
Sesampainya di apartemen...
Keadaan apartemen masih tampak sepi. Sinar terang cahaya matahari menyambut kedatangan Ara ke apartemen milik Rain ini. Ia pun lekas-lekas menutup pintu lalu menguncinya dari dalam.
Ia letakkan tas kuliahnya di sofa lalu berjalan mencari sapu. Ara berniat membersihkan apartemen Rain terlebih dahulu.
Lap sana, lap sini. Seluruh perabotan yang ada di apartemen ia bersihkan sepenuh hati. Walau hatinya terasa sakit, ia berusaha bersikap seprofesional mungkin dalam pekerjaannya. Karena ia masih menganggap dirinya sebagai pekerja Rain.
Selepas membersihkan semua perabotan yang ada, Ara segera menyapu lantai lalu mengepelnya. Setelah itu barulah ia beranjak mandi untuk melepaskan lelah yang melanda. Sengaja ia berendam di air hangat agar bisa merelaksasikan tubuh dan pikirannya. Ia berendam di dalam bathtub sambil mengingat kejadian yang telah dilaluinya.
"Tidak baik lama-lama berdiaman. Tapi bagaimana, hatiku masih terluka karena ucapannya."
Berbekal kain sebatas dada hingga paha, ia merelaksasikan tubuhnya di dalam bathtub. Terlintas pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan juga Rain. Tapi, Ara masih sungkan untuk menegur Rain terlebih dulu. Luka di hatinya masih belum bisa terobati. Ia membutuhkan waktu untuk kembali ke dirinya yang dulu.
"Aku heran dengannya. Dari mana dia mendapatkan foto-foto itu? Apa dia tidak berpikir jika ada yang sengaja melakukan hal ini?" Ara memegang kepalanya sendiri.
Jauh di lubuk hatinya ingin sekali mengeluarkan unek-unek di depan Rain. Tapi, lagi-lagi kasta itu membuatnya berkecil hati. Saat itu juga ia teringat akan perkataan seorang wanita yang mendatanginya di kampus. Wanita berkulit putih nan bermata sipit. Ia memperingatkan agar Ara lekas meninggalkan Rain.
"Hei, Nona. Risiko yang kau tanggung begitu besar jika bersamanya. Terlebih kau merebut pria dari wanitanya. Bagaimana jika posisinya dibalik? Bagaimana perasaanmu?"
Kata-kata itu teringat kembali di benaknya, membuat Ara harus berpikir ulang jika ingin meneruskan kisahnya bersama Rain. Tapi, tidak dapat pungkiri jika ia juga mencintai pria bermata biru yang telah mengambil ciuman pertamanya.
"Tuan, apa kau tahu bagaimana keadaan hatiku saat ini? Kenapa sebegitu mudahnya mengatakan aku murahan? Batasan mana yang kau anggap murah itu? Jika dia tidak menolongku, mungkin saja aku tidak lagi berada di sini."
__ADS_1
Ara menyandarkan kepalanya di tepi bathtub. Ia tatap langit kamar mandi sambil merentangkan kedua tangannya di tepi. Ia berusaha menerima kepahitan akan kisahnya. Walaupun di dalam hati menginginkan Rain menjadi miliknya.
Setengah jam kemudian....
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima sore waktu Dubai dan sekitarnya. Dan kini Ara sedang merapikan kamar Rain sebelum Rain kembali ke apartemen. Ia semprotkan parfum aroma terapi agar sang tuan bisa relaks di kamarnya. Tak lupa ia juga menutup jendela kamar karena petang akan segera tiba.
Ara membersihkan kasur hingga sampai ke kolong-kolongnya. Ia tata bantal dan guling serapi mungkin. Ia juga menyapu dan mengepel lantainya. Dan akhirnya, kamar Rain bersih, rapi dan juga harum. Tanpa sadar waktu telah mendekati petang.
Setelah membersihkan kamar, Ara bergegas menyiapkan makan malam. Ia siapkan semua bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak. Ia kenakan apron hitam agar pakaiannya tidak terkena cipratan minyak dan bumbu masakan. Dengan segera akhirnya semua bahan telah disiapkan. Ara pun mulai memasak.
Dara asal Indonesia ini mengenakan kaus hitam dan celana kulot putihnya. Sedang rambutnya digulung rapi agar tidak ribet saat memasak. Dan kini ia sedang menumis paprika hijau dan merah yang dicampur bawang bombay. Aroma tumisannya pun menggugah selera yang datang.
Ara asik memasak tanpa menyadari jika Rain sudah pulang. Pria berjas hitam itu tampak memperhatikan Ara tanpa menegurnya. Sang penguasa masih menahan diri untuk berkata-kata. Sedang Ara masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka di hatinya. Dan akhirnya, mereka kembali diam seribu kata.
Lain Ara, lain Rain, lain juga dengan Jane. Gadis bergaun krim sebatas lutut itu tampak melihat pemandangan pantai dari balik kaca jendela apartemennya. Ia memegangi ponsel sambil menikmati matahari yang sebentar lagi akan terbenam.
Rain belum juga menghubungiku. Aku pikir dia akan minta ditemani setelah foto-foto itu diterima olehnya. Tapi ini sudah dua hari, tak ada kabar juga darinya.
Jane berbalik, duduk di sofa tamu lalu meneguk jus jeruk untuk melepas dahaga yang melanda. Sedari tadi Jane menunggu Rain menghubunginya, tapi ternyata sang penguasa seperti melupakannya begitu saja.
Rencana pertama harus gagal karena pria itu, tapi aku berhasil memotret kebersamaan mereka. Setidaknya Rain akan marah besar dan mulai tidak memercayainya. Tapi, kenapa Rain belum juga menghubungiku? Biasanya dia selalu membutuhkan tempat untuk bercerita.
Jane merasa bingung karena Rain belum juga menghubunginya. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Jane seperti salah langkah dan tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.
__ADS_1
Di tengah-tengah lamunannya, dering ponsel berbunyi lalu menyadarkannya. Jane pun segera mengangkat telepon masuk itu.
"Halo?" Jane mengangkat telepon sambil meminum kembali jusnya.
"Aku masih di Dubai. Tidak tahu kapan pulang." Jane memberi kabar.
"Jangan campuri urusanku. Aku tidak merepotkanmu," katanya lagi di telepon.
"Hah ... setelah urusanku selesai, aku pulang ke USA. Tapi tidak untuk minggu ini." Jane menjelaskan.
"Ya, ya, baiklah." Jane lalu mematikan teleponnya.
Raut wajah Jane berubah setelah mendapat telepon tersebut. Ia pun melempar ponselnya ke sofa lalu mengusap wajahnya sendiri. Jane terlihat frustrasi.
"Aku tidak akan tenang pulang ke USA sebelum memastikan Rain kembali padaku." Jane menyandarkan punggungnya di sofa.
Petang ini menjadi saksi akan kegalauan hati Jane karena seorang pria yang telah lama dekat dengannya. Segala kenangan indah saat berdua pun kembali terlintas di benak dara keturunan Korea ini. Ia tidak menyangka jika kisahnya harus kandas begitu saja karena kedatangan seorang gadis yang menurutnya biasa-biasa saja.
"Rain, apa kau buta? Apa kau tidak bisa membedakan mana wanita yang berjuang, mana yang hanya memanfaatkanmu? Kenapa kau malah memilihnya dibandingkan aku? Kenapa Rain?!" Jane terlihat kesal sendiri.
Sinar merah mulai menghiasi langit pesisir Kota Dubai. Menemani hati yang luka karena cinta tak berpihak kepadanya. Jiwanya pun belum bisa menerima perkataan Rain. Ia merasa jika Rain hanya bergurau semata. Jane yakin jika Ara bukanlah tipikal Rain.
Lagi dan lagi banyak hati yang harus tersakiti karena sang penguasa berendah hati. Keramah-tamahannya disalahartikan oleh Jane, ucapannya pun membuat luka di hati gadisnya. Lalu jika sudah begini siapa yang harus disalahkan? Rain, Jane atau Ara, kah?
__ADS_1