
Dua jam kemudian...
Aku dan tuanku sudah mandi. Kini dia mengenakan kaus tanpa lengan berwarna hitam dan jeans birunya. Sedang aku mengenakan tengtop hitam dibalut kardigan putih lengan panjang, dan juga celana pensil sebatas lutut. Sehabis sarapan tadi kami segera bergantian mandi. Dan sekarang tengah mengobrol di depan TV.
"Hei, bola matamu sangat indah."
Aku memujinya di sela-sela perbincangan kami. Seketika pipinya merona merah karena mendapat pujian dariku.
"Warnanya biru atau hijau, sih? Kenapa saat melihatnya aku merasa terhanyut, ya?" kataku lagi.
Dia seperti salah tingkah sendiri. "Ara, jangan merayuku," ucapnya malu.
"Merayu? Sepertinya tidak. Kau memang sangat tampan dan juga..."
"Dan juga?" Dia menungguku.
Aku sengaja bertingkah seperti ini agar dia tidak sungkan untuk membeberkan siapa dirinya. Aku juga ingin tahu tentangnya dan keluarganya. Jangan dia saja yang banyak tanya tentangku.
Kutatap wajahnya penuh arti sambil menopang dagu dengan tangan kanan. Kupandang terus dirinya sampai dia salah tingkah sendiri. Dan akhirnya dia beranjak pergi.
"Aku haus," katanya lalu pergi dari hadapanku.
Aku terkekeh melihatnya salah tingkah seperti ini. Kami memang sedang duduk di depan TV tapi tidak di sofanya, melainkan lesehan di atas karpet berbulu. Hari ini kami bersantai sebelum menyambut hari esok yang super sibuk.
"Ara, kau ingin makan apa nanti siang?" tanyanya lalu meletakkan gelas ke atas meja makan.
"Apa, ya?" Aku berpikir sejenak.
"Kau mau coba—"
Belum sempat meneruskan kata-katanya, ponselnya tiba-tiba saja berdering yang membuatnya harus segera mengangkat telepon itu.
"Halo?" jawabnya.
Tak dapat kudengar jelas pembicaraan dari seberang karena kami berjauhan. Namun, dia lagi-lagi melirik ke arahku saat menerima telepon, membuatku semakin penasaran saja.
"Aku akan mengusahakannya datang." Dia menanggapi pembicaraan dari seberang. "Ya, kembali." Dan tak lama dia pun mematikan teleponnya.
"Siapa Sayang?" tanyaku ingin tahu.
"Aku mendapat undangan syukuran kelahiran dari mantan pekerjaku. Dia meminta untuk datang dan ikut mencukur rambut anaknya." Dia berjalan mendekat.
Eh? Ternyata di sini juga ada tradisi seperti itu?
"Masalahnya kita sedang menghabiskan waktu bersama. Jika memenuhi undangan, waktu kita akan tersita." Dia kemudian duduk di sisi kananku.
__ADS_1
"Em ...." Aku berpikir.
"Bayinya perempuan. Aku pikir malah laki-laki," katanya lagi sambil mengganti channel TV.
"Aku suka perempuan." Segera aku menjawab tanpa memikirkan dampak ke depannya.
Dia pun menoleh ke arahku. "Kau suka bayi perempuan?" tanyanya seperti memastikan.
"He-em." Aku mengangguk lalu memalingkan pandangan karena malu sendiri.
Dia kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Bagaimana jika kita membuatnya sekarang?" Dia berbisik pelan.
"Ish!" Kucubit saja pinggangnya.
"Aw! Sakit, Ara!" Seketika itu juga dia memegang pinggangnya yang kucubit.
"Habisnya. Sebulan saja belum ada sudah mengajak membuat." Aku mengerutu sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Hahaha." Dia tertawa. "Kau tahu, Ara. Kau itu menyebalkan sekaligus lucu." Dia meluruskan kakinya di sampingku.
"Bodok." Aku pura-pura ngambek saja.
"Sudah-sudah. Aku hanya bercanda." Dia merangkulku.
"Lepaskan!" Aku pura-pura berontak padahal ingin terus dirangkul olehnya.
"Memangnya kau berasal dari mana?" Aku ingin tahu.
"Negara asalku USA. Sejak kecil aku tinggal di sana." Dia tersenyum padaku.
"Berarti..."
"Di sana sangat bebas, Ara. Sekalipun melakukan hubungan intim, itu hal yang lumrah saja. Asal suka sama suka, aman dari jeratan hukum." Dia mulai menceritakan.
"Apa?!" Aku pura-pura terkejut, padahal sudah tahu.
"Di sana laki-laki dan perempuan berbaur jadi satu, hal yang biasa saja. Tidak seperti di negaramu. Jadi jika nanti kau kuajak pulang ke sana, jangan kaget." Dia berpesan sebelum terjadi.
"Tapi ... aku masih ragu." Aku mengingat perkataan pria bernama Owdie itu.
"Ragu?" Dia menekuk kedua kakinya sambil menatapku.
"Iya. Aku ragu apakah kau baik-baik saja?" Aku mencoba mengorek kebenaran tentangnya.
"Maksudmu?" Seketika roman wajahnya berubah.
__ADS_1
"Kemarin Owdie datang tapi aku lupa memberitahukannya. Dan dia berpesan agar menyampaikan perkataannya padamu." Aku melambatkan ucapan.
"Lalu?" Dia seperti amat penasaran.
"Dia bilang jangan ganggu tidurnya. Dan juga meminta pertanggungjawabanmu," kataku lagi.
"Apa?!!" Seketika matanya terbelalak, dia menelan ludahnya.
"He-em." Aku mengangguk. "Apa karena hal ini kau mengajak ku menikah?" tanyaku berhati-hati.
"Apa maksudnya, Ara?!" Tiba-tiba dia menaikkan intonasi bicaranya.
"Maksudku, apakah kalian mempunyai hubungan khusus?" tanyaku lagi.
Tuanku segera berdiri. Dia terlihat marah sekali. Aku pun jadi takut saat melihat tatapannya seperti siap menerkam siapa saja.
"Jadi kau menuduhku penyuka sesama?" Dia akhirnya mengerti maksudku.
Aku ikut berdiri. "Aku tidak menuduh, hanya saja ingin kejelasan. Aku tidak mau jadi kambing hitam hubungan kalian," kataku terus terang.
"Ara, kau keterlaluan! Telah menuduhku yang bukan-bukan." Dia terlihat kesal sekali.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak ada maksud seperti itu." Aku tertunduk di hadapannya. "Aku hanya takut salah langkah," kataku lagi.
"Ara, tatap aku!" Dia memegang kedua lenganku, aku pun menatapnya. "Kau ragu akan kejantananku?" tanyanya sambil menatapku dalam.
"Bukan begitu, aku hanya—"
Belum sempat meneruskan kata-kata, dia segera menundukkan wajahnya ke arahku, bergerak cepat. Dan akhirnya ... dia menciumku.
Tuan ....
Bibirku tertahan tidak dapat lagi mengucapkan sepatah kata saat merasakan lembut bibirnya. Jantungku juga seakan tidak terkendali lagi. Seluruh saraf tubuhku saling terhubung dan menghasilkan aliran listrik yang membuat tubuhku bergetar. Dia mengecup bibirku dengan lembut hingga membuat zat kimia di dalam tubuhku bereaksi. Aku seperti tidak dapat berpikir saat ini. Hangat napasnya sampai bisa kuhirup dalam. Ditambah kedua tangannya yang memegangi wajahku. Seluruh tenagaku seperti terserap olehnya.
"Ara ...." Tak berapa lama dia melepaskan ciumannya. "Kuberikan ciuman ini untukmu. Percayalah ini ciuman pertamaku. Aku tidak pernah mencium gadis selain dirimu," katanya sambil memegang wajahku ini.
Entah mengapa hatiku terasa syahdu sekali. Ini pertama kali aku berciuman dengannya. Dan rasanya sungguh tidak dapat terbayangkan. Aku merasa telah menjadi miliknya.
"Jangan tampar aku, ya. Aku tidak ada niat untuk melecehkanmu. Aku hanya ingin membuktikan jika aku pria normal. Owdie itu saudaraku. Kami tiga belas bersaudara yang terpisah di berbagai tempat di belahan dunia. Dia hanya bercanda, Ara." Tuanku menjelaskan apa yang kumau.
"He-em." Aku mengangguk, dia pun tersenyum.
Kesalahpahaman ini akhirnya terurai dengan baik saat dia mau memberi tahuku siapa Owdie yang sebenarnya. Dan tak lama dia pun menelepon pria yang bernama Owdie itu. Hanya hitungan detik saja telepon itu diangkat oleh seberang.
"Hei, apa yang telah kau katakan pada wanitaku, hah?!" Tuanku memarahi orang yang di teleponnya.
__ADS_1
Kuperhatikan dirinya yang sedang marah-marah di telepon. Tak menyangka jika pagi ini dia akan menciumku. Rasanya seperti mimpi saja. Baru semalam aku bermimpi kami berciuman, paginya sudah menjadi kenyataan. Mungkin ini yang dinamakan hidup berawal dari mimpi. Mulai sekarang aku tidak akan takut lagi bermimpi. Aku harap mimpiku selalu indah bersamanya. Bersama tuanku yang kucintai.