
Suara bel apartemen berbunyi, menyadarkan kami yang sedang berpelukan. Lantas aku melepaskan diri lalu berniat untuk membukakan pintu. Namun, priaku tidak mengizinkannya.
"Biar aku saja, Ara."
Priaku beranjak bangun lalu berjalan menuju pintu. Dia membiarkan aku tetap di sini sementara dia yang membukakan pintu. Rasanya senang sekali. Dia amat menyayangiku dan tidak ingin aku lelah. Baru kali ini aku merasakan kehangatan kasih sayang seorang pria. Dan itu kudapatkan dari dirinya, calon suamiku sendiri.
"What's up, Rain!"
Kudengar seseorang berkata dari balik pintu. Sedang priaku masih menahan pintu agar tidak terbuka sepenuhnya.
"Kupikir siapa, masuklah." Dia lalu mempersilakan masuk seseorang yang datang.
Aku tidak tahu siapa yang datang. Tapi sepertinya memang orang terdekat darinya. Dan kulihat pria berambut pirang masuk bersamanya. Kulit tubuhnya pucat seperti orang sakit. Sedang tinggi tubuhnya hampir sama dengan priaku.
"Eh?!"
Tamu yang datang kaget melihatku. Begitupun dengan aku. Pria berambut pirang itu menoleh ke arah Rain seperti bertanya siapa aku ini.
"Dia Ara, Byrne." Priaku menyebut nama pria itu dengan sebutan Byrne.
Siapa dia? Apakah saudaranya?
Aku belum tahu siapa Byrne sampai akhirnya priaku mengenalkannya. "Ara, ini saudaraku. Kami dibesarkan bersama sejak kecil," katanya.
Aku lantas berdiri, menyambut kedatangan pria berkulit pucat itu. "Salam, aku Ara." Kuletakkan tangan kanan di dada sebagai salam penghormatan.
Kulihat pria bernama Byrne ini menoleh ke arah calon suamiku lagi. Dan calon suamiku hanya tersenyum. Mereka tidak berkata apa-apa di depanku. Hanya dari gestur tubuhnya seperti sedang berbicara.
Mungkin mereka terbiasa berbicara dengan bahasa tubuh.
Kami lantas duduk bersama. Namun, aku tidak enak hati jika diam saja di sini. Aku lalu berdiri karena ingin membuatkan minuman untuk Byrne. Karena tradisi di negaraku amat menghargai kedatangan tamu.
"Ara, duduk saja. Biar aku yang membuatkan minuman."
Lagi-lagi priaku tidak mengizinkan. Aku diminta duduk diam saja di sofa sedang dia yang bergegas mengambilkan minuman. Dia seperti tidak keberatan meninggalkan aku di sini bersama saudaranya. Sepertinya dia amat percaya kepada Byrne. Aku juga tidak melihat semburat cemburu dari wajahnya.
"Ara masih kuliah?"
Pria bernama Byrne ini membuka percakapan saat priaku sedang pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman. Aku pun hanya mengangguk seraya tersenyum. Aku tidak banyak bicara karena khawatir priaku akan salah paham. Aku masih ingat benar bagaimana situasi saat dia melihat fotoku bersama Lee waktu itu. Dia tidak menerima alasan apapun dariku. Cemburunya begitu besar.
"Kudengar kalian akan segera menikah. Selamat, ya." Pria bernama Byrne ini mengucapkan selamat padaku.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak." Aku memanggilnya dengan sebutan kakak.
Sontak kulihat dia terkejut. Dia seperti kaget dengan kata panggilanku. Lalu tak lama kulihat priaku datang membawakan minuman. Yang ternyata bukan teh ataupun kopi, melainkan minuman berkarbonasi.
"Nama aslinya Brian Adams. Tapi kami terbiasa menyingkat namanya, Ara." Priaku meletakkan minuman ke atas meja.
"Brian Adams?" Aku kaget, ternyata nama Byrne itu adalah singkatan.
"Ya, benar. Kami terbiasa menyingkat nama seseorang sejak kecil. Dia juga tidak keberatan. Benarkan, Byrne?"
Priaku duduk di sisi kananku. Kami duduk berseberangan dengan Byrne. Byrne pun tersenyum sendiri. Dia seperti malu.
"Kalau kamu?" tanyaku kepada priaku.
"Aku tetap Rain. Dari kecil namaku Rain. Hanya saja saat sudah beranjak remaja mendapat tambahan dari kakek," katanya.
"Eh?!" Aku bingung sendiri.
"Rain Sky." Byrne menambahkan.
Hujan langit? Nama yang indah.
Entah mengapa aku merasa sejuk saat mengartikan nama calon suamiku. Dia memang bagai hujan yang menyegarkan, menyuburkan tanah tandus dan bahkan menghidupkan negeri yang mati. Menurutku nama itu memang pantas melekat padanya.
"Ya, aku memang pulang cepat hari ini. Kondisi Ara belum pulih sepenuhnya." Priaku menceritakan.
"Ara sakit?" Byrne bertanya padaku. Dia menunjukkan perhatian sebagai calon keluarga untukku.
"Ara mengalami kejadian aneh, Byrne. Dan aku curiga jika hal ini ada kaitannya dengan Jane." Priaku terus terang kepada Byrne.
Sungguh aku khawatir jika Byrne tidak dapat dipercaya saat mendengar penuturan dari priaku. Aku khawatir dia satu komplotan dengan wanita itu. Tapi sepertinya ini hanya sebatas rasa khawatir saja. Kulihat Byrne turut prihatin atas ceritaku.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku harap kau berhati-hati, Rain." Byrne berpesan.
"Minumlah, Byrne." Priaku lantas mempersilakan minum saudaranya.
Mereka kemudian berbincang sebentar, membicarakan rencana ke depan terhadap tugas yang akan mereka lakukan di Timur Tengah. Dan baru kuketahui jika kedatangan Byrne bertujuan untuk berpamitan ke negara selanjutnya. Tapi, priaku menahannya.
"Aku ingin meminta bantuanmu terlebih dulu. Bisakah tunda keberangkatan untuk dua hari ke depan?" Priaku meminta.
"Kau ingin apa?" tanya Byrne seraya meneguk gelas minumnya.
__ADS_1
"Aku ingin menemui Jane dan membicarakan masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Tapi aku khawatir kedatanganku akan disalahartikan olehnya. Sehingga aku mempunyai rencana sebelum menemuinya." Priaku menuturkan.
"Hm, boleh juga." Byrne tampak setuju.
"Aku juga akan meminta bantuan Owdie. Tapi dia sedang sibuk menjadi juri ratu tahun ini. Mungkin besok pagi kita bisa berkumpul lagi." Priaku meminta.
"Baiklah. Kau tenang saja. Aku siap membantu. Nanti kita lanjutkan lagi bicaranya. Aku juga ada keperluan malam ini." Byrne seperti ingin berpamitan.
"Kau akan menemui kepala farmasi kota?" tanya priaku.
"He-em. Aku harus mendapatkan tanda tangan darinya agar kakek tidak berteriak di telepon. Kau tahu sendiri bagaimana kakek, Rain." Byrne lantas beranjak dari duduknya.
"Hahaha. Pria tua itu memang tidak tahu diri. Terkadang masih suka mengusili urusan anak muda." Priaku juga ikut berdiri.
"Ara, lekaslah pulih. Kasihan si hujan tidak ada yang menampungnya." Byrne berkata padaku.
Entah apa maksudnya, kulihat priaku ini menyikut perut saudaranya. "Sakit, Rain!" Byrne memegangi perutnya.
"Ara, jangan dengarkan dia. Dia terkadang ada benarnya," kata priaku, lalu kulihat keduanya tertawa bersama.
Aku merasa hidupku tidaklah sesepi dulu. Kini aku bisa melihat canda tawa antar saudara yang amat dekat. Aku pun ikut berdiri, berniat mengantarkan Byrne sampai ke depan pintu bersama priaku. Rangkulan priaku pada pria bernama Byrne ini membuat hatiku merasa damai sekaligus iri. Iri karena aku tidak bisa seperti itu bersama kakakku.
"Sampai jumpa, Saudaraku." Keduanya lantas berpelukan di depanku. Byrne bergegas pergi.
"Ya. Nanti kita saling mengabari. Hati-hati di jalan, Byrne." Priaku melepas kepergian saudaranya.
Mereka amat dekat.
Dia merangkulku seraya melihat kepergian saudaranya dari hadapan kami. Hingga akhirnya Byrne masuk ke dalam lift, barulah dia mengajak ku masuk kembali.
"Dia saudara terdekatku, nomor satu." Priaku menjelaskan seraya masuk bersama ke dalam.
"Lalu yang ke dua?" tanyaku ingin tahu.
"Yang ke dua aku malas menyebutkannya. Dia selalu membuatku kesal," katanya lalu mengunci pintu apartemen dari dalam.
Seketika aku menyadari siapa yang dimaksud olehnya. Sepertinya aku tahu siapa itu. Karena setahuku tidak ada saudara yang lain di sini selain ... Owdie.
"Ara, minumlah air dari kakek Ali." Priaku mengingatkan.
"Em, baik."
__ADS_1
Aku lantas menuju dapur untuk meminum air yang diberikan Kakek Ali untukku. Air putih biasa jika dilihat dengan mata biasa. Tapi tidak tahu jika dilihat dengan mata batin, mungkin lain lagi ceritanya.