuanku. Aku pun terus melihat percakapan mereka sebelum tuanku datang.


Byrne : /Hei, Nick. Jika Rain tahu dia bisa marah padamu./


Nick : /Aku tak peduli. Jika memang dia marah, kutinggal saja. Hahaha./


Seseorang bernama Nick ini sepertinya mengesalkan sekali. Dia tidak menghargai tuanku. Atau memang sedang bercanda?


AZ : /Hah, kalian ribut-ribut di hari Minggu membicarakan orang, sedang orangnya tidak ada./


Seseorang bernama AZ muncul di tengah percakapan.


"Ara?!"


Tiba-tiba tuanku menegur. Segera kuletakkan kembali ponselnya sambil mematikan lampu layar.


"Kenapa kau membelakangiku?" tanyanya seraya mendekat.


"Em, tidak. Tadinya aku ingin melihat video rekaman kita di pantai. Tapi sepertinya layar ponsel terkunci." Aku beralasan.


"Oh, kau ingin melihatnya." Dia mengambil ponselnya. "Ini. Lihatlah!" Dia lalu memberikan ponselnya padaku.


"Terima kasih," kataku.


"Spagetinya sudah jadi. Tapi aku belum membuat topingnya. Aku tidak bisa memasak." Dia secara halus meminta bantuanku.

__ADS_1


"Em, baiklah. Kubuat topingnya sebentar, ya."


Aku segera berdiri lalu berjalan cepat ke arah dapur. Ponselnya kuletakkan begitu saja di atas meja makan, berharap dia tidak mencurigai gerak-gerikku. Dan kulihat dari pantulan cermin dia seperti bingung melihat sikapku. Dia duduk di kursi lalu melihat-lihat ponselnya sendiri. Entah apa yang dia pikirkan, lebih baik aku segera membuatkan toping untuk spagetinya. Karena kalau tidak, aku bisa dijitaknya lagi.


__ADS_2