
Beberapa jam kemudian...
Lagi dan lagi aku terbangun pada pukul empat pagi. Kulihat sekeliling ruangan memang sengaja digelapkan. Lantas aku terbangun dan kulihat masih mengenakan baju terusanku.
Mungkin karena baju ini dia mengira aku adalah hantu.
Pria yang kutemui sepertinya telah berhasil membuatku jatuh hati. Dia tampan sekali. Terlebih tubuhnya tinggi dan juga berisi, benar-benar mendekati sempurna. Tapi tidak tahu bagaimana sifat aslinya, sejauh ini aku merasa jika dia bukanlah orang jahat.
Aku belum tahu siapa namanya. Pertemuan kami harus terjeda sejenak karena dia ingin beristirahat. Tampaknya dia tidak keberatan dengan kehadiranku. Terbukti dia memberiku kesempatan untuk bekerja dan merawat apartemennya. Kucoba saja, tidak ada salahnya.
Apartemen ini mungkin letaknya berada di paling sudut gedung, karena kulihat sebagian besar dindingnya adalah kaca. Ruang tamu dan ruang makannya juga tidak bersekat, hanya dipisahkan sedikit dinding sebagai tempat meletakkan TV. Jadi jika dari pintu masuk, langsung bisa melihat sofa ruang tamu.
Kamar tuanku berdekatan dengan ruang makan. Entah bagaimana bentuknya, tapi sepertinya cukup luas. Sedang kamar mandinya berada di luar, tepatnya di samping kamar tidurnya. Dan di seberang pintu kamar mandi ada dapur. Dapur mewah yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata, semuanya serba lengkap.
Tugasku di sini hanya menyiapkan keperluan dan juga merawat apartemennya. Tidak terlalu sulit untukku. Yang namanya kerja pasti ada lelahnya, tapi kubawa santai saja. Karena kuyakin kerja juga termasuk ibadah.
"Mungkin aku mencuci pakaian saja terlebih dahulu."
Setelah ke kamar mandi, segera kucuci pakaiannya menggunakan mesin cuci yang ada di sudut lorong antara dapur dan kamar mandi ini. Kupisahkan pakaian putih dan berwarnanya. Aku harus hati-hati mencuci pakaian tuanku. Karena kalau tidak, aku bisa dilemparkannya ke luar.
Dia itu galak, tapi sebenarnya baik.
Setelah memisahkan, satu per satu pakaiannya kumasukkan ke dalam mesin cuci. Seketika itu juga tercium harum semerbak parfum yang dia gunakan, membuatku mabuk kepayang sendiri.
Harum sekali parfumnya.
Kuatur waktu pencuciannya, dan selama menunggu kugunakan untuk membersihkan ruangan, dimulai dari dapur hingga ke ruang tamu. Akhirnya, pekerjaanku bisa selesai bersamaan dengan pakaian yang kucuci.
"Waktunya menjemur."
Aku tidak kuper-kuper amat masalah teknologi. Walaupun di sini menggunakan peralatan canggih, aku bisa mengoperasikannya. Jadi tidak terlalu memalukan. Atau kalau tidak, kucoba-coba saja dahulu, nanti juga mengerti sendiri.
Aku menjemur pakaiannya di teras luar apartemen. Terasnya lumayan luas. Dan ternyata pemandangan di sini benar-benar menakjubkan. Kulihat banyak gedung tinggi di depan mataku. Sepertinya apa yang dikatakannya memanglah benar, aku sedang berada di lantai lima puluh apartemen ini.
"Kau sudah bangun?" Tiba-tiba kudengar suaranya.
"Tuan?"
Aku melihat ke dalam dan dia baru saja keluar dari kamar. Dia masih mengenakan pakaiannya yang semalam.
"Bisa buatkan aku kopi?" tanyanya.
"Baik Tuan."
Segera kutinggalkan pakaian yang belum selesai kujemur. Kulangkahkan kaki ke dapur untuk segera membuatkannya kopi. Kunikmati pekerjaan ini dengan hati yang riang dan gembira. Dan akhirnya, satu cangkir kopi telah kubuatkan untuknya.
"Silakan Tuan." Kuhidangkan ke atas meja seraya tersenyum.
__ADS_1
"Ya, terima kasih," sahutnya singkat.
"Apa ada lagi, Tuan?" tanyaku, kali-kali masih ada yang dia butuhkan.
"Tidak, ini dulu saja." Dia lalu meniup kopi yang kusediakan.
"Kalau begitu saya lanjutkan pekerjaan." Aku berpamitan.
"Ya." Dia hanya menjawab dengan kata ya.
Aku tidak peduli bagaimana sikapnya padaku, yang penting aku bisa bekerja. Namun, sesaat setelah kembali menjemur pakaian, kulihat dia seperti menoleh ke arahku. Aku pun melihat ke arahnya, namun dia segera memalingkan pandangan.
Eh? Dia diam-diam memperhatikanku?
Kuteruskan pekerjaan ini sampai selesai lalu mulai menyiapkan sarapan untuknya. Menit demi menit pun berlalu. Akhirnya dia juga bersiap-siap berangkat ke kantor. Entah di mana kantornya, aku tidak peduli.
Satu jam kemudian, pukul 5.40 pagi...
Tuanku sedang sarapan, sedang aku menemaninya di sisi. Dia sudah siap berangkat kerja dengan mengenakan jas hitam lengkapnya. Dia tampan sekali, aku jadi ingin terus memandangnya.
"Siapa namamu?" tanyanya lalu meneguk segelas air minum.
"Namaku Ara, Tuan," jawabku segera.
"Ara?" Dia melihatku dengan saksama, sedang tangannya masih memegang gelas air minum.
"Dari mana kau berasal?" tanyanya lagi lalu melanjutkan meminum airnya.
"Aku dari kota kecil yang ada di Indonesia, Tuan," jawabku segera.
Seketika dia menyemburkan air yang sedang diminumnya.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Segera kuambilkan tisu dari atas meja untuknya.
"Aku tidak apa-apa." Dia mengambil tisu dariku.
"Tuan, maaf jika hal ini mengejutkanmu." Aku merasa bersalah.
Dia diam sambil mengelap wajahnya dengan tisu. Entah kenapa, dia sepertinya terkejut dengan asalku.
"Kau dari Indonesia?" tanyanya lagi.
"Benar, Tuan," jawabku.
"Kau tahu ada di mana ini?"
Aku menggelengkan kepala, tidak tahu.
__ADS_1
"Ara, ini di Dubai. Salah satu kawasan yang ada di timur tengah. Kenapa kau bisa jauh sekali nyasar ke sini?" tanyanya penuh heran.
"Tuan, jika Anda selalu bertanya seperti itu maka aku juga akan menjawab dengan hal yang sama. Aku tidak tahu mengapa bisa sampai ke sini, aku hanya melewati pintu jatuhan air dan tiba-tiba saja sudah di sini." Lagi, aku menjelaskan kepadanya.
"Pintu jatuhan air?" Dia seperti berpikir.
"Benar Tuan." Aku mengangguk.
"Mungkinkah pintu yang kau maksud itu adalah portal dimensi?" Dia bertanya padaku.
Aku menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, Tuan. Seorang nenek mengarahkanku agar melewati pintu itu. Dan akhirnya aku sampai ke sini," jawabku jujur.
Dia terdiam sambil menopang dagu dengan satu tangannya, seperti sedang berpikir keras mengenai hal ini.
"Baiklah. Jam makan siang aku akan kembali. Sediakan makan siang yang enak untukku. Ini kuberikan kartu kredit, gunakan untuk membeli keperluan mingguan termasuk membeli pakaianmu. Di sini tidak ada pakaian wanita." Dia menyerahkan kartu kreditnya padaku.
"Tapi, Tuan—"
"Pakai saja. Saldonya cukup banyak, sepuluh ribu dolar. Aku rasa itu cukup untuk membeli keperluan selama satu minggu ke depan." Dia beranjak berdiri.
Sepuluh ribu dolar? Untuk satu minggu? Luar biasa! Aku terheran-heran sendiri dengan kalkulasi kebutuhannya. Jika satu dolar lima belas ribu, berarti seratus lima puluh juta dalam satu minggu. Ini sih anak sultan.
"Nanti kau akan diantarkan oleh supirku. Aku berangkat sekarang." Dia berpamitan seraya mengambil kopernya.
"Baik, Tuan."
Aku pun mengantarkannya sampai ke depan pintu apartemen. Ternyata di luar sudah ada yang menunggunya. Seorang pria berjas hitam lengkap.
"Tuan Rain." Pria itu membungkuk, memberi hormat kepada tuanku.
Rain? Namanya Rain? Kulihat tuanku, ternyata dia bernama Rain.
Namanya hujan, semoga dia akan menghujaniku dengan banyak uang. Aku berharap sendiri.
"Jack, ini adalah Ara. Dia asistenku. Setelah mengantarkanku, temani dia berbelanja." Tuanku berpesan kepada pria di hadapannya.
"Baik, Tuan." Pria itu menyanggupi.
"Kemari Ara." Tuanku meminta agar mendekatinya, aku pun segera mendekat.
"Mana jarimu?" Dia meminta jariku. "Apartemen ini menggunakan sidik jari untuk membuka pintu. Jadi kau tidak perlu repot." Dia memintaku meletakkan jari telunjuk di atas scanner.
"Baik, Tuan." Aku pun selesai men-scan jariku.
"Kita berangkat sekarang, Jack." Tuanku meminta kepada pria itu.
Pria itu membungkuk, mengiyakan. Aku pun melihat kepergian tuanku. Mereka seperti berbincang, entah mengenai apa. Segera saja kututup pintunya lalu bergegas mandi. Aku harus siap-siap sebelum pergi berbelanja hari ini.
__ADS_1