
"Eh?" Rain bingung.
"Kau ini, ya. Bikin kukesal saja!" Ara menunjuk-nunjuk Rain dengan pisau steak-nya.
"Hei, bisa kau turunkan dulu pisau itu?" Rain ngeri melihat Ara marah.
"Hah ...," Ara pun kembali duduk. "Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di antara kita." Ara memegangi kepalanya.
"Setelah apa yang kulakukan kau masih tidak percaya?" Rain tidak jadi menyentuh makan siangnya.
"Ya." Ara menoleh ke Rain. "Hanya orang gila yang langsung mengajak menikah padahal baru beberapa hari kenal." Ara mengungkapkan unek-uneknya.
"Berarti kau mengatakan jika Jack gila?" Rain mulai mengiris daging steak-nya.
"Lho, kok Jack?" Ara jadi bingung.
"Kau tahu, Ara. Jack bertemu istrinya pada malam jumat. Dia datang bersama keluarganya ke rumah istrinya itu. Dan lusa kemudian mereka menikah. Hanya dalam dua hari perkenalan, mereka menikah." Rain menyuap steak sapi ke mulutnya.
"Astaga! Yang benar?" Ara tak percaya.
"Selama tidak pulang, aku menginap di rumahnya. Kami banyak bertukar pikiran tentang kehidupan. Dan aku rasa apa yang dikatakannya memang benar. Pernikahan adalah jalan untuk menentramkan hati dan pikiran. Karena kita hanya fokus kepada satu tujuan." Rain meneguk air minumnya.
Ara terdiam. Ia berusaha mendengarkan apa yang Rain katakan.
"Sejak awal aku tidak pernah menganggapmu sebagai pembantu. Aku malah merasa jika kau itu adalah gadis yang diutus untuk masa depanku." Rain menoleh ke gadisnya.
"Kau merayuku!" Ara memakan steak-nya.
"Aku tidak merayu, Ara. Walaupun usia kita berbeda cukup jauh, tapi aku merasa jika kau mampu mengimbangiku," kata Rain lagi.
"Memangnya usiamu ...?"
"Dua puluh tujuh. Kita berbeda delapan tahun. Cukup jauh, bukan?"
"Hah??? Aku pikir bedanya delapan puluh tahun." Ara menepuk jidatnya sendiri.
"Ohok-ohok!"
Seketika Rain terbatuk-batuk. Ara pun segera mengambilkannya minum.
"Kau ini ya, memang menyebalkan. Aku bisa saja menikahimu sekarang. Jangan macam-macam denganku, Ara." Rain kesal dibuat tersedak oleh gadisnya.
"Memangnya bisa?" Ara mengejek Rain.
Seketika Rain terdiam, ia memikirkan bagaimana cara agar Ara menurut padanya. Bukan sebagai asisten rumah tangga, melainkan calon istri.
__ADS_1
Dia ini lama-lama kugendong ke kamar dan kubiarkan pintunya terkunci sampai besok. Pastinya dia tidak akan berani lagi mengejekku.
Rain menggerutu.
Pelan tapi pasti. Kedekatan keduanya mengikis kesenjangan yang ada. Rain mulai membuka diri dan bersikap sebagai seorang pria ke wanita, bukan lagi tuan ke pembantunya. Rain ingin lebih leluasa bersama Ara. Kini dan nanti.
Ara sendiri menikmati momen kebersamaan ini. Ia amat bahagia karena Rain begitu peduli dan memanjakannya. Pangerannya telah datang dan menolong dari segala penderitaan. Dan Ara amat menyayangi pangerannya.
Selepas makan siang...
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Dan kini sepasang insan sedang duduk di teras luar apartemen sambil memandangi pemandangan kota yang cerah. Mereka duduk berdampingan di atas kursi panjang yang terbuat dari karet.
Rain sengaja melepas jasnya. Ia hanya mengenakan kemeja putih tanpa rompi. Dan kini ia sedang mengecek-ngecek ponsel Ara. Sedang sang gadis terlihat diam saja karena prianya itu ternyata kepo sekali.
"Kau baru mempunyai satu teman di kampus?" Rain melihat kontak ponsel Ara.
"Iya, cuma Taka." Ara menjawab jujur.
"Nanti juga punya banyak teman. Karena masih baru saja jadi butuh penyesuaian," kata Rain sambil mengembalikan ponsel Ara.
"Sebenarnya aku ingin ikut organisasi di sana." Ara menceritakan keinginannya.
"Organisasi?" Rain menatap Ara.
"Iya. Di sana ada teaterikal, aku ingin ikut. Tapi, pulangnya malam." Ara tertunduk.
"Baiklah." Ara pun pasrah.
"Besok aku akan mengunjungi ladang minyak yang baru. Mungkin akan menginap di sana semalam." Rain menceritakan.
"Nanti malam?" tanya Ara lagi.
"Besok malam. Hari ini aku masih menyiapkan segala perhitungan untuk mengebor kedalaman laut," jawab Rain.
"Em, baiklah." Ara mengiyakan.
"Ara."
"Hm?"
"Aku tidak ada niat untuk mengekangmu. Aku hanya ingin menjagamu. Jika kau merasa terkekang dengan segala peraturanku, maka tepiskan segera perasaan itu. Aku ingin kau baik-baik saja. Kau sudah tahu posisimu saat ini, kan?" Rain bertanya kepada gadisnya.
"Ya, aku tahu." Ara tersenyum.
"Kemarilah, sandarkan kepalamu di dadaku," pinta Rain kemudian.
__ADS_1
Ara pun menyandarkan kepalanya di dada Rain. Rain juga mulai membelai lembut rambut gadisnya. Namun, entah sadar atau tidak Ara mengusap dada Rain berulang kali. Seketika itu juga reaksi alami muncul dari tubuhnya.
"Ara." Dia memegang tangan Ara yang mengusap dadanya.
"Hm?" Ara menoleh, melihat wajah Rain.
Rain menatap gadisnya. Kedua pasang bola mata itu saling bertatapan dan memperhatikan satu sama lain. Rain mulai memegang tengkuk leher Ara dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya menggenggam tangan kiri sang gadis. Perlahan ia pun memiringkan kepalanya, meraih sesuatu yang ada di wajah imut gadisnya.
Tuan ....
Jantung Ara melaju cepat saat hangat napas Rain mulai terasa di pipinya. Semakin lama jarak kedua bibir mereka semakin dekat. Ujung hidung mereka pun bersentuhan. Mereka saling menikmati hangat napas masing-masing. Dan akhirnya, Rain tidak akan mundur untuk mendaratkan ciumannya di bibir sang gadis. Tetapi...
Tiba-tiba dering ponsel menyadarkan Rain jika ada telepon penting untuknya. Seketika ia tersadar dari hasrat yang baru saja menggelora.
"Sebentar, Ara."
Rain membenarkan posisi duduknya. Ia melepas pegangan tangan dari sang gadis. Dan ia pun segera mengangkat teleponnya.
"Halo?" jawab Rain segera.
"RAAAAAINNNN!!!" Suara dari seberang telepon terdengar ngegas tak terkendali.
"Kakek." Rain menyebut seseorang di seberang sana dengan sebutan kakek.
"BAGAIMANA HASIL AKHIRNYA, RAIN?!! BERAPA HASIL KEPUTUSANNYA?!!"
Suara dari seberang begitu meninggi hingga Rain harus menjauhkan ponselnya agar tidak tuli mendadak. Ara pun sampai bisa mendengar percakapan itu.
Rain berdiri dari duduknya. "Kek, tenangkan dirimu. Jangan bicara keras-keras, nanti jantungan." Rain menyarankan.
"SUDAH CEPAT KATAKAN HASIL AKHIRNYA! JANGAN MEMBUATKU MENUNGGU!!!" kata sang kakek lagi.
Rain mengembuskan napasnya. "Pihak kota meminta 70:30 per barel atas penemuan lahan yang baru. Mereka menyerahkan semua proses kepada kita." Rain menceritakan.
"HAH?!! APA MEREKA GILA?!! JELAS-JELAS KITA YANG MENEMUKAN. ALAT PUN DARI KITA. BAHKAN PEKERJA AHLI DARI KITA. KENAPA SEMUA DILIMPAHKAN KEPADA KITA SEDANG MEREKA TINGGAL ENAKNYA SAJA?!!" Kakek Rain semakin kesal.
"Kakek—"
"POKOKNYA AKU TIDAK MAU TAHU!PERSENTASE 50:50 DARI PENEMUAN LAHAN BARU. TERSERAH BAGAIMANA CARAMU BERNEGOSIASI. BERI KABAR AKU SECEPATNYA!!!" kata sang kakek lagi.
"Tapi, Kek—"
Belum sempat Rain meneruskan perkataannya, sang kakek sudah mematikan telepon. Seketika raut wajah Rain berubah masam.
Dasar tua Bangka! Sudah bau tanah masih saja mementingkan keuntungan dunia!
__ADS_1
Rain menggerutu dalam hati.