Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Worried


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Senang rasanya bisa berpergian bersama suami di malam akhir pekan seperti ini. Apalagi dia begitu memanjakanku sepanjang jalan. Tak ada malu-malunya untuk menunjukkan kemesraan kami di hadapan orang. Sesekali dia juga membenarkan poniku yang tanpa sengaja acak-acakan saat memilih barang. Rainku memang suami idaman.


Kini kami sedang berada di supermarket untuk memanjakan mata dan menghabiskan waktu bersama. Tahu sendiri tempat yang paling disukai kaum ibu-ibu adalah swalayan. Jadinya aku mengajaknya berjalan-jalan ke sini. Membeli apa saja yang aku inginkan.


Tak perlu memikirkan ada diskon atau tidaknya suatu barang. Tak perlu juga memperhitungkan berapa mahal harga yang harus dibayar. Aku tinggal pilih saja apa yang kusukai. Dari perlengkapan pribadi, mandi, sampai perlengkapan calon bayi kami. Aku tinggal tunjuk saja lalu diambilkan olehnya. Senangnya memiliki suami yang pengertian.


Rainku sejak pendekatan memang sudah loyal. Mungkin karena hal itu jugalah aku kepincut berat padanya. Selain tampan dan hartawan, dia juga dermawan. Sebagai seorang wanita pasti menginginkan pasangan yang tidak perhitungan. Tentunya dalam segi apa saja terutama uang. Benar tau benar?


Kini aku sedang melihat-lihat perlengkapan bayi di salah satu supermarket yang ada di Kota Turki. Tidak terlalu jauh sih dari Istanbul. Tapi yang namanya jalan-jalan pasti memakan waktu yang cukup lama di perjalanan. Dan ya, aku menikmatinya. Apalagi jika bersama suamiku ini. Aku rela berlama-lama.


"Sayang, aku ingin warna yang merah muda itu," tunjukku dengan manja padanya.


Kami bergandengan tangan seperti tidak mau dipisahkan. Mungkin lebih tepatnya jika aku yang selalu tidak mau lepas darinya. Aku inginnya menempel terus seperti perangko. Ah, kata kiasan apa ya yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hati yang bahagia ini. Yang jelas aku ingin selalu dekat dengannya.


Owdie sendiri menunggu di dalam mobil. Katanya dia ingin merokok saja sambil mengecek-ngecek akunnya. Dia tadi terlihat stres saat mulai membicarakan Byrne, entah mengapa. Sepertinya dia begitu merindukan saudaranya. Padahal bisa dibilang dia itu dulu menyebalkan karena hampir membuatku salah paham terhadap si hujan. Tetapi ternyata hanya candaannya saja.


"Sayang, baby walker ini cocoknya untuk bayi perempuan. Kau yakin anak kita perempuan?" Suamiku terlihat ragu saat melihat lebih dekat barang yang kumau.

__ADS_1


Aku tertawa. Tak tahu mengapa melihat wajahnya yang ragu membuatku tertawa. Dia lucu sekali. Aura wibawanya seperti tidak ada lagi saat menghadapiku. Menurut saja apa yang kupinta. Sepertinya dia juga tidak risih saat aku bermanja ria padanya. Ya mungkin karena kami sudah menikah jadinya tidak masalah.


"Sayang, beli saja. Warnanya cantik, motifnya juga bagus," kataku, merayunya sambil mengedipkan mata.


Aku tertarik untuk membeli baby walker berwarna pink. Motifnya lucu dan juga imut sekali. Warna merah muda mendominasi alat bantu berjalan balita ini. Juga ada pelindung dari panas dan hujan yang transparan. Jadi jika bayiku sedang berlatih berjalan, dia tetap bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depannya. Tidak akan menumbur sekalipun diterpa debu.


"Baiklah kita beli. Apa lagi? Beli popok sekalian ya." Suamiku tampak luluh dan pasrah saat kukedipkan mata.


Sungguh malam ini dia kusibukkan dengan keinginanku. Aku ingin ditemani saat membeli ini dan itu. Bahkan hanya sekedar melihat-lihat saja aku ingin dia selalu berada di dekatku. Aku manja sekali. Walaupun pada kenyataannya, dia seperti sibuk membalas pesan seseorang di ponselnya. Entah siapa, aku tidak mau curiga. Aku mencoba percaya padanya.


Sayang, terima kasih telah menyempatkan diri untuk menemaniku berjalan-jalan hari ini.


Aku tidak peduli terhadap keadaan supermarket yang ramai malam ini. Aku bermanja saja padanya. Maklum rindu sudah menggebu. Apalagi suamiku ini sempurna luar dalam. Aroma parfumnya juga ikut menggoda setiap kali tercium olehku. Pokoknya, Rainku nomor satu.


Tak terasa waktu terus berlalu. Apa yang aku inginkan akhirnya bisa dibelikan oleh suamiku. Dan kini aku sedang duduk di mobil bersama saudaranya. Sedang suamiku tampak berbicara dengan seseorang di parkiran supermarket. Sepertinya mereka telah membuat janji temu sebelumnya. Terbukti dengan Owdie yang tidak ikut menemui seseorang itu dan hanya suamiku saja.


Aku berbalik ke belakang. "Kak Owdie, itu siapa? Kenapa Kak Owdie tidak ikut turun dan mengobrol bersamanya?"


Aku penasaran. Jelas penasaran. Kulihat suamiku berbicara dengan seseorang berkemeja hitam yang seperti baru pulang dari kantoran. Aku tidak tahu itu siapa karena belum diberi tahu suamiku sebelumnya. Saat melakukan pembayaran atas barang belanjaan, kulihat dia menerima telepon dari seseorang. Dan setelahnya aku diminta menunggu di dalam mobil bersama Owdie. Tak tahu mengapa, tapi mungkin saja ada sesuatu yang ingin dirahasiakan dari orang itu.

__ADS_1


"Itu ajudan Mentri Pertambangan Turki, Ara." Owdie memberi tahu.


"Hah? Benarkah?!" Aku tak percaya.


"Iya. Rain memintamu untuk menunggu agar pembicaraan mereka tidak terganggu. Apalagi kesempatan bertemu hanya bisa di sini," tutur Owdie lagi.


Saudara suamiku tetap duduk di belakang mobil sambil ikut memperhatikan suamiku yang sedang berbicara dengan pria itu. Aku pun mencoba mengerti maksud si hujan kenapa diminta menunggunya di dalam mobil saja. Ternyata ada pembicaraan yang begitu penting di antara mereka. Jadinya aku tidak boleh ikut. Entah tentang apa, aku menunggu saja.


Wajah Owdie sendiri terlihat harap-harap cemas terhadap pertemuan yang terjadi. Aku ingin menanyakan berkenaan dengan apa, tapi takut menyinggung perasaannya. Jadinya diam saja sambil memperhatikan keadaan sekitar. Dan tak lama, suamiku pun menyelesaikan obrolannya dengan berjabat tangan dengan pria itu. Dia pun mengantarkan kepergiannya sampai hilang dari pandangan mata.


Sepertinya membicarakan hal yang sangat penting.


Rainku belum menceritakan apapun tentang pertemuannya. Tapi karena tidak ingin ambil pusing, aku nikmati saja cemilan yang tadi dibeli. Aku menunggu dia kembali ke mobil sambil meminum susu UHT dan keripik balado. Tak lama dia pun datang lalu masuk ke dalam mobil. Dia kembali duduk di depan setir.


"Bagaimana Rain?" Owdie segera bertanya kepada suamiku.


Tak tahu apa yang mereka maksudkan, aku mendengarkan dan memperhatikannya saja. Karena untuk saat ini memang lebih baik diam jika tidak tahu urusan.


"Dia akan mengabari kapan waktu luang pak Menteri." Suamiku mulai menghidupkan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Apakah bisa mengetahui keberadaan Byrne saat ini?" tanya Owdie lagi.


Sontak aku terbatuk-batuk mendengarnya saat Owdie menanyakan tentang keberadaan Byrne. Tentu saja membuat hatiku semakin bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa? Dan apa yang terjadi dengan organisasi? Mengapa Owdie sampai terlihat cemas seperti ini?


__ADS_2