
Dubai, 7.17 malam...
Malam telah datang. Lampu-lampu kota menyala, menghiasi malam yang gulita. Kendaraan lalu-lalang mulai ramai di seluruh sudut perkotaan. Suara klakson mobil pun ikut meramaikan.
Di sebuah ruangan mewah, tampak seorang pria berjas hitam duduk di depan meja kerjanya sambil mendengarkan keluhan seorang gadis berkaus merah. Ia mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan oleh gadis tersebut, sedang sang gadis terlihat kesal saat menyampaikannya.
Jam di dinding ruangan telah menunjukkan hampir pukul setengah delapan malam. Tapi sepertinya pria dan gadis itu baru saja memulai pembicaraannya. Sang gadis tampak bersikeras mengajukan permohonan kepada pria tersebut, yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
"Hm..." Pria itu memikirkan apa yang diajukan oleh putrinya.
Ialah Johnson, seorang pemegang saham di Universitas Wollongong Dubai. Usianya baru menginjak empat puluh delapan tahun bulan ini. Belum terlalu tua untuk ukuran pria mapan sepertinya. Ia memiliki seorang putri yang cantik jelita. Namun sayang, kesombongannya luar biasa.
"Ayah, aku tidak mau tahu. Ayah harus mencabut bea siswa mahasiswa itu." Ialah Rose yang bersikeras dengan permintaannya.
"Apa dia membuat kesalahan yang sangat fatal?" tanya Johnson kepada putrinya.
Rose menyilangkan kedua tangan di dada. "Dia sudah berani menjawabi ucapanku. Dia kurang ajar padaku, Yah." Rose berkata lagi.
Sang ayah menghela napasnya, lalu beranjak berdiri. "Hanya karena itu kau ingin ayah mencabut bea siswanya?" Johnson tak percaya dengan sikap putrinya yang amat manja.
"Yah! Ayah bagaimana, sih?! Ayah pemegang saham terbesar di kampus. Kenapa tidak berani membela putrinya? Apa Ayah rela putri Ayah disemena-menakan oleh orang lain?!" Rose berapi-api.
Johnson mengernyitkan dahinya, merasa kesal dengan ucapan sang putri. "Jadi kau ingin ayah mencabut bea siswa mahasiswa itu?" Johnson bertanya kembali, memastikan.
"Ya. Aku ingin dia merasakan akibat karena telah berani membuatku kesal." Rose menunjukkan sisi egonya.
"Darimana dia berasal?" tanya Johnson sambil berjalan menuju meja tehnya. Ia lalu menuang teh itu sendiri ke dalam cangkirnya.
"Jepang," jawab Rose singkat.
Sang ayah membalikkan badannya ke arah Rose. "Kau ingin membuat perselisihan dengan orang Jepang?" Sang ayah bertanya kembali.
__ADS_1
"Ayah ...!" Rose amat kesal karena diperlambat keinginannya.
"Baiklah-baiklah. Ayah akan menuruti apa kemauanmu. Besok ayah akan meminta bagian kesiswaan untuk memanggilnya. Kau tenang saja, Putriku." Johnson akhirnya memenuhi kemauan putrinya.
Seketika wajah Rose berseri-seri dari yang berapi-api. Ia berjalan cepat ke sang ayah lalu memeluknya.
"Terima kasih, Yah. Ayah memang paling baik sedunia." Rose melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang ayah.
Tersirat raut kekesalan pada Johnson karena sikap putrinya. Mau tak mau ia harus memenuhi keinginan putrinya tersebut. Sebagai seorang ayah ia menunjukkan pembelaannya di hadapan sang putri, agar putrinya bisa diam dan tidak berkicau lagi. Tanpa Rose ketahui apa yang akan dilakukan nantinya kepada Taka, mahasiswa yang telah membuat hati putrinya kesal.
Di pinggir Kota Dubai...
Lain Rose lain juga dengan Jasmine. Gadis cantik berkulit putih ini tampak menunggu seseorang keluar dari sebuah asrama. Di tangannya membawa rantang makanan yang bertingkat-tingkat jumlahnya. Tak lama seseorang yang ditunggunya pun datang menemuinya.
"Sudah lama?" tanya seorang pria kepadanya.
"Tidak juga, aku baru beberapa menit di sini." Jasmine tersenyum kepada pria tersebut.
"Aku masih harus melatih karate anak-anak di sini. Mungkin menjelang pertengahan malam baru selesai. Tidak baik bagimu di luar saat malam." Pria itu memberikan perhatiannya kepada Jasmine.
Pria itupun tersenyum. "Terima kasih. Pasti anak-anak akan senang menerimanya." Pria itu mengucapkan terima kasih.
"Em, kalau begitu ... aku permisi." Jasmine malu-malu berpamitan kepada Lee.
"Ya, hati-hati di jalan."
Lee pun melepaskan kepergian Jasmine dari hadapannya. Dengan segera Jasmine masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangannya ke arah Lee, berpamitan.
"Jalan," kata Jasmine kepada supirnya.
Pria itu memang benar adalah Lee. Dosen fakultas teknik yang juga menjadi guru karate di kampusnya. Jasmine diam-diam membawakan makanan untuk Lee dan anak-anak yang sedang berlatih karate di sebuah asrama yang ada di pinggiran Kota Dubai. Ia pun segera pergi setelah memberikan rantang makanan itu kepada Lee. Jasmine diam-diam mendekati Lee tanpa diketahui oleh sahabatnya sendiri, Rose.
__ADS_1
Maaf, Rose. Aku tidak bisa memberitahukan hal ini padamu. Karena aku juga menyukai dosen Lee.
Jasmine melancarkan kedekatannya kepada Lee tanpa diketahui oleh Rose. Sedang Lee tidak tahu jika kedua gadis itu sama-sama menyukainya. Ia hanya sebatas menjaga perasaan atas pemberian yang Jasmine berikan. Ia berusaha bersikap baik kepada setiap mahasiswi kampusnya. Namun, rupanya sikap Lee disalahartikan oleh Jasmine.
Malam ini menjadi saksi pertemuan keduanya. Malam ini juga membuktikan jika sudah seharusnya berhati-hati dalam memilih teman sepermainan. Tidak selamanya yang dipercaya bisa menjaga. Tidak selamanya teman menjadi teman. Bisa saja suatu hari nanti akan menjadi lawan. Bahkan bayangan pun akan pergi meninggalkan saat gelap datang. Jadi hanya kepada diri sendirilah kita percayakan.
Di pesawat...
Rain dan rombongan sudah take off dari Bandara Internasional Kota Dubai dan kini sedang melakukan penerbangan menuju Indonesia. Ia terlihat duduk bersama Jack di sofa yang disusun sedemikian rupa. Tak ada Ara ataupun istri Jack di sana. Hanya ada keduanya yang sedang bercengkrama sambil menikmati secangkir kopi sebagai pelepas rasa kantuk.
"Aku sudah meminta pihak gedung untuk menyelidiki CCTV tadi pagi. Tapi pihak gedung mengatakan jika tidak ada aktivitas yang mencurigakan di lantai teratas dari pukul delapan pagi hingga satu siang." Rain menceritakan kepada Jack.
"Tuan, apakah penyelidikan masih dilakukan?" tanya Jack sopan.
"Masih. Aku bahkan meminta mereka mengecek ulang dan melihat rekaman CCTV dari dini hari sampai pukul delapan pagi. Kali-kali saja ada yang terlewat," kata Rain lagi.
"Sungguh jika ada yang menyebarkannya, aku tidak melihat ada butiran pasir saat menjemput Anda, Tuan." Jack mengemukakan penglihatannya.
"Ya, aku juga tidak melihat ada pasir saat pergi bekerja tadi pagi. Ara bilang pasirnya berwarna putih, sama seperti warna keramik lantai. Jadi mungkin karena hal itu kita tidak menyadarinya." Rain menyandarkan punggungnya ke sofa.
Jack tertegun sejenak. "Saya pribadi merasa hal ini amat janggal. Kenapa di minggu-minggu menjelang pernikahan ada saja hambatannya? Apa Tuan tidak merasa demikian?" Jack mencoba bertukar pikiran.
Rain diam. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada seseorang.
"Aku tidak ingin menuduh tanpa bukti. Aku memang sempat kepikiran, tapi tidak etis rasanya jika belum mengantongi buktinya. Ro pun sampai sekarang belum menemukan jejak atas kejadian waktu itu." Rain mengungkapkan.
"Tuan, saya berharap Anda kuat menghadapi ujian pernikahan ini. Saya sekeluarga selalu berdoa untuk keselamatan dan kelancaran acara pernikahan." Jack menenangkan.
"Terima kasih, Jack. Terima kasih telah mendukungku. Aku beruntung memiliki saudara sepertimu." Rain tersenyum tenang.
"Kembali, Tuan." Jack pun membalas senyuman Rain.
__ADS_1
Tidak dapat Rain pungkiri jika di hatinya sedikit menaruh kecurigaan terhadap Jane. Namun, ia tidak bisa menghakimi Jane begitu saja tanpa ada bukti yang menguatkan. Karena Rain khawatir bukti tidak didapat malah akan memperkeruh jalinan kerja sama antar sang kakek dan ayah Jane. Pastinya ayah Jane tidak akan tinggal diam begitu saja saat putrinya dituduh oleh Rain. Rain harus berhati-hati dalam bertindak.
Lain Rain lain pula dengan Jack. Di dalam hatinya tersimpan tanda tanya tentang keterkaitan hal yang terjadi pada tuannya akhir-akhir ini. Ia pun ingin melakukan sesuatu agar tuannya tidak terganggu lagi. Tapi untuk sementara ia tepiskan terlebih dahulu karena ada sesuatu hal yang lebih penting, menemani tuannya melamar sang gadis pujaan. Dan Jack akan setia mendampingi hingga janji suci itu diucapkan.