Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Blessing


__ADS_3

Seorang wanita tua membukakan pintu untuk Ara. Wanita itupun terkejut melihat siapa yang datang. Perawakannya seperti dikenal tapi wajahnya tampak berubah.


"Ibu!"


Ara pun segera memeluk wanita itu. Memeluk seorang wanita yang kulitnya sudah berkeriput, tulangnya melemah, dan rambutnya yang sudah beruban. Ara memeluknya dengan erat dan sepenuh hati. Air matanya berlinang tak lagi bisa tertahan. Rain pun di sisinya terharu melihat pemandangan yang terjadi.


Dia begitu menyayangi ibunya...


Entah mengapa dada Rain terasa sesak saat melihat pemandangan di depannya. Ia melihat dengan jelas bagaimana sang gadis begitu menyayangi ibunya. Ia merasa sedih sendiri. Sedih karena tidak dapat melakukan hal yang sama seperti Ara. Ia pun tertunduk untuk menutupi rasa sedih di hatinya.


"Ini, Ara?" Wanita itu bingung, tapi beberapa detik kemudian jantungnya mengenalkan siapa yang sedang memeluknya ini.


"Ibu, ini Ara."


Ara melepaskan pelukannya. Ia pegang lembut lengan sang ibu dan membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Ia kemudian mencium tangan ibunya sepenuh hati.


"Ya Tuhan, ini anak ibu?"


Seakan tidak percaya jika anaknya, wanita tua itu lalu memegang wajah Ara untuk memastikannya. Tak berapa lama hatinya membenarkan jika yang berada di hadapannya ini memang benar anaknya. Ia lalu memeluk Ara dan membiarkan air mata itu tumpah begitu saja.


Ara sangat menyayangi ibunya. Ia sadar benar jika tidak akan bisa besar begitu saja tanpa lembut kasih sayang ibunya. Dan kini banyak terjadi perubahan pada dirinya yang membuat sang ibu sempat tidak mengenalinya.


"Ibu, Ara pulang." Ara menangis di pelukan ibunya.


"Iya, Nak. Iya. Ini rumah kita." Ibunya pun berkata sambil beruraian air mata.


Rasa sesak melanda hati sang gadis. Ia amat bersyukur karena bisa bertemu kembali dengan ibunya. Tak berapa lama Ara pun tersadar jika sedari tadi Rain hanya diam saja.


Ara melepas pelukannya. "Ibu, kenalkan. Ini tuan Rain." Ara memperkenalkan sambil menoleh ke arah Rain yang berdiri di sisinya.


"Tuan Rain?" Sang ibu pun bingung


Rain menyenggol lengan Ara. "Rain saja, Ara." Rain mengingatkan.


"Astaga."


Seketika Ara tersadar jika kebiasaan itu belum bisa hilang dari dirinya. Sang ibu pun memperhatikan pria yang bersama anaknya. Pria itu kemudian melepas kaca matanya. Suasana haru pun berubah menjadi rasa canggung seketika.


"Em, ibu. Maaf, maksud Ara ini Rain." Ara meralatnya.

__ADS_1


Sang ibu pun mengerti. Dengan segera Rain melakukan apa yang Ara lakukan pada ibunya tadi, mencium tangan sebagai penghormatan.


"Saya Rain, Bu. Saya..." Rain menoleh ke Ara. "Saya punya niat baik dengan putri Ibu." Rain menjelaskan.


Seketika Ara tersipu, wajahnya merona merah. Sang ibu pun mengerti akan maksud Rain.


"Mari masuk, Nak Rain. Ayo, Ara." Sang ibu mempersilakan keduanya masuk ke dalam rumah.


Ara bersama Rain pun masuk. Rain lalu duduk di kursi rotan yang ada di ruang tamu. Sedang Ara mengikuti ibunya ke dapur untuk membuatkan minum.


"Ibu, biar Ara saja yang buatkan minum." Ara mencegah ibunya membuatkan minum untuk Rain.


Sang ibu pun menoleh. "Ara, pria di depan itu?" Sang ibu bertanya lebih jelas kepada anaknya.


"Dia calon menantu Ibu."


Ara berbisik kepada ibunya. Seketika sang ibu terkejut dan menutup mulutnya sendiri. Ia amat terkejut.


"Ya Tuhan, Ara. Dia..."


"Dia tampan sekali kan, Bu? Dia juga baik hati. Ara persembahkan untuk Ibu." Ara tersenyum sambil memeluk ibunya dari samping.


"Ah, Ibu bisa saja." Ara jadi malu sendiri mendengarnya.


"Ya, sudah. Buatkan minum, ya. Ibu mau ke ruang tamu." Sang ibu berkata kepada Ara.


"He-em." Ara pun mengangguk.


Sang ibu kemudian beranjak menemui Rain yang sedang duduk di ruang tamu. Sedang Ara membuatkan minuman untuk menemaninya ngobrol. Tak lupa ia sajikan martabak yang dibelinya tadi. Pagi ini Rain akan mengutarakan niat baiknya kepada ibu sang gadis.


Beberapa menit kemudian...


Ara datang membawakan tiga cangkir teh hangat untuk menemani obrolannya. Ia pun melihat pria yang duduk di seberang ibunya terlihat grogi dan tertunduk. Ara pun tersenyum melihatnya.


"Mari diminum tehnya."


Ara menyajikan teh ke atas meja. Saat itu juga sang ibu melihat ada makanan kesukaannya, martabak bangka. Seketika hatinya terenyuh melihat apa yang Ara bawakan untuknya.


"Ara sudah lama dengan Rain?" tanya sang ibu.

__ADS_1


Selesai menyajikan teh, Ara duduk di antara keduanya. "Satu bulan, Bu. Semenjak pergi. Ibu sudah baca surat Ara, kan?" tanya Ara kepada ibunya yang duduk di sebelah kiri. Sedang Rain duduk di sebelah kanannya.


"Hah ... waktu itu ibu kaget sekali karena tidak melihatmu keluar kamar seharian. Sampai akhirnya ibu mengetuk pintu dan ternyata pintunya tidak terkunci. Dan kemudian ibu menemukan surat darimu." Sang ibu menceritakan.


"Maaf ya, Bu. Ara terburu-buru. Tapi doakan untuk yang ini tidak." Ara memegang tangan ibunya lalu menoleh ke arah Rain.


Seketika Rain berdehem.


"Jadi kalian?" Sang ibu merasa pembicaraan semakin serius.


"Ibu, Ara akan segera menikah dengan Rain." Ara akhirnya mengungkapkan kepada ibunya.


"Ya Tuhan!" Sang ibu terkejut bukan main.


Rain pun ikut bicara. "Maaf Bu jika ini amat mendadak. Tapi Rain serius dengan Ara." Rain menambahkan.


Hati wanita berusia lima puluh tahun itu terenyuh sekaligus terharu. Ternyata anaknya pulang membawa calon menantu untuknya. Ia tidak menyangka jika anaknya akan segera melepas masa gadisnya.


"Nak Rain, ibu hanya punya Ara. Jika Nak Rain serius kepada Ara, tolong jaga Ara. Ibu menunggu kedatangan keluarga Nak Rain ke sini." Sang ibu merestui.


"Ibu, ini berarti?" Mata Ara pun berkaca-kaca.


"Jika jodoh Ara sudah datang, terimalah. Ibu merestuinya," kata sang ibu.


Sontak Ara mendekat lalu memeluk ibunya dengan erat. Ia tidak percaya jika sang ibu merestui pernikahannya dengan Rain.


"Terima kasih, Bu. Terima kasih." Ara tersenyum bahagia.


"Ya, selamat ya, Nak." Sang ibu mengusap kepala anaknya.


Akhirnya tanpa perlu menunggu lama, restu itu didapatkan oleh Ara dari ibunya. Tentunya hal ini membuat hati Rain ikut riang gembira. Hampir saja ia meneteskan air mata karena terharu. Usahanya membuahkan hasil yang manis dan tinggal menunggu langkah selanjutnya.


Segala puji bagi Tuhan semesta alam. Akhirnya restu bisa kudapatkan.


Rain amat bahagia, ia tersenyum dalam haru.


Sebentar lagi aku akan menjadi suamimu. Dan sebentar lagi akan kunyatakan rasa cintaku kepadamu. Tunggu aku, Ara...


Tepat pukul delapan pagi restu itu didapatkan keduanya. Ara pun segera meminta ibunya untuk bersiap-siap pergi bersamanya. Ada sesuatu hal yang ingin Rain berikan sebagai tanda keseriusannya. Dan akhirnya kebahagiaan itu telah tiba. Tanpa ada yang menyangka jika begitu cepat hingga membuat terpana.

__ADS_1


__ADS_2