Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Oh, My God!


__ADS_3

Di wastafel kamar mandi...


Ara mual-mual. Tidak biasanya ia seperti ini. Rain pun membantu menggulung rambut Ara agar tidak menggangu saat sedang ingin muntah. Dipijatnya bahu sang istri agar rasa mual itu bisa dikeluarkan. Namun nyatanya, tidak ada satupun yang keluar selain cairan bening seperti air liur. Rain pun mengambilkan tisu untuk istrinya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Rain tampak cemas sekali.


Malam ini adalah malam hari ulang tahun Rain yang ke dua puluh tujuh. Ia sendiri belum ingat jika besok adalah hari ulang tahunnya. Karena yang ada di pikiran Rain hanya Ara, Ara dan Ara seorang. Dan kini ia tampak cemas saat istrinya didera mual berkepanjangan.


"Sayang, maaf." Ara terengah-engah mengucapkannya.


"Sayang?" Rain pun mengusap pipi istrinya.


"Maaf aku tidak bisa melanjutkan makan malam. Aku seperti mencium bau daging kambing yang dibakar. Aku tidak kuat meneruskan makan malam. Kau saja, ya?" Ara meminta.


Rain mengusap keringat di dahi Ara dengan penuh kasih sayang. "Kita pulang saja ke rumahku sekarang. Malam ini kami juga belum membahas inti pertemuan." Rain menerangkan.


"Tapi ...." Ara seperti keberatan.


"Tak apa, Sayang. Semua barang kita di hotel sudah dibawa oleh orangku. Dia juga sudah sampai di rumah tadi sore. Sekarang kita pulang saja, ya." Rain memeluk istrinya.


Ara akhirnya mengiyakan ajakan Rain. Ia mengangguk.


Rain dengan segenap hati memegangi istrinya agar tidak sampai terjatuh. Ia khawatir jika Ara jatuh pingsan tiba-tiba. Sehingga ia selalu berada di sisi Ara. Karena bagaimanapun Rain mengetahui apa yang pernah terjadi sebelumnya. Dan Rain tidak ingin hal itu sampai terjadi lagi.


Ara sendiri kembali ke meja makan bersama Rain untuk berpamitan. Sesampainya di meja makan, Rain segera berbisik ke sang kakek yang sedang menyantap makan malam. Sang kakek pun hanya mengangguk sekali, seolah mengiyakan. Dengan segera Rain pun pergi bersama Ara dari rumah keluarga besar. Ia melaju ke rumah pribadinya yang ada di selatan kota ini.


Sesampainya di rumah Rain...


Rumah Rain berada di kawasan Washington DC bagian selatan. Ia membeli rumah itu dari hasil kerja kerasnya sendiri. Rumah yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menghangatkan, apalagi di saat musim salju seperti ini.


Perabotan rumah tangga di dalam rumahnya tidaklah terlalu banyak. Hanya sekedarnya dan yang penting-penting saja. Seperti perlengkapan makan, memasak dan juga tempat untuk menyimpan sayur-sayuran. Rain sengaja tidak melengkapi peralatan rumah tangganya karena ia amat jarang di rumah. Sehingga yang seperlunya saja.


Malam ini untuk pertama kalinya Ara singgah di kediaman asli Rain. Dilihatnya rumah Rain yang amat sederhana, namun halamannya begitu luas. Rumah seperti panggung itu menjadi saksi kedatangannya kali ini. Dan Ara begitu terpukau dengan desain rumah Rain. Sederhana namun terlihat begitu mewah.

__ADS_1


"Sayang, beristirahatlah. Nanti temanku akan datang untuk memeriksamu." Rain menyelimuti Ara agar hangat. Keduanya tengah berada di dalam kamar Rain yang luas, namun cahaya lampu sengaja ditemaramkan.


"Sudah jam sembilan malam. Apakah dia akan datang ke sini?" Ara menatap Rain dengan manja.


"Hahaha." Rain pun tertawa. "Kau tahu, Sayang. Kota ini tidak pernah tidur. Jangan khawatir." Rain meyakinkan.


Tak lama bel rumah Rain pun berbunyi.


"Mungkin itu dia. Tunggu, ya." Rain meminta Ara untuk menunggu.


Ara mengangguk. Rain pun segera beranjak meninggalkan kamar. Ia pergi menuju pintu ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata...


"James?" Rain terkejut melihat seorang pria berambut panjang datang ke rumahnya.


"Halo, Sobat. Ada yang bisa dibanting?" tanya pria bernama James kepada Rain.


Seketika Rain tertawa. "Hahahaha, kau ini ada-ada saja. Mari masuk." Rain merangkul James masuk ke dalam rumahnya.


James adalah kawan lama Rain. Mereka kuliah di universitas yang sama, namun berbeda fakultas. James seorang dokter umum yang mengambil banyak bidang tambahan di kedokteran. Sehingga gelarnya amat panjang, sangat sulit untuk diingat.


"Hm, ya. Kakek memajukan jadwal pertemuan kami. Jadi mau tak mau aku datang." Rain menceritakan.


"Lalu, ada apa kau memintaku datang kemari?" James belum tahu maksud Rain memintanya datang ke rumah.


"Aku rindu padamu," kata Rain yang sontak membuat James menelan ludah.


"Kau gila, ya?!" James merasa jijik dengan perkataan Rain.


Rain mengusap kepalanya. "Mungkin iya. Tapi ada baiknya jika kau bantu aku sekarang untuk mencari tahu sakit apa istriku." Rain membuat James tersadar akan maksud tujuan memintanya datang.


"Rain, kau sudah tidak gay lagi?!" James bicara kuat-kuat.


Seketika Rain menutup mulut James. "Sialan! Kau sengaja membuat istriku marah, ya!" Rain pun menyumpal mulut James dengan tangannya.

__ADS_1


"Lepaskan, Rain. Nanti aku bisa mati." Suara James terdengar kurang jelas karena mulutnya ditutup tangan Rain.


Seketika Rain melepas tangannya. Saat itu juga James seperti kehabisan napas. "Kau tidak berubah, ya." James terengah-engah. "Baiklah, langsung saja. Daripada aku mati di sini." James melangkahkan kaki, pergi dari hadapan Rain.


"Hei, mau ke mana?" tanya Rain saat James mau masuk ke salah satu ruangan.


"Memeriksa istrimu," jawab James polos.


"Itu pintu kamar mandi, Bodoh. Kau ingin ngapain, hah?" Rain merasa curiga dengan James.


"Astaga ...," James pun mengusap wajahnya. "Maaf, aku lupa. Sudah lama tidak ke sini." Akhirnya James bersama Rain masuk ke dalam kamar tempat Ara beristirahat.


Pintu kamar dibuka. Terlihatlah Ara yang merebahkan diri sambil menutup tubuhnya dengan selimut. James pun segera melakukan pemeriksaan atas persetujuan Rain.


Ia akan membantu Rain mencari tahu sakit apa Ara sebenarnya.


Dua jam kemudian...


Ara telah melakukan banyak pemeriksaan. Dari cek tensi darah, kolesterol sampai urin. Dan akhirnya didapatkan hasil jika Ara mengalami darah rendah. Tekanan darahnya di bawah normal, sedang kadar kolesterolnya masih bisa dibilang stabil. Namun, saat mengecek urin, hasilnya sungguh mengejutkan James.


"Rain, sudah berapa lama menikah dengannya?" James bertanya kepada Rain setelah memberikan obat kepada Ara.


Rain mengajak James keluar kamar. "Mungkin sudah dua minggu lebih," jawabnya lalu mengajak James duduk di sofa yang ada di dekat perapian.


"Hmm ...." James berpikir.


"Kenapa memang?" tanya Rain saat James sudah ikut duduk bersamanya di sofa yang berseberangan.


"Ini, lihatnya sendiri." James menyerahkan hasil tes urin Ara.


Rain mengambilnya. Ia kemudian melihat sendiri jika ada dua garis merah di testpack itu. Seketika jantungnya serasa tidak berdetak, seperti berada di ruangan hampa udara, tidak bernapas namun masih bisa tetap hidup. Jiwanya seperti ingin meloncat dari raga.


"James, ini ...?" Mata Rain berkaca-kaca saat memegang hasil tes urin tersebut.

__ADS_1


"Selamat, Rain. Kau akan menjadi ayah." James mengabarkan seraya tersenyum bahagia kepada Rain.


Rain terperanjat bukan main. Bumi ini seolah tidak dapat dipijaknya. Ia seperti terbang ke angkasa karena rasa gembira yang begitu luar biasa. Perlahan-lahan genangan air mata pun memenuhi bola mata birunya. Rain amat bahagia.


__ADS_2