
"Aku sudah merasa puas dengan eksperimenku. Haha." Byrne seperti tidak peduli.
"Dasar orang gila! Kau juga manusia, Byrne. Kita punya kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi lewat jalan lain." Owdie menggerutu, memalingkan pandangannya dari Byrne.
"Eh?!" Byrne kaget. "Tumben bisa menggerutu. Sehat?" balas Byrne, meledek Owdie.
"Kau ini!!" Owdie memasang wajah kesal, tak terima diledek oleh Byrne.
Rain mengerutkan dahinya. "Hei, sudah-sudah! Bisa diam tidak?!" Rain bergantian marah. "Hentikan perdebatan ini, atau kalau tidak kulempar dari pesawat nanti!" ancam Rain.
"Haahh???" Seketika Byrne dan Owdie merasa takut. Mereka akhirnya berbaikan kembali.
"Dia berbeda sekarang," bisik Owdie kepada Byrne.
"Iya, ya. Maklum saja, sudah ada pengganti kita. Jadi dia tidak ingat kemesraan sebelumnya." Byrne menimpali.
"Hah ... kalian ini."
Rain pun mendengar percakapan keduanya. Ia terlihat mengurut dahinya sendiri karena melihat tingkah konyol kedua saudaranya. Sedang Ara...
Mereka sudah seperti saudara sendiri.
Ara tersenyum. Kedekatan ketiganya menyadarkan dirinya jika ia adalah pendatang baru di kehidupan Rain. Tapi, hari ini ia sudah masuk ke kehidupan para penguasa. Owdie, Byrne dan suaminya ternyata juga bisa bercanda seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Tidak terlalu serius seperti yang pernah Ara dengar sebelumnya.
Aku pikir kehidupan mereka hanya diisi dengan membicarakan bisnis. Tapi ternyata, aku salah.
Sekarang Ara tahu jika semua manusia membutuhkan canda tawa, apapun bidang pekerjaan yang digeluti. Sekalipun dia seorang penguasa, bos besar atau jabatan lainnya. Karena dengan bercanda, hiruk-pikuk dunia pekerjaan serasa tidak monoton. Canda tawa memberi warna tersendiri kepada kehidupan manusia. Dan Ara berharap bisa melihat kebersamaan ini selamanya. Kebersamaan yang membuatnya merindukan rumah.
Sedang apa ibu dan kakak di sana, ya?
Saat ini Ara hanya fokus ke Rain saja, walaupun rasa rindu kepada ibu dan kakaknya sudah mulai terasa. Ara berjanji ke mana pun Rain pergi, ia akan ikut serta. Karena menemani suami sudah menjadi kewajibannya.
"Sayang, kita berangkat sekarang?" Ara menyapa suaminya yang tampak mengurut dada akibat tingkah Byrne dan Owdie.
Rain pun mengangguk. Ia lalu mengusap kepala istrinya dengan penuh cinta. "Kita berangkat," katanya lalu mengajak kedua saudaranya untuk bersiap-siap.
__ADS_1
Siang ini mereka akan berangkat ke USA dengan menggunakan jet pribadi milik organisasi. Ara akan mengetahui sendiri organisasi apa yang menanungi ketiganya. Ara juga akan bertemu langsung dengan kakek Rain. Seseorang yang telah berjasa membesarkan suaminya. Namun, apakah semuanya akan berjalan lancar tanpa kendala?
Penerbangan ke USA...
Awan putih berarak menemani perjalanan Ara dan Rain. Mereka duduk di sisi kanan jet pribadi, sedang Owdie dan Byrne duduk di sisi kirinya. Keduanya asik tertidur, sedang Ara tampak memandangi pemandangan awan dari pesawat sambil meluruskan kedua kakinya. Rain pun dengan penuh rasa sayang menggenggam tangan sang istri.
"Sayang, awan itu begitu indah." Ara mengagumi betapa indah awan putih yang dilewati jet pribadi saat penerbangan.
"Benar, kah?" Rain ikut melihatnya.
"He-em." Ara mengangguk.
"Tapi menurutku ada yang lebih indah dari awan itu." Rain menanggapi seraya memperhatikan istrinya.
"Apa?" Ara menoleh ke arah Rain.
"Dirimu," kata Rain yang membuat Ara tersipu malu seketika.
"Sayang, kau ini." Ara pun memukul pelan lengan suaminya.
Tuhan, terima kasih. Aku sangat bahagia sekali.
Kedua mata Ara mulai terpejam. Ia merasakan kenyamanan saat berada di dekat Rain. Napasnya perlahan-lahan berangsur pelan. Ia kemudian tertidur dalam hangat kasih sayang suaminya. Ia akan beristirahat sejenak bersama sang suami tercinta. Perjalanan jauh akan mereka lewati hari ini sehingga membutuhkan stamina yang kuat.
Beberapa saat kemudian...
Penerbangan masih terus berlanjut. Jet pribadi yang ditumpangi baru saja memasuki kawasan perbatasan negara. Ara pun tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan terkejut. Napasnya tidak beraturan seolah mengalami mimpi buruk. Dilihatnya ke samping, ternyata Rain sudah tidak berada di sisinya. Ia pun segera mencari di mana keberadaan suaminya.
Ara berjalan ke belakang jet pribadi dengan cepat. Di mana ia menemukan sebuah kamar dengan kasur yang amat besar. Namun, sang suami ternyata tidak ada di dalam sana. Ia pun jadi panik seketika.
"Astaga. Ini nyata, bukan?"
Ara menepuk-nepuk pipinya. Ia merasa sedang bermimpi. Atmosfer sekitar berubah mencekam kala ia tidak menemui siapapun di dalam kamar. Lantas Ara segera menuju ke area pilot. Ia ingin bertemu sang suami secepatnya.
Aku harus cepat. Aku takut hal itu benar-benar terjadi.
__ADS_1
Ia melewati kabin jet pribadi seorang diri. Dan akhirnya, ia sampai juga di depan ruangan pilot. Tapi sayang, pintunya terkunci.
"Sayang!"
Ara berteriak dari luar pintu. Ruangan pilot tersebut ternyata sudah ramai diisi oleh suami dan kedua saudaranya. Sehingga ia ditinggal sendiri di belakang. Ara pun terus mengetuk pintu, ia ingin memberi tahu sesuatu. Dilihatnya jam di dinding kabin, saat itu juga ia berkeringat dingin.
"Astaga, ini?!"
Ara terkejut. Lekas-lekas ia mengetuk pintu berulang kali. Tak lama kemudian Owdie pun membukakan pintu untuknya.
"Ara?" Owdie tampak heran melihat wajah Ara.
"Kak Owdie, tolong panggilkan suamiku," pinta Ara yang gugup.
"Rain?"
"Iya, tolong cepat. Ini genting!" Ara takut bukan main.
"Em, ba-baiklah." Owdie segera masuk ke dalam ruangan pilot untuk memanggilkan Rain.
Owdie merasa heran. Ia melihat dahi Ara berkeringat seolah sedang ketakutan. Ia pun segera memanggilkan Rain. Sedang Ara masih menunggu di luar sambil kembali melihat jam di dinding kabin. Saat itu juga ia merasa semakin ketakutan.
Entah benar atau tidak, kami hanya punya waktu lima menit sebelum hal itu terjadi.
Tak lama Rain keluar dari area pilot. Ia melihat istrinya berkeringat dingin. "Sayang, ada apa?" Rain mengusap dahi istrinya.
"Sayang, tolong cepat daratkan pesawatnya. Akan ada angin topan melanda pesawat ini. Cepat, Sayang!" Ara memohon kepada suaminya.
"Ara?" Rain begitu heran. "Kau baik-baik saja?" Ia memegang wajah istrinya.
Ara memegang tangan Rain yang memegang wajahnya. "Sayang, tolong percaya padaku. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kita cuma punya waktu lima menit," kata Ara lagi, ia terlihat semakin panik.
Rain menelan ludahnya. Ia tampak ragu untuk menerima cerita dari sang istri. Namun, ia mencoba memercayainya.
"Cepat, Sayang! Cepat! Sebelum terlambat!" Ara meminta Rain bergerak cepat.
__ADS_1
Rain mengangguk. Ia akhirnya dapat menerima kata-kata sang istri. Lekas-lekas ia masuk ke dalam area pilot lalu meminta pilot pesawat untuk mendaratkan jet pribadinya. Seketika yang di dalam sana merasa heran semua.