
Beberapa jam kemudian...
Saat ini sudah jam dua siang waktu Istanbul dan sekitarnya. Saudara suamiku juga sudah berpamitan selepas makan siang bersama. Dia katanya ingin menyewa apartemen yang ada di lantai bawah untuk beberapa malam. Katanya sih ada urusan yang harus segera diselesaikan bersama suamiku. Jadinya dia menyewa apartemen di lantai satu. Kebetulan kosong dan memang bisa disewakan harian.
Kini aku sedang merebahkan diri di atas kasur untuk bersiap tidur siang. Ibu juga sudah berpamitan untuk tidur tadi. Jadinya aku dan suamiku juga ikut masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Tapi, sebelum terlelap aku ingin menanyakan apa yang terjadi padanya. Terutama berkenaan dengan Owdie, saudaranya.
"Sayang, bagaimana keadaanmu sesampainya di USA?" tanyaku mengawali.
Suamiku duduk menyandarkan punggung sambil membuka laptopnya di sisi kananku.
"Aku baik, Sayang. Hanya saja ada beberapa peristiwa yang tidak kusangka-sangka." Dia menjawabnya sambil menoleh ke arahku.
Kulihat suamiku sedang membuat surat pengajuan untuk pemerintah Turki. Entah apa isinya, aku hanya dapat membaca kepala suratnya saja. Sepertinya hal serius tengah terjadi.
"Bagaimana pertemuanmu dengan kakek?" tanyaku lagi.
Suamiku berhenti sejenak. Dia menghentikan aktivitasnya. Kulihat raut wajahnya tiba-tiba berubah. "Kakek sudah meninggal. Dan aku tidak sempat menemani saat-saat terakhirnya." Raut wajah suamiku terlihat sendu.
"Maaf." Aku pun segera merebahkan kepala ini di bahunya. "Aku tidak tahu. Jadi peristiwa itu yang terjadi?" tanyaku lagi.
Dia memberatkan kepalanya di kepalaku. "Besok aku berencana datang ke pemerintahan Turki. Kau mau ikut?" tanyanya, seperti mengalihkan pembicaraan.
"Eh?!" Aku segera mendongakkan kepala, melihatnya.
"Tak apa. Biar kau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau sudah menjadi istriku. Tak perlu lagi ada yang ditutup-tutupi." Dia menuturkan seraya tersenyum padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk. Tentu saja sebagai seorang istri ingin keterbukaan dari suami. Apapun itu aku juga ingin tahu. Jadi jika sewaktu-waktu terjadi, aku tidak kaget lagi.
"Bagaimana keadaanmu saat beberapa hari kutinggal?" Dia bergantian bertanya padaku. Menutup laptop lalu meletakkannya di atas meja kasur.
"Aku ... aku tidak ke mana-mana. Hanya di rumah saja bersama ibu. Selama kau pergi, aku tetap berada di apartemen. Rasanya suntuk sekali. Ingin jalan-jalan tapi suami melarang," godaku.
Dia menempelkan dahinya di dahiku. "Bukan melarang, Sayang. Hanya berjaga-jaga saja. Kau tahu, mata-mata dan kaki tangan organisasi ada di mana-mana. Mereka tersembunyi di tengah ribuan orang yang lalu lalang di kota. Aku hanya khawatir kau diculik oleh mereka. Sehingga aku tidak bisa berkutik melawannya. Tahu sendiri jika aku mempunyai saudara yang tidak menyukaiku. Bahkan dia juga hampir mencelakaimu." Suamiku mengingatkan tentang saudaranya yang bernama Nick.
"Iya, sih. Tapi aku juga ingin refreshing. Keluar jalan-jalan bersama suami. Lagipula bosan jika di apartemen terus. Aku ingin melihat dunia luar." Aku jujur saja.
Kuakui aku mulai bosan jika berada berlama-lama di apartemen. Inginnya jalan-jalan bersama suami dan menghirup udara segar. Maklum ibu hamil, inginnya manja dan disayang suaminya. Begitu juga dengan aku sekarang yang ingin selalu bersama si hujan. Aku harap dia tidak keberatan dengan sifat manjaku ini.
"Baiklah. Nanti kita keluar. Tapi, istirahat dulu ya. Perjalanan jauh sekali untuk sampai ke sini." Suamiku mulai merebahkan diri di sampingku.
"Em, baiklah. Aku juga ingin istirahat," kataku padanya.
Tiga jam kemudian...
Aku terbangun dari tidur siangku. Samar-samar mendengar suara suamiku sedang menerima telepon. Kucoba membuka mata dan kulihat dirinya sedang berada di dekat jendela kamar. Ternyata dia sudah bangun mendahuluiku.
"Jadi dia mengambil dua per tiga harta kakek?" tanya suamiku pada seseorang di seberang telepon itu.
Kulihat tangan kirinya memegang ponsel sedang tangan kanannya di masukkan ke dalam saku celana. Sweter krim dan celana panjang putih membalut tubuh tinggi dan maskulinnya.
"Baiklah. Terima kasih. Kalau begitu nanti akan kucek kembali kartu debit dan kreditku. Semoga sudah bisa dicairkan." Dia berkata lagi.
__ADS_1
Aku duduk menyandar di kepala kasur sambil terus melihatnya yang sedang melakukan percakapan telepon. Tak lama kemudian ia pun menyudahi sambungan teleponnya. Berbalik ke arahku dan menemukanku sudah terbangun.
"Sayang, ada apa?" Segera saja aku bertanya padanya. Aku ingin tahu apa yang terjadi.
Dia duduk di pinggir kasur. "Owdie telah membantu mencairkan seluruh asetku kembali. Rencana aset tak bergerak akan kujual dan kuinvestasikan menjadi emas. Kau setuju, Sayang?" tanyanya.
Puji syukur aku mendengarnya. Ternyata asetnya yang dibekukan telah bisa dicairkan sekarang. "Aku ikut saja denganmu. Tapi bagaimana dengan kebun anggurmu di USA?" Aku teringat dengan kebun anggur milik suamiku.
Suamiku tersenyum. "Owdie berani membayar tinggi untuk kebun itu. Aku sudah memutuskan untuk menetap di Timur Tengah sampai tua nanti. Ini memang kampung halamanku. Jadi aku akan stay di sini. Tentunya bersamamu dan juga anak kita." Dia tersenyum lalu mengusap perutku.
Aku mengangguk. "Tapi kudengar ada dua per tiga tadi. Itu tentang apa ya?" Aku kepo sekali.
"Hahahaha." Suamiku tertawa. Dia lalu mengusap kepalaku. "Sekarang Nyonya Rain jadi materialistis ya." Dia mengejekku.
"Ih!" Aku pun memukul pelan lengan kirinya. "Namanya juga akan menjadi seorang ibu. Pasti sudah ada yang dipikirkan dan itu tidak untuk diri sendiri. Bagaimana sih!" Aku pun kesal padanya.
"Iya-iya." Dia mencubit pipiku dengan gemas. "Tadi Owdie mengabarkan jika Nick mengambil alih dua per tiga harta warisan dari kakek. Sedang kami, dua belas saudara seperasuhannya hanya mendapatkan sepertiga yang dibagi dua belas." Suamiku menceritakan.
"Eh?! Kok begitu?!" Aku merasa tidak terima.
Suamiku menghela napasnya. "Ya, mau bagaimana lagi. Dia sekarang yang mengambil alih organisasi. Jadi dia yang mengatur semuanya. Termasuk harta warisan yang kakek miliki," tutur suamiku lagi.
"Tapi apa dia tidak kekenyangan memakan dua pertiga sendirian? Sedang yang sepertiganya saja dibagi dua belas?" Aku merasa heran dengan saudaranya yang bernama Nick.
Suamiku tersenyum. "Dia merasa cucu kandungnya kakek. Jadi biarlah. Yang penting asetku sudah bisa dicairkan. Sekarang bersiap-siap. Kita jalan-jalan keluar sambil memeriksakan kandungan." Dia mengajak ku.
__ADS_1
Aku mengangguk. Tentu saja senang bukan main karena akan segera berjalan-jalan bersamanya. Dengan semangat empat lima aku bangun dari kasur lalu bergegas mandi. Aku akan dandan yang cantik hari ini untuk jalan-jalan bersamanya. Semoga saja dia tidak keberatan dengan dandananku nanti.