
...Disclaimer...
...Quit Playing Games With My Heart...
...Single by Backstreet Boys...
...Album Backstreet Boys (US)...
...Label Jive Records...
...Songwriter(s) Max Martin, Herbie Crichlow...
...
Ara mulai memetik gitarnya. Alunan nada yang tidak terdengar asing di telinga Owdie. Ia pun berusaha menikmati petikan gitar dari gadis kepunyaan Rain ini.
Di atas panggung, Ara seolah melupakan apa yang ada di sekitarnya. Ia fokus menggapai mimpi dengan usahanya sendiri. Ara ingin membanggakan hati ibunya dengan menjadi aktris ternama.
Ibu, doakan aku ....
Petikan gitar itu lalu terhenti, menandakan jika intro lagu yang diulang sudah selesai dilakukan. Ia lalu mengambil napas panjang sebelum menyenandungkan lagu yang menemaninya akhir-akhir ini. Tak lama, bibirnya pun mengucapkan syair lagu yang begitu indah, seindah suasana hatinya kala ini.
"Baby, oh..." Ara mulai bernyanyi.
"Even in my heart I see..." Seketika semua orang tahu lagu siapa itu. "You're not bein' true to me. Deep within my soul I feel... Nothing's like it used to be."
Ara menyanyikannya dalam tempo lambat, Vibra suaranya pun terdengar sangat merdu.
"Sometimes I wish I could turn back time, Impossible as it may seem. But I wish I could. So bad, baby... Quit playin' games with my heart."
Ara menyenandungkannya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
"Quit playin' games with my heart. Before you tear us apart. Quit playin' games with my heart."
Tanpa sadar yang hadir di ruangan pun ikut bernyanyi bersama. Ara tersenyum lalu melanjutkan syair lagunya. Ia terlihat begitu bahagia di balik syair lagu yang penuh dengan sejuta harapan.
Lee sendiri takjub dengan apa yang Ara persembahkan. Ia tertegun melihat seorang gadis sedang memetik gitar di atas panggung pertunjukan. Suara permohonan Ara melalui untaian syair lagu, seolah-olah memintanya agar tidak mempermainkan hati sang gadis. Ia lantas tersenyum sendiri dalam ketakjubannya.
Bukan hal luar biasa bagi Ara jika bisa memainkan gitar. Masih banyak wanita-wanita hebat di luar sana yang mampu memainkan gitar dengan baik. Bahkan ada beberapa yang mampu menunjukkan kebolehannya lewat permainan petikan jari mereka. Tapi entah mengapa, jika Ara yang memainkannya sensasi itu sangat terasa di hati Lee.
Pria berkemeja abu-abu itu terhenti dari lamunannya kala mendengar suara telepon masuk untuknya. Mau tak mau ia harus keluar sebentar dari gedung untuk menerima panggilan telepon tersebut. Ia kemudian melangkahkan kaki tanpa melihat Taka dan kedua temannya yang sedang merekam pertunjukan Ara di atas panggung.
"Baik, sebentar lagi aku ke sana."
Lee akhirnya menutup telepon saat sudah berada di depan pintu masuk gedung. Seketika muncul niatan di dalam hatinya.
Aku ingin sekali menemuinya, tapi ada pekerjaan yang tak bisa kutunda hari ini. Mungkin lain waktu aku bisa menemuinya.
Telepon itu membuat Lee tidak bisa menemui Ara secepatnya. Ia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu berpikir bagaimana cara menyampaikan perasaan senang di hatinya kala melihat Ara bernyanyi sambil bermain gitar di atas panggung. Terlintas sebuah ide di pikirannya untuk memberikan Ara sesuatu. Ia lalu pergi menuju suatu tempat untuk membelikan Ara sesuatu.
Setengah jam kemudian...
Setelah menimbang hasil keputusan juri, ternyata Ara belum bisa mendapatkan peran utama. Banyak faktor yang ditimbang oleh keempat dewan juri yang menilainya. Termasuk Owdie yang memikirkan jangka panjang jika Ara sampai mendapatkan peran ini.
Acara berakhir. Taka dan kedua temannya segera mendekati Ara dan mengucapkan selamat kepada sang gadis walaupun belum berhasil mendapatkan peran tokoh utama. Setidaknya Ara sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan bakatnya. Tapi keberuntungan saat ini mungkin memang belum berpihak kepadanya.
"Tidak perlu kau sesali, Ara. Kau sudah menunjukkan yang terbaik. Tetap semangat!" Nidji, pria berjaket biru itu menyemangati.
"Ya, Nidji benar. Masih ada waktu selanjutnya yang bisa kau ikuti." Ken menambahkan.
Keempatnya berjalan bersama, keluar dari gedung.
"Ara, kau begitu memukau tadi. Tapi mungkin ada kebaikan dari kebelumberhasilanmu saat ini." Taka menghibur hati Ara.
__ADS_1
Sang gadis terlihat kecewa tapi dia berterima kasih atas dukungan Taka dan teman-temannya.
"Terima kasih. Aku akan berusaha lagi." Ara tersenyum menutupi kekecewaan di dalam hatinya.
"Lalu kau mau ke mana sekarang?" Taka bertanya, keempatnya berjalan bersama menuju parkiran kampus.
"Aku langsung pulang saja. Aku ingin beristirahat sejenak." Ara menjawabnya dengan lesu.
"Hm, baiklah. Tadinya kami ingin mengajakmu menonton di bioskop. Tapi karena kelihatannya lagi sibuk, akhirnya kami pergi bertiga saja," kata Taka lagi.
Seketika Ara tak enak hati. "Maaf, ya. Lain kali mungkin aku bisa." Ara meminta maaf sambil menempelkan kedua telapak tangannya.
"Iya, tak apa." Taka pun mengangguk.
Ara lalu berpisah dengan ketiganya sesampai di halaman parkiran kampus. Ia lalu menelepon Rain agar segera menjemputnya. Tapi ternyata, sang gadis menemukan prianya sudah berada di pintu gerbang kampus. Pria bermata biru yang rambutnya tersapu semilir angin berlalu.
"Tuan?"
Dari kejauhan Ara melihat Rain berdiri di samping mobil sambil menunggu kedatangannya. Tak ayal kharisma Rain mampu memukau pandangan mata dan menepiskan perasaan kecewa yang melanda hatinya. Ara kemudian segera berlari menuju Rain.
"Tuan." Ara tersenyum.
"Cepat masuk, Ara." Rain membukakan pintu untuknya.
Di lain tempat Owdie melihat bagaimana Rain begitu memanjakan Ara saat tiba di hadapannya. Rain segera membukakan pintu dan hal itu dilihat jelas oleh Owdie dari lantai dua kampus. Beberapa menit yang lalu mereka pun baru saja berbicara mengenai Ara.
Rain, aku harap Ara adalah gadis pertama dan terakhir bagimu. Biarlah orang berkata apa. Aku ikut senang jika kau pun senang.
Mobil Rain akhirnya melaju dari pandangan matanya. Dalam hati Owdie berdoa untuk kelanggengan hubungan keduanya. Karena bagaimanapun Rain adalah saudara sedari kecil yang dibesarkan bersama. Sehingga Owdie tahu benar bagaimana sikap Rain yang sesungguhnya.
Maaf, Ara. Aku tidak bisa memilihmu menjadi peran utama kali ini. Karena jika hal itu sampai terjadi, Rain bisa membunuhku karena membiarkanmu beradegan ciuman dengan pria lain. Singamu itu terlalu ganas jika sudah marah. Dia bisa melakukan apa saja tanpa peduli ke depannya.
__ADS_1
Siang ini Owdie menyelesaikan jadwal kegiatannya di kampus Ara. Ia akan makan siang bersama para juri penilai audisi. Beberapa dosen dari fakultas seni pun ikut hadir dalam acara makan siang kali ini. Mereka akan berdiskusi mengenai progam kesenian kampus untuk masa mendatang bersama Owdie.