
Dubai, 10.10 pagi...
Semilir angin menjelang siang terasa dingin tidak seperti biasanya. Dedaunan pepohonan taman yang rimbun juga mulai berjatuhan. Sepertinya hujan akan segera turun hari ini.
Langit cerah, tidak menunjukkan ada awan hitam. Tapi bukan berarti hujan tidak akan datang. Sama seperti yang Ara rasakan, ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal hatinya sedang terluka.
Kini ia duduk di kursi taman kampus seorang diri. Ia pun segera mengenakan sweternya karena merasa dingin.
"Hei, Ara." Seorang pemuda datang lalu duduk di sampingnya.
"Taka?" Ara pun menoleh ke arah pemuda tersebut.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya pria yang memang benar adalah Taka.
"Em, aku ... kurang baik sepertinya." Ara tersenyum seadanya.
"Apa ada sesuatu yang mengganjal hatimu?" Taka berusaha lebih dekat kepada Ara.
"Hah ... entahlah. Aku bingung." Ara menyandarkan punggung di kursi taman.
"Bingung? Karena apa?" tanya Taka lagi.
Ara terdiam sejenak. Ia tatap birunya langit di angkasa. Hatinya gundah-gulana karena ucapan Jane tadi pagi. Ia belum bisa melupakan kejadian yang membuat hatinya terluka.
"Apakah cinta tidak harus memiliki?" Ara asal bertanya kepada Taka.
"Hah?!" Taka bingung seketika.
"Em, maaf." Ara segera menatap ke depan. "Sepertinya aku sedang tidak enak badan." Ara beralasan sambil memegang tengkuk lehernya sendiri.
"Ara, kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Ceritakan saja padaku. Mungkin dengan berbagi perasaanmu akan lebih tenang." Taka menawarkan.
Keduanya duduk berjauhan di kursi taman kampus. Tapi, mereka terlihat sudah dekat layaknya teman lama saja. Taka membuka diri agar Ara tidak lagi merasa sungkan padanya. Tapi sayang, sang gadis belum begitu percaya saja kepada Taka. Ia masih memendam problematikanya sendiri.
"Apakah audisi Cinderella sudah dimulai?" Ara mengalihkan.
"Kau berniat ikut?" Taka antusias menanggapi.
"Mungkin aku bisa ikut jika jadwalnya pas." Ara seperti berminat.
"Kalau begitu begini saja. Kita ambil nomor urutnya dulu. Nanti jika waktunya memang kurang tepat, aku bantu bicara agar waktu audisinya bisa diundur." Taka bersemangat.
"Eh? Serius?!" Ara tak percaya jika Taka bisa membantunya.
__ADS_1
"Ya, nanti aku akan bicara dengan kepala panitianya. Setahuku audisi ini juga merupakan batu loncatan untuk para mahasiswa yang ingin berkarir di dunia perfilman." Taka mengingat-ingat.
"Benar, kah?" Ara bersimpatik.
"He-em. Tak ada salahnya mencoba terlebih dahulu. Lolos atau tidak itu bukan urusan kita. Yang penting kita berusaha semaksimal mungkin." Taka menyemangati.
"Hm, baiklah." Ara juga ikut bersemangat.
"Banzai, Ara!!!" Taka mengepalkan tangan kanannya ke atas.
"Banzai!!!"
Tak tahu apa artinya, Ara ikut-ikutan saja mengucapkan kata itu. Ia tersenyum semringah kepada Taka karena mau membantunya.
Sejujurnya Ara ingin sekali mendapatkan peran utama di dongeng Cinderella. Tapi ia berkecil hati jika melihat mahasiswi lainnya. Ara merasa kemampuan aktingnya jauh di bawah yang lain.
Kalau ini memang rezekiku maka tak akan ke mana.
Sang gadis kembali tersenyum setelah merasa sakit karena ucapan seseorang yang mengaku-ngaku sebagai wanitanya Rain, pria yang ingin menikahinya. Entah siapa yang harus dipercaya, Ara belum mau memikirkannya. Ia takut terbawa perasaan sendiri dan malah mengakibatkan pertengkaran lagi. Sedang Ara ingin semuanya baik-baik saja.
Sepulang kuliah...
Hari ini Ara pulang kuliah pada jam dua siang, dan kini ia sedang mengisi formulir pendaftaran audisi peran dongeng Cinderella. Ia pun akhirnya mendapatkan nomor urut audisi yang jatuhnya pada hari Minggu pukul sembilan pagi.
Setelah mendapatkan nomor urut, Ara keluar dari ruang pendaftaran lalu kembali menemui Taka yang sedang mengobrol di depan pintu ruangan bersama teman-temannya. Taka pun memperkenalkan Ara kepada kedua temannya.
"Salam, aku Ara." Ara meletakkan tangan kanan di dada sebagai salam hormat.
"Aku Nidji dan ini Ken." Seorang pemuda berkemeja biru kotak memperkenalkan diri dan temannya.
"Mereka teman-temanku dari Jepang, Ara. Kami bertiga mendapat kesempatan pertukaran mahasiswa." Taka menerangkan.
"Senang bisa berjumpa dengan kalian." Ara tersenyum kepada teman-teman Taka.
"Kau berasal dari mana?" tanya teman Taka berkemeja biru kotak, Nidji.
"Aku asal Indonesia." Ara segera menjawabnya.
"Oh, jadi Taka kepincut dengan gadis asal Indonesia." Ken, teman Taka yang berkaus hitam mengejeknya.
Taka hanya tersenyum-senyum sendiri menanggapi gurauan dari temannya itu.
"Em, maaf. Sebentar."
__ADS_1
Tak lama ponsel Ara pun berdering. Sebuah panggilan masuk menyadarkannya agar segera mengangkat telepon tersebut.
"Ya, Jack?" Ternyata Jack lah yang menelepon Ara.
"Baik. Aku ke sana sekarang." Ara kemudian menutup teleponnya.
"Kenapa Ara?" tanya Taka yang ingin tahu.
"Taka, aku pulang duluan ya. Aku sudah dijemput." Ara menjelaskan sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.
"Kau tidak ingin kuantar?" tanya Taka lagi.
"Tidak, terima kasih. Sampai nanti semuanya."
Ara segera berpamitan kepada Taka dan teman-temannya seraya tersenyum. Ia terlihat terburu-buru.
Taka pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa melihat kepergian Ara tanpa ditemani olehnya. Tiba-tiba pikirannya diselimuti dengan perkataan Ara tadi pagi. Tidak tahu kenapa ia merasa khawatir dengan keadaan Ara.
Sepertinya dia tengah menyimpan sesuatu yang berat di pikirannya.
Taka melihat kepergian Ara sampai hilang dari pandangan mata. Ia kemudian melanjutkan percakapan dengan kedua temannya. Sedang Ara bergegas menuju gerbang kampus untuk menemui Jack di sana. Dan ternyata Jack memang sudah menunggunya.
"Maaf sedikit lama, Jack." Ara segera masuk ke dalam mobil.
"Tak apa, Nona. Apa kita langsung pulang?" tanya Jack sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Hm, ya. Kita langsung pulang saja." Ara menjawabnya segera.
Jack pun segera melajukan mobilnya menuju apartemen sang tuan. Di sepanjang perjalanan terlihat keduanya tidak membuka percakapan sama sekali, karena ternyata Ara sedang ditelepon oleh Rain.
Lima belas menit kemudian...
"Ini aku baru sampai, Bawel."
Sesampainya di apartemen, Ara dan Rain masih berteleponan. Sampai-sampai Jack harus membungkukkan badannya tanpa bersuara saat berpamitan kepada Ara. Dan kini Ara sedang duduk di sofa ruang tamu setelah mengunci pintu apartemen dari dalam.
"Iya, Sayang. Aku tidak nakal." Ara terkekeh dengan perkataan Rain yang posesif.
"Ya, sampai nanti." Akhirnya Ara bisa menutup teleponnya.
"Hah, dia itu. Entah mengapa aku merasa situasi berbalik. Dia sangat perhatian, bahkan sempat-sempatnya menelepon untuk memastikan aku sampai dengan selamat." Ara tersenyum sendiri sambil memegang ponselnya.
Dibukanya galeri foto, dilihatnya foto-foto kebersamaannya dengan Rain. Terlintas canda tawa dan juga luka yang meneteskan air mata, menemani perjalanan keduanya. Ara pun mengusap foto Rain yang ada di ponselnya.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang takut kau nakal di sana. Kalau aku siapa yang mau memang? Dasar!" Ara lalu mencium foto Rain yang ada di ponselnya.
Sang gadis bergegas menggulung rambut lalu merapikan apartemen. Ia bersih-bersih terlebih dahulu sebelum beranjak mandi sore. Dan hari ini akan ia lewati seorang diri karena prianya sedang sibuk di tengah lautan.