Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Truth


__ADS_3

Pangeran Agartha kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju gubuk danau. Sedang Rain termenung di tempatnya karena merasa prihatin dengan keadaan pangeran. Timbul rasa ingin membantu pada dirinya agar pangeran dapat kembali menemukan cintanya. Tapi, ia juga tidak tahu harus bagaimana.


Ternyata selama ini pangeran terpaksa menerima putri itu.


Rain kemudian memutuskan untuk kembali ke tujuan awal datang ke danau ini. Yaitu mencari tahu di mana keberadaan ayah dan ibunya. Ia menepiskan sejenak cerita yang dituturkan pangeran lalu kembali fokus untuk menemukan kedua orang tuanya.


Beberapa saat kemudian...


Semilir angin terasa lebih dingin. Suasana sekitar juga terlihat lebih terang jika dibandingkan di danau. Sebuah telaga terlihat di depan kedua mata Rain. Ia tampak takjub kala melihatnya. Ternyata di belakang gubuk ada jalan setapak menuju ke sebuah telaga. Telaga yang tidak terlalu besar, namun airnya begitu berwarna-warni. Rain pun merasa keadaan sekitar tampak berbeda dengan yang ada di danau. Aura mistis begitu kencang terasa di sini.


Benar kata istriku, ini seperti dunia fantasi. Bagaimana bisa ada telaga yang mempunyai air berwarna-warni?


Rain amat takjub.


Ya Tuhan, istriku mengajak berpetualang ke negeri yang tak pernah kubayangkan. Benar apa kata Byrne, Ara memang bukanlah gadis biasa.


Dalam rasa takjubnya, ia melihat sang pangeran seperti sedang mengeluarkan tenaga dalam, di tepi telaga yang mempunyai banyak warna itu. Tak lama kemudian, air berputar cepat sehingga membuat mata Rain tidak sanggup untuk melihatnya. Lama kelamaan air telaga berubah menjadi warna putih lalu memunculkan sebuah cermin besar dari dalam. Pangeran pun tampak mengambil napas setelah selesai mengeluarkan tenaga dalamnya.


"Katakan apa yang kau inginkan. Jelaskan asal usulmu di depan cermin ini. Cermin ini akan membantumu melihat kejadian masa lampau yang masih menjadi misteri." Pangeran berkata kepada Rain.


Telaga yang Rain kunjungi adalah telaga seribu warna. Bukan telaga biasa, melainkan telaga dengan penuh kekuatan supranatural. Kita dapat merasakan energi sekitar yang begitu kental dan sangat terasa. Tak ayal Rain pun merasakannya.

__ADS_1


"Baik Pangeran." Rain mengangguk pelan sambil membuka lebar-lebar matanya. Ia masih tak percaya jika ada tempat seperti ini.


"Jangan takut. Aku akan menemani." Pangeran meyakinkan.


Rain mengambil napas panjang. Ia kemudian berjalan mendekat ke telaga di mana cermin besar sudah ada di hadapan matanya. Ia mencoba mengingat kembali masa lalunya. Pangeran Agartha pun memegang pundak Rain. Seperti sedang membantu memberikan kekuatan agar Rain fokus dalam mengingat masa lalunya. Tak lama kemudian, tubuh Rain bergetar. Mata ketiganya terbuka dan memancarkan sinar ke arah cermin telaga. Saat itu juga cermin membiaskan penglihatan Rain.


Ya Tuhan ....


Rain seperti tidak dapat bergerak, tubuhnya terasa kaku. Namun, satu per satu penglihatan masa lalunya terbuka. Di saat itu juga ia benar-benar terkejut saat melihat cermin mengilas balik masa kecilnya. Rain melihat jika ia hanyalah seorang bayi yang dibawa oleh beberapa tentara. Namun, ia tidak dapat melihat di mana gerangan keberadaan ayah dan ibunya.


"Kenali pria berpakaian hitam yang duduk di kursi megah itu!" Pangeran Agartha meminta.


Rain mendengarnya. Ia kemudian fokus melihat sesosok pria yang mengenakan pakaian hitam. Terlihat pria berjas hitam itu menandatangi sebuah surat penting. Yang mana surat itu kemudian diberikan kepada panglima tinggi tentara USA. Rain tidak tahu apa isi surat tersebut. Namun, ia kemudian menyadari isi surat itu setelah melihat panglima tinggi itu memimpin sebuah peperangan di dataran tandus. Rain pun menyadari sesuatu.


Kepala Rain begitu sakit setelah memompa alam bawah sadarnya untuk mengulang kejadian yang telah lalu. Ia tidak sanggup dan akhirnya menyudahi penglihatannya. Ia jatuh terduduk karena tidak mampu lagi untuk meneruskan ingatannya. Pangeran Agartha pun dengan segera mengerahkan kekuatannya. Ia bergantian membuka mata ke tiga untuk melihat kelanjutan ingatan Rain. Tak berapa lama pangeran mengembalikan cermin itu ke dasarnya. Ia bekerja keras dalam membantu Rain untuk menemukan kedua orang tuanya.


Beberapa menit kemudian...


Air di telaga kembali berputar, seperti menyedot cermin besar itu agar kembali. Perlahan-lahan cermin itu pun masuk ke dalam telaga. Setelahnya warna air di telaga kembali normal seperti sediakala. Berwarna-warni bagai spektrum cahaya yang indah.


Pangeran telah berusaha keras membantu Rain dalam menemukan kedua orang tuanya. Hingga akhirnya ia mendapati sebuah jawaban tentang asal muasal pria yang sedang duduk lemah di sampingnya. Pangeran pun merasa iba setelah mengetahui keadaan sesungguhnya. Ia kemudian duduk di dekat Rain sambil menepuk pundak suami dari Ara tersebut. Sedang Rain masih mencoba mengatur ulang napasnya. Ia tampak amat kelelahan setelah melihat apa yang terjadi di masa lalunya. Ia tidak percaya terhadap kebenaran yang diperlihatkan cermin besar itu.

__ADS_1


Sam ... jadi kau yang telah menyuruh tentara-tentara itu untuk mengobrak-abrik desaku?!!


Kepala Rain terasa amat pusing. Kilas balik tentang masa lalunya membuat Rain naik pitam. Ia mengambil kesimpulan jika penyebab dirinya berpisah dengan kedua orang tuanya adalah karena kakek angkatnya sendiri, Sam. Sam yang memerintahkan para tentara itu untuk menginvasi desa Rain. Rain pun mulai menaruh dendam kepada kakeknya.


Cermin telaga seribu warna menampilkan bagaimana tentara menyerang kawasan tempat di mana Rain dilahirkan. Rain yang masih bayi itupun berlindung bersama ibunya agar keberadaannya tidak diketahui. Namun naas, beberapa tentara mendobrak tempat persembunyian Rain dan ibunya. Dan mereka kemudian mengambil paksa Rain yang masih kecil. Entah apa motifnya, namun sejak saat itulah Rain berpisah dengan ibunya.


"Kau boleh percaya atau tidak dengan apa yang ditampilkan cermin telaga." Pangeran membuka percakapan setelah berhasil mengembalikan keadaan seperti semula.


Rain terdiam. Ia belum bisa berkata apa-apa. Jantungnya berdetak kencang karena tidak bisa menerima apa yang dilihatnya.


"Efeknya hanya sebentar. Jangan khawatir. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya." Pangeran Agartha menyadari apa yang Rain rasakan.


Rain memegangi kepalanya. "Apakah yang kulihat tadi benar-benar bisa dipercaya, Pangeran?" Rain bertanya, ingin lebih memastikan.


Pangeran Agartha mengambil satu kerikil lalu dilemparkannya ke telaga. "Aku tidak tahu benar atau tidak. Tapi setahuku, cermin ini bisa memantulkan apa yang terjadi padamu sebelumnya. Dia menguak misteri yang ingin kau ketahui. Dan kau telah melihatnya sendiri tadi." Pangeran menerangkan.


Rain menarik napas dalam-dalam. "Aku amat tidak percaya jika kakekku sendiri yang telah menjadi dalang terpisahnya aku dan kedua orang tuaku." Rain mengungkapkan.


Pangeran Agartha mengangguk. Ia kemudian menepuk pundak Rain. "Kadang banyak hal tak terduga yang kita alami. Tapi jika itu memang suratan takdir, mampukah kita melawannya?" Pangeran Agartha mencoba menenangkan Rain.


Rain menelan ludah berulang kali. Ia meluruskan kedua kaki setelah rasa pusing melanda hebat kepalanya. Kini sang penguasa pertambangan minyak itu lebih bisa mengatur napasnya.

__ADS_1


"Tapi aku belum mengetahui di mana keberadaan ayah dan ibuku. Cermin besar itu hanya menceritakan bagaimana aku bisa terpisah dengan kedua orang tuaku." Rain merasa tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.


Pangeran Agartha mengerti. Ia tersenyum kepada Rain.


__ADS_2