Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
One Way


__ADS_3

Sementara itu di kampus...


Jam kuliah sudah berakhir hari ini. Rose pun keluar kelas dengan wajah muram karena habis dimarahi oleh dosen yang mengajarnya. Tanpa ia sadari ada robot berbentuk truk mini sedang memperhatikannya keluar dari kelas.


Kelas Rose sudah kosong. Gadis berblus hitam itu segera melangkahkan kakinya menuju parkiran kampus. Ia berniat menemui ayahnya untuk mengadukan prihal yang sudah dilakukan dosen kepadanya. Namun, saat ingin mengambil ponsel dan kunci mobilnya di dalam tas, ia menjerit kesakitan.


"Awww!!!"


Sontak Rose menarik tangannya dari dalam tas. Dan ia lihat jarinya terluka, mengeluarkan darah. Rose pun panik. Ia seketika melempar tasnya ke depan.


"Rose, ada apa?"


Jasmine terheran-heran sendiri melihat Rose membuang tasnya. Dilihatnya jari Rose yang berdarah, ia pun segera mengambilkan tisu basah dari dalam tasnya.


"Jasmine, coba lihat isi tasku!" Rose meminta dengan panik.


Jasmine penasaran. Ia kemudian mengambil tas yang sudah Rose buang. Ia melihat apa yang ada di dalamnya sehingga bisa sampai membuat jari Rose terluka. Ia kemudian melihat...


"Aaaaa!"


Jasmine berteriak, ia ikut melemparkan tas Rose. Bahkan lemparannya lebih jauh dari lemparan Rose. Membuat seluruh mahasiswa yang lalu-lalang di dekatnya terheran-heran dengan tingkah keduanya.


"Rose, di dalam tasmu!" Jasmine gemetaran, ia syok melihat isi tas Rose.


"Ada apa di dalam tasku?!" Rose semakin panik.


"Ad-ada kep-kepiting. Kepiting merah di tasmu." Jasmine terbata.


"Apa?!" Rose tak percaya.


"Benar, Rose. Lihat saja sendiri." Jasmine memegang dadanya karena kaget.


Rose mengelap jarinya dengan tisu basah. Ia kemudian mengambil tasnya kembali. Ia balikkan tasnya untuk mengeluarkan seluruh isi dari dalam tas tersebut. Hingga akhirnya kepiting merah itu keluar bersamaan dengan ponsel dan kunci mobilnya. Seluruh isi tasnya juga ikut keluar semua.

__ADS_1


"Sial! Siapa yang berani melakukan hal ini padaku?!!"


Rose kesal. Wajahnya merah padam menahan amarah. Lekas-lekas ia periksa kembali tasnya untuk memastikan tidak ada lagi kepiting atau hewan lain di dalamnya. Setelah itu ia masukkan kembali isi tasnya. Termasuk ponselnya yang kini layarnya sudah retak terkena batako tanah.


"Kita ke kantor ayahku sekarang!" Ia mengajak Jasmine untuk segera ke parkiran kampus.


Jasmine mengikuti, hingga akhirnya mereka sampai di parkiran kampus. Rose pun masuk segera ke dalam mobil bersama Jasmine. Ia menghidupkan mesin mobilnya. Namun...


"Kenapa mobil ini seperti tersendat, tidak mau hidup?"


Ia bingung saat mencoba menginjak gas mobilnya. Knalpot mobilnya seolah tersendat sesuatu. Alhasil, mobilnya tidak bisa hidup.


"Kenapa lagi, sih?!"


Rose semakin kesal. Ia kemudian keluar dari mobil untuk memeriksa apa yang terjadi. Ia berjongkok lalu melihat knalpot mobilnya. Lalu tak lama kemudian...


"Aaaaaaa!!!" Ia berteriak saat seekor tikus hitam melompat ke arahnya. "Jasmiinneeee!!!" Ia berteriak memanggil nama Jasmine. Seketika Jasmine pun keluar dari mobil.


"Rose, ada apa?" Jasmine bingung sendiri.


"Siapa yang telah berani berbuat hal ini kepadaku?!" Rose tampak murka.


"Ak-aku tidak tahu, Rose. Sungguh. Memangnya apa yang terjadi?" Jasmine terbata, takut terkena ocehan Rose.


"Di knalpot mobilku ada tikus hitam tadi. Dan saat aku melihatnya, dia melompat ke arahku. Sialan!!!" Rose kesal bukan main.


"Rose, bangunlah dulu." Jasmine mengulurkan tangannya untuk membantu Rose berdiri.


Rose meraih tangan Jasmine lalu berdiri. Ia bersihkan debu yang menempel di celana dan tangannya. Niat buruk pun terlintas di benaknya untuk membalas semua perbuatan orang yang telah melakukan hal ini.


Aku tidak akan membiarkan siapapun selamat karena telah berani menjahiliku. Rose berapi-api di dalam hatinya.


Ia kemudian masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Jasmine. Bukannya sadar, Rose malah semakin menjadi-jadi. Ia kemudian menghidupkan mesin mobilnya lalu keluar dari parkiran kampus. Rose berniat mengadukan hal yang terjadi kepada ayahnya.

__ADS_1


"Rose, kau baik-baik saja?" Jasmine mencoba menegur temannya.


"Sudah, diam saja! Hari ini juga akan kulenyapkan orang yang telah berani mengerjaiku." Rose mulai melajukan mobilnya menuju kantor sang ayah.


Jasmine hanya bisa diam karena tidak berani menyapa Rose lagi. Ia khawatir jika pendekatannya kepada Lee juga ikut diketahui oleh Rose. Bisa-bisa yang tadinya teman bisa menjadi lawan. Dan Jasmine tidak ingin hal itu sampai terjadi. Ia tidak mau nama baik ayahnya tercoreng karena hal ini.


Di asrama mahasiswa...


Ken, Taka dan Nidji duduk berkumpul di lantai kamar, membicarakan kelancaran misi mereka. Ketiganya kini tengah tertawa setelah menceritakan misi masing-masing. Taka pun merasa senang dalam hatinya.


"Aku harap setelah ini dia tidak berani menindas mahasiswa yang lainnya. Cukup aku saja." Taka berbicara kepada kedua temannya.


"Ya, aku juga berharap seperti itu. Tapi bagaimana jika dia malah semakin menjadi-jadi?" tanya Ken kepada Taka.


"Aku sudah menghapus semua jejak terorku. Semoga saja CCTV kelas tidak melihat robotmu." Taka berharap.


"Aku juga sudah menyimpan robotku dengan baik. Tak lupa membersihkan sebelumnya. Aku berniat mencat ulang jika tercium bau-bau ketahuan." Ken dengan santai menanggapi.


"Hahahaha." Nidji tertawa. "Kalian tidak perlu sekhawatir itu. Karena yang harusnya khawatir itu aku. Aku sendiri yang memasukkan tikus itu ke dalam knalpot mobilnya. CCTV parkiran juga pastinya menangkap wajahku. Tapi aku sih santai saja, tidak terlalu memikirkannya." Nidji menimpali.


"Tenang, Kawan. Jika sampai ketahuan, kami tidak akan tinggal diam. Benar kan, Taka?" Ken merangkul Nidji, menenangkan.


"Ya, tentu saja. Kita datang ke sini bertiga. Kembali juga harus bertiga. Jika dia menuduh kita, kita akan balik menuduhnya. Kita buktikan jika bersama kita bisa. Semangat, Kawan!" Taka mengajak keduanya bertumpuk tangan.


"Yeah! Semangat!"


Ketiganya bertumpuk tangan lalu menghempaskannya ke atas. Mereka kompak dalam menjalankan misi ini, memberi Rose pelajaran. Menurut mereka, persahabatan seperti satu tubuh yang utuh. Jika satu bagian terluka, maka bagian yang lain akan ikut merasakan sakitnya. Dan mereka sudah berjanji untuk saling setia, apapun keadaannya.


Lain ketiga sahabat, lain juga dengan Rain yang masih menunggu Ara di rumah sakit. Jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Dimana seharusnya ia sudah bisa beristirahat. Tapi nyatanya, pikirannya dirundung kegelisahan karena sang calon istri belum juga siuman. Rasa-rasanya ia ingin menangis saja.


"Ara, bangunlah. Kumohon ...."


Ia duduk di sisi kanan sang gadis yang sedang tertidur dalam. Ia pegang tangan Ara sambil mengecupnya berulang. Ia tidak tega melihat Ara harus menanggung hal ini seorang diri. Bagaimanapun ia adalah lelaki, bertanggung jawab kepada gadisnya. Ia tidak ingin beban ini dirasakan Ara seorang diri.

__ADS_1


"Tuan."


Tak lama pintu ruangan diketuk dari luar. Rain pun segera mempersilakan masuk yang datang. Dan ternyata yang datang adalah Jack. Tapi, Jack tidak datang sendiri. Melainkan bersama seorang pria tua yang sudah bisa dibilang kakeknya. Pria tua itu lalu memberi salam kepada Rain.


__ADS_2