Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
As Long As


__ADS_3

Pukul sebelas siang waktu Dubai dan sekitarnya...


Rain kini sedang melihat rekaman CCTV kemarin pagi. Ia menemukan kejanggalan pada seorang pria berjaket hitam yang menyerahkan amplop cokelat itu kepada office boy kantor. Ia kemudian meminta bantuan asistennya untuk menginterogasi office boy tersebut.


Ialah Ro yang menjadi asisten pribadi Rain. Ia seperti wakil Rain yang disegani semua karyawan perkilangan minyak.


"Tuan Rain." Tak lama Ro datang, mengetuk pintu ruangan yang dibiarkan terbuka.


"Bagaimana Tuan Ro?" tanya Rain segera.


Ro segera masuk, pria berjas hitam itu lalu duduk di depan meja kerja Rain dan menceritakan perihal apa saja yang telah ditemukannya. Rain pun mendengarkan dengan saksama.


Berarti benar apa yang dikatakan oleh Jack.


Tak lama Rain pun mengambil kesimpulan jika memang benar ada yang ingin mengadu domba dirinya dan juga Ara.


Astaga, aku tidak menyadari hal ini sedari awal!


Rain lalu menelepon seseorang. Ia meminta orang tersebut untuk membuntuti plat nomor kendaraan pria berjaket hitam yang memberikan amplop cokelat kepada office boy. Rain ingin segera menemukan siapa orang yang menjadi penyebab pertengkarannya dengan Ara.


Aku tidak akan membiarkannya lolos. Siapapun itu dia telah lancang menganggu hubunganku!


Rain kemudian menutup perbincangannya bersama Ro. Ia kembali bekerja sambil menunggu kabar selanjutnya. Sang penguasa akhirnya bisa bernapas lega. Ia tidak perlu berlama-lama dalam rasa cemburunya.


Lain Rain, lain juga Ara. Sang gadis kini tengah berjalan bersama Taka menuju gedung olahraga kampus. Taka berencana akan memperkenalkan Ara dengan guru dan teman-teman karatenya. Namun, sesampainya di depan gedung, tiba-tiba Ara merasa mual. Ia kemudian berpamitan kepada Taka.


"Taka, aku ke toilet sebentar, ya. Nanti aku akan kembali." Ara berpamitan.


"Kau baik-baik saja, Ara? Wajahmu tampak pucat." Taka khawatir.


"Em, aku baik-baik saja. Tunggu, ya!" Ara segera pergi.


Taka pun melihat Ara pergi begitu cepat dari hadapannya. Ia merasa khawatir karena wajah sang gadis terlihat pucat. Ia merasa sesuatu telah terjadi pada temannya itu.


Beberapa menit kemudian...


"Aduh, sepertinya aku masuk angin."


Ara terlihat memijat lehernya sendiri. Ia berjalan menuju gedung olahraga dengan lesu.


"Ara!" Tak lama Taka pun memanggilnya dari jauh.


"Taka?"


Ara lekas-lekas mendekati Taka yang sedang berbicara dengan seseorang. Ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa orang itu karena tertutupi badan Taka. Namun, sesampainya...


"Ara, kenalkan ini guru karateku." Taka memperkenalkan.


"Kau?!" Ara pun tak percaya dengan sosok yang dikenalkan oleh Taka.


"Eh?" Taka jadi heran sendiri.

__ADS_1


Pria itu tersenyum saat melihat Ara datang. Sedang Ara masih terperanjat kaget karena bertemu kembali dengan pria yang sudah menolongnya. Ya, Ara bertemu kembali dengan Lee.


"Tu-tuan ...." Ara seperti tidak dapat berkata apa-apa.


"Ara, kau mengenal guru Lee?" Taka melirik keduanya bergantian.


"Jika ingin mengajaknya melihat latihan, tak apa." Pria yang memang benar adalah Lee itu berbicara kepada Taka.


"Guru, ini..." Taka bingung sendiri.


"Senang bertemu kembali denganmu, Nona. Permisi." Lee bergegas pergi setelah menyapa Ara.


Dia?


Ara pun terheran sendiri. Ia melihat kepergian Lee dari hadapannya.


Entah mengapa keduanya dipertemukan kembali. Namun, kali ini dengan situasi yang berbeda. Ternyata Lee adalah guru karate Taka, teman baru Ara.


"Ara, kau mengenal guruku?" Taka bingung melihat Ara terperanjat.


"Hm, ya. Dia sudah dua kali menolongku. Dia siapa?" Ara balik bertanya sambil menoleh ke Taka.


"Dia adalah guru karate di kampus ini. Dan juga seorang dosen teknik. Tampan, bukan?" Taka memuji gurunya.


"Ih, kenapa berkata seperti itu?" Ara cemberut.


"Hahaha. Banyak yang menyukainya, Ara. Termasuk duo kampus yang kau temui kemarin. Tapi sayangnya, guru tidak tertarik sama sekali." Taka menceritakan.


"Oh..." Ara mengangguk-angguk.


"Em, baiklah."


Ara mengiyakan. Keduanya lalu berjalan bersama menuju kantin kampus.


"Taka."


"Hm?"


"Dia sudah lama mengajar di sini?" tanya Ara ingin tahu.


"Ya. Dia sudah lama di sini, bahkan sejak kuliah dulu," jawab Taka.


"Eh, berarti dia dulunya mahasiswa kampus ini?" tanya Ara lagi.


"He-em. Dia mahasiswa berprestasi. Dia mendapat bea siswa di kampus ini." Taka menjelaskan.


Ara tertegun. Ia tidak menyangka jika Lee adalah seorang dosen di kampusnya. Rasa cemas pun tiba-tiba melanda hati dan pikirannya.


"Ara, kau baik-baik saja?" tanya Taka yang khawatir.


"Em, aku ... baik-baik saja." Ara segera menormalkan dirinya.

__ADS_1


"Kau terlihat pucat hari ini. Apa kita perlu ke ruang kesehatan terlebih dulu?" Taka menawarkan.


"Em, tidak. Kita ke kantin saja. Mungkin aku bisa makan sup ayam di sana." Ara tersenyum, menutupi.


"Em, baiklah. Tapi sepertinya di kantin hanya ada sup kambing. Tak apa?" tanya Taka lagi.


"Em, tak apa." Ara pun bersedia.


"Baiklah." Taka pun mengiyakan.


Keduanya lalu melanjutkan langkah kaki bersama, menuju kantin kampus untuk bersantap siang. Dan ini adalah kali pertamanya bagi Ara dan Taka dapat makan siang bersama.


Ternyata gadis itu kuliah di sini.


Tanpa keduanya sadari, Lee memperhatikan mereka dari jauh. Sang dosen melihat Ara berjalan bersama muridnya menuju kantin kampus. Ia pun mulai menyadari mengapa bisa dipertemukan kembali dengan Ara.


Semilir angin siang ini menemani langkah kaki Lee menuju ruang dosen. Ia memutuskan kembali ke ruangan sebelum mengajar di kelas berikutnya. Di sepanjang jalan terlihat banyak mahasiswi yang menyapanya. Tapi, Lee hanya sebatas tersenyum saja.


"Lihat! Dosen Lee tampan sekali, ya!" Gadis berambut merah terkagum-kagum dengan sikap Lee yang bersahaja.


"Hei, Rose. Jangan terlalu menunjukkan rasa sukamu!" Gadis berbando hitam mengingatkan temannya.


"Hei, kau ini berisik sekali, Jasmine!" Gadis berambut merah itupun marah kepada gadis berbando hitam.


"Sudah, jangan marah-marah. Kita ke kelas saja, yuk!" Jasmine mengajak.


"Hah, ya baiklah." Rose akhirnya menurut.


Lee baru saja kembali mengajar selepas mengambil cuti beberapa hari. Ia mempunyai kegiatan di luar kota yang mengharuskannya untuk mengambil cuti. Dan kini Lee telah kembali aktif mengajar di kampus Ara. Ia juga tidak menyangka jika akan bertemu kembali dengan gadis yang ditolongnya waktu itu. Seperti bumi yang tak pernah menyangka jika hujan akan turun membasahi.


...


Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.


Kugantungkan hidupku di tanganmu.


Orang bilang aku ini gila dan aku buta.


Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.


Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.


Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.


Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.


Selama kau masih di sini bersamaku.


Aku tak peduli siapa dirimu.


Darimana asalmu.

__ADS_1


Apa yang sudah kau lakukan.


Selama kau mencintaiku...


__ADS_2