
Malam harinya...
Rain dan Ara makan malam untuk yang pertama kalinya sepulang dari USA. Tampak Rain duduk berhadapan dengan sang istri saat makan malam ini. Ia pun tidak henti-hentinya memandangi Ara yang tengah berbadan dua.
"Sayang, matamu." Ara merasa risih.
"Kenapa mataku?" tanya Rain segera.
"Matamu itu selalu saja melihatku. Kau ingin?" Ara memastikan perkiraannya.
Rain tertawa. Ia menutupi mulut dengan tangannya. "Tidak, Sayang. Kita istirahat saja untuk beberapa waktu. Kau harus banyak-banyak beristirahat." Rain mengusap tangan Ara.
"Eh?!" Ara pun merasa aneh dengan sikap suaminya.
Tumben dia memintaku beristirahat? Biasanya selalu saja tidak bisa melihatku menganggur sebentar. Apa yang terjadi padanya?
Ara bertanya-tanya dalam hati mengapa suaminya bisa berubah secepat ini. Ia merasa heran dan juga curiga dengan perubahan yang terjadi pada suaminya. Ia khawatir Rain akan berpindah hati.
Rain, kau harus lebih bisa menahan hasratmu. Kasihan istrimu, dia harus menderita karena ulahmu.
Lain dengan Rain. Ia mencoba memposisikan diri agar tidak terbawa hasratnya lagi. Rasa mual yang melanda Ara karena mengandung anaknya, sudah cukup menjadi alasan bagi Rain untuk tidak terlalu memporsir tenaga sang istri. Ara juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan tidak selalu harus menuruti keinginannya. Karena jika dituruti, keinginan Rain tidak akan ada habisnya.
Malam ini keduanya meneruskan makan malam dengan suasana yang sedikit berbeda. Tidak luwes seperti biasanya. Namun, Rain dengan cepat menyadarinya. Ia segera membuat lelucon agar canda tawa tercipta. Ia tidak ingin istrinya sampai salah sangka.
Sementara itu di lain tempat...
Semilir angin malam menjadi saksi atas kedatangan seorang pria berambut pirang ke sebuah rumah yang ada di pusat kota. Ia mendatangi pemilik rumah itu dengan ditemani beberapa pengawal pribadinya. Wajahnya menyiratkan kekejaman yang tidak lagi bisa disembunyikan. Ia terus terang, langsung ke inti pembicaraan.
"Aku akan membayarmu lima puluh ribu dolar jika berhasil membocorkan pipa perkilangan minyak."
Ialah Nick yang mendatangi salah satu pekerja Rain. Nick ternyata cepat bertindak dan mencari tahu siapa saja orang-orang penting di perkilangan minyak yang Rain kerjakan. Ia meminta orang-orangnya bergerak di dalam kegelapan.
"Tuan, aku tidak bisa. Tuan Rain pasti akan memecatku." Pekerja itu menolaknya.
"Baiklah. Lima puluh ribu dolar lagi untuk membayar kekhawatiranmu. Bagaimana?" Nick menawarkan.
__ADS_1
Seseorang itu mulai tergiur dengan apa yang ditawarkan Nick kepadanya.
"Kau bisa membuka usaha jika Rain sampai memecatmu. Lagipula tugasmu mudah. Hanya mengganti pipa saja. Tidak terlalu sulit, bukan? Kau pasti lebih mengerti hal apa yang harus dilakukan." Nick memaksa.
Seorang pekerja itu tampak berpikir. "Bagaimana jika aku menolaknya?" Rasa takut masih ada di dirinya.
Nick mendekatkan wajahnya ke pekerja itu. "Nyawamu dan keluargamu akan terancam." Nick ternyata benar-benar mengancam pekerja Rain.
Sudah kepalang tanggung, hal itulah yang terjadi pada Nick. Kedatangannya pasti sudah terlihat kamera CCTV yang ada di rumah pekerja Rain. Mau tak mau ia memberikan uang besar agar pekerja Rain menyetujui permintaannya. Nick pun segera memberikan seratus ribu dolar tunai ke atas meja pekerja tersebut. Yang mana ancaman Nick menjadi bahan pertimbangannya.
"Apakah ada konsekuensi jika pekerjaan ini telah selesai?" tanya pekerja itu.
Nick tersenyum menyeringai. "Tidak ada. Setelah selesai maka anggap saja aku tidak pernah mendatangimu." Nick membuat kesepakatan.
"Tapi bagaimana jika ketahuan?" Pekerja Rain masih takut.
"Jika ketahuan bilang saja kepada penyidik hal ini murni kecelakaan. Kau pura-pura tidak tahu mengapa bisa terjadi. Tapi jika ditekan, jangan bawa-bawa namaku. Kau mengerti?!" Nick berkata tegas.
"Ba-baik." Pekerja Rain seperti tidak bisa menolak perkataan Nick.
Nick ternyata benar-benar ingin menyingkirkan Rain. Ia sampai-sampai melakukan penerbangan dari USA ke Dubai hanya untuk melancarkan rencana jahatnya. Nick sudah mempertimbangkan hal ini sebelumnya. Ia tidak ingin Rain mengambil haknya. Karena menurut Nick, tahta organisasi hanya boleh jatuh ke tangannya. Bukan ke Rain walaupun status saudaranya itu sudah menikah.
Rain, maafkan aku. Tapi inilah aku yang sesungguhnya.
Nick membayar orang untuk mencelakai Rain. Ia menyusun rencana untuk menjatuhkan Rain. Nick bekerja sama dengan salah satu pekerja Rain untuk mengganti pipa pengeboran minyak. Namun, apakah rencana Nick akan berhasil?
Menjelang tidur...
Rain dan Ara sedang merebahkan diri di atas kasur. Dan entah mengapa hasrat Rain tiba-tiba muncul saat tanpa sengaja melihat isi daster Ara yang tersembul. Ia tampak menelan ludahnya saat melihat bongkahan padat yang tertutupi daster itu.
Rain, bertahanlah.
Ara sendiri masih asik bermanja ria dengan suaminya. Ia merebahkan kepala di dada Rain sambil menonton adegan romantis di ponselnya. Ia streaming drama Korea dan mengajak Rain untuk ikut nonton bersamanya. Tetapi entah mengapa, hasrat Ara tiba-tiba bangkit saat melihat adegan ciuman di film itu. Ia kemudian melirik ke arah suaminya. Rain pun segera menyadari.
"Sayang?" Rain menatap kedua bola mata istrinya.
__ADS_1
Ara pun tersenyum.
Sang penguasa terlihat ragu-ragu untuk menanyakannya. "Sayang ingin?" tanya Rain ragu.
Seketika Ara mengerutkan dahinya. "Katanya istirahat?" Ara menjebak Rain.
"Astaga ...." Rain pun mengusap wajahnya.
Ara sengaja menjahili suaminya. Ia tahu persis jika Rain tidak bisa menahan hasrat saat bersamanya. Pasti saja yang di bawah sana sudah meronta-ronta.
Baiklah, Suamiku. Bagaimana jika kita uji ketahanan dirimu?
Ara mulai jahil. Ia naikkan sedikit tubuhnya hingga sejajar dengan Rain. Ia pun berpura-pura memperlihatkan film romantis kepada suaminya. Sehingga mau tak mau Rain melihat bukit ranum di depan kedua matanya yang begitu menggoda.
Dia ini ....
Pada akhirnya Rain gelisah sendiri. Ia mencoba berpaling, tidak melihat milik istrinya. Tapi Ara dengan jahil memaksa Rain untuk terus melihat film romantis yang ditunjukkannya. Hingga akhirnya sang penguasa tiada berdaya.
"Sayang."
"Hm?"
"Bolehkah aku meminum susu?" tanya Rain kepada Ara.
"Sebentar, ya. Aku buatkan." Ara beranjak bangun.
Saat itu juga Rain menarik istrinya, sehingga Ara jatuh tepat di atas tubuhnya. "Aku ingin yang menggantung," kata Rain dengan wajah serius. Ia menelan ludahnya, khawatir Ara juga marah.
Ara pun menahan tawanya. "Lebih suka yang ini?" Ara semakin jahil, ia menurunkan sedikit dasternya pada bagian dada.
"Sayang, kau sengaja rupanya." Rain segera menurunkan daster Ara.
"Sayang, jangan! Geli—ah!"
Saat itu juga seluruh aliran listrik di tubuh Ara tersambung. Di bawah tubuhnya sedang ada yang menghisap-hisapnya. Sehingga Ara pun lemas, tiada bertenaga. Rain berhasil mendapatkan dirinya. Ia kembali bergerilya.
__ADS_1