Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
He is Handsome


__ADS_3

Suamiku menghela napas. "Dia tidak bisa memberikan gambaran yang spesifik. Tapi mungkin kita bisa mendapatkan informasi saat bertemu dengan pak menteri langsung," kata suamiku.


Kulihat Owdie menundukkan wajahnya. Dia terlihat seperti sedih sekali. Aku jadi semakin penasaran, sebenarnya ada apa?


"Bersabarlah, Owdie. Kita pulang ke apartemen sekarang. Besok kita bicarakan lagi."


Suamiku seperti mengerti hal yang melanda saudaranya. Namun, ia tidak ingin menambah beban dengan berpikir lama-lama. Dia pun mulai melajukan mobilnya.


Terlihat Owdie yang mengangguk lemas di kursi belakang mobil. Sepertinya dia menyimpan kekecewaan atas pertemuan suamiku dan seseorang itu. Mungkin tidak seperti apa yang diharapkannya. Entahlah. Lebih baik mengalihkan suasana dengan bersuka cita agar keduanya tidak terlihat lelah. Aku pun mencoba membuat lelucon seadanya.


Sesampainya di gedung apartemen...


Hujan rintik-rintik mulai turun menghiasi malam. Kami pun segera keluar dari mobil lalu menuju gedung apartemen. Untung saja halaman parkir tidak terlalu jauh dari gedung, sehingga tidak sampai kebasahan. Dan untungnya aku mempunyai suami yang pengertian seperti si hujan. Dia begitu melindungiku. Sambil membawa semua barang belanjaan, dia melindungiku dengan tubuh tingginya. Romantis sekali.


"Rain, aku langsung istirahat ya. Kabari jika besok akan ke istana." Kami akhirnya masuk ke dalam gedung apartemen. Owdie pun berpesan.


"Ya. Besok pagi aku akan ke apartemenmu. Sekarang beristirahatlah." Keduanya saling berpamitan sebelum berpisah malam ini.


Aku pun tersenyum kepada Owdie sebagai salam perpisahan. Suamiku juga segera memegang tanganku lalu mengajak ku menuju lift. Kami berjalan bersama memasuki lift gedung lalu menekan lantai tujuan kami. Kebetulan suasana apartemen sudah mulai sepi. Jadinya bisa bermanja lagi.


"Sayang, kulihat saudaramu seperti frustrasi. Apa sebenarnya yang terjadi?" tanyaku pada si hujan sambil menunggu sampai lantai tujuan.


Rain mencium keningku. Tak lama pintu lift pun terbuka. Kami berjalan bersama kembali menuju pintu apartemen. Tapi dia belum juga menjawab pertanyaanku. Entah mengapa.


"Sayang, aku bertanya," kataku lagi.


Langkah demi langkah semakin mendekati pintu. Tapi, dia tidak kunjung juga menjawab pertanyaanku. Aku pun kesal. Segera kulepas pegangan tangannya lalu menyilangkan kedua tangan di dada. Aku tidak suka didiamkan. Jadinya aku ngambek saja. Terserah dia mau berpikir apa.


"Sayang?" Dia menyapaku.


"Bodok!" Aku memalingkan wajah darinya.


Suamiku tidak marah saat melihatku ngambek. Dia malah tersenyum manis lalu membukakan pintu apartemen untukku. Padahal barang belanjaan kami cukup banyak yang dibawa. Tapi dia tidak terlihat keberatan sama sekali. Dan setelah pintu terbuka pun dia mengulurkan tangannya padaku. Tapi kutolak mentah-mentah. Aku masuk sendiri saja, berjalan melewatinya. Saat itu juga dia mengikutiku dari belakang lalu mengunci pintu apartemen dari dalam. Sedang aku bergegas ke kamar untuk melanjutkan ngambekku.

__ADS_1


Ibu sepertinya sudah tertidur.


Kulihat jam di dinding telah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Itu berarti kami berpergian lumayan lama dan meninggalkan ibu sendirian di apartemen. Kebetulan ibu memang tidak suka berpergian malam-malam. Jadinya lebih memilih beristirahat saat malam datang.


"Sayang." Suamiku menahanku yang terus saja berlalu darinya.


"Apa?!" Aku berbalik, menghadapnya dengan memasang wajah cemberut.


"Sudah ngambeknya. Nanti aku ceritakan." Dia berjanji padaku.


"Benar ya?" Aku pun memegang janjinya.


Dia mengangguk lalu merangkul pinggangku. Kami masuk ke dalam kamar bersama. Aku pun menurut saja. Kembali ke sediakala sebagaimana sikap seharusnya seorang istri kepada suaminya. Toh, ngambek juga hanya sementara. Tidak boleh berlama-lama.


Lima belas menit kemudian...


Aku duduk di depan cermin sambil melepas jaketku. Dan kini hanya mengenakan daster putihku saja. Sedang suamiku tengah berada di kamar mandi. Dia ingin mencuci muka dan tangannya terlebih dahulu sebelum tidur malam ini. Aku pun menunggunya sambil menyisir rambutku. Tak berapa lama dia datang sambil mengelap wajahnya dengan handuk kecil. Dia terlihat lebih segar dibandingkan tadi.


"Lalu?" Aku menggeser dudukku, menghadapnya.


"Byrne sedang tertimpa masalah serius. Alat pelacak yang Owdie berikan padanya tidak berfungsi lagi. Maka dari itu dia sangat khawatir." Suamiku menceritakan.


"Alat pelacak?" Aku merasa heran sendiri.


"Ya."


Dia berjalan mendekatiku. Berdiri di belakangku lalu mengambil sisir. Dia menyisir rambutnya sendiri dengan masih mengenakan kemeja putih dan celana dasar hitamnya. Namun, kancing kemeja atasnya dibiarkan terbuka. Membuatku bisa mengintip sedikit bagian dada bidangnya.


"Byrne ditawan pihak intelijen Rusia atas masalah senjata biologis. Dia memang ahli sains yang keahliannya dimanfaatkan oleh organisasi. Tapi, organisasi lepas tangan saat dia tertangkap." Suamiku kembali menceritakan.


"Yang benar, Sayang?!" Aku tak percaya.


Suamiku merendahkan tubuhnya di sampingku. Dia lalu menempelkan pipinya di pipiku. Kami berada di depan cermin besar bersama. Dia sepertinya ingin berkaca denganku.

__ADS_1


"Sudah, jangan dilanjutkan lagi pembicaraannya. Nanti besok juga akan tahu sendiri. Kau mau ikut kan nanti?" tanyanya padaku.


Aku cemberut. "Aku maunya sekarang," kataku.


Dia tersenyum lalu mencubit pipiku. "Istriku ini memang terburu-buru ya Baiklah. Kalau begitu kita ceritakan saja di atas ranjang." Dia lalu menggendongku ala pengantin.


"Sayang!" Aku pun terkejut dengan tindakannya.


Dia tiba-tiba saja menggendongku tanpa aba-aba. Jadinya aku terkejut dengan tindakannya. Kulingkarkan kedua tanganku ini di lehernya lalu pasrah dibawanya ke atas ranjang kami. Sesampainya dia pun segera merebahkan tubuhku dengan perlahan di atas kasur.


"Sudah lama ya."


Dia merendahkan tubuhnya di depanku. Jarak kami begitu dekat sekali. Wajah tampannya bisa kulihat dari sini. Bahkan bayanganku pun terpantul di bola mata birunya.


"Apanya?" Aku pura-pura tidak tahu saja.


"Apanya yang apanya?" Jari jemarinya mulai menurunkan tali dasterku.


"Sayang ...." Aku pun mengerti arah pembicaraannya.


"Tiba-tiba aku merasa kepanasan melihat istriku secantik ini. Bisakah bantu aku untuk memadamkan api yang di dalam tubuhku ini?" tanyanya seraya mendekatkan wajahnya ke bahuku.


"Sayang, mmh!"


Bahuku ternyata dicium olehnya. Satu kecupan yang membangkitkan seluruh gairah di tubuhku. Aku sudah sangat merindukannya. Aku juga begitu menginginkannya. Dan sepertinya malam ini akan segera tersalurkan hasrat yang bergejolak di dada. Aku pun pasrah dikendalikannya.


"Harum sekali ...."


Dia menghirup aroma bahuku. Hirupannya membuat napasku terasa berat. Bibir tipisnya juga mulai menelusuri lenganku. Lalu semakin lama semakin ke bawah. Hingga akhirnya dasterku diturunkan setengah di bagian dada olehnya.


"Sayang."


Aku pun merasa terhanyut dengan sentuhannya. Tergoda untuk melanjutkannya sampai ke bagian yang lebih dalam lagi. Kulebarkan kedua kakiku agar dia mudah meraih apa yang kumiliki. Saat itu juga kedua tangannya mencengkeram tanganku. Kami berpegangan tangan untuk menikmati setiap sentuhan. Malam ini hanya milik kami berdua. Tidak ada yang berani mengganggu ataupun melarangnya.

__ADS_1


__ADS_2