
Sesampainya di katedral aku melihat seorang pendeta wanita sedang berbicara dengan seorang kesatria di depan pintu masuk, kesatria itu memiliki rambut pirang panjang dengan jepit rambut sebagai hiasan di kiri kanannya, pedangnya tersarung baik di pinggang mengikuti postur tubuh yang sempurna.
Kulit tubuhnya begitu putih dengan payudara yang menonjol dari pakaiannya, seolah-olah dia adalah boneka hidup yang cantik.
Apa yang bisa kukatakan, dia merupakan sosok gadis feminim sesungguhnya yang jauh berbeda dari Vivia.
"Kau ada di sini rupanya?"
Karena sesama kesatria sudah tidak heran jika Lesoria mengenalnya.
"Lesoria kah? Lama tak bertemu, terakhir kita bertemu di ibukota kan."
"Kejadiannya sudah satu tahun yang lalu, kukira kau sudah mati."
"Mana mungkin aku bisa mati, aku masih harus menagih hutangmu... cepat berikan."
Glek.
"Soal itu, tunggu saat aku gajian."
"Seperti biasa."
Aku segera berkata ke arah wanita pendeta itu.
"Kami mengantar obat-obatnya."
"Terima kasih, silahkan taruh di dalam saja."
"Aku mengerti."
__ADS_1
Aku dan Lesoria meletakan kota tersebut di dalam katedral sebelum berjalan ke kota bersama orang bernama Jeanne, semenjak para goblin membuat pemukiman di dekat sini beberapa desa telah dihancurkan dan sebagian anak-anak harus kehilangan orang tuanya dan berakhir berada di panti asuhan ini, obat yang sebelumnya kubawa juga sejujurnya digunakan untuk mengobati luka mereka.
"Benar, biar kuperkenalkan... namaku Jeanne d'Arc aku kesatria suci, salam kenal."
"Namaku Aksa, seorang petualang serta penyihir di kota ini, senang bertemu denganmu juga."
"Heh, kau petualang yang sopan aku baru pertama kali bertemu orang sepertimu."
Aku beralih menatap Lesoria yang terus menganggukkan kepalanya, mungkin yang dikatakan Vivia dulu tentang petualang adalah benar.
"Petualang yang kutahu hanya bisa main sosor saja."
Lesoria lalu berkata ke arah Jeanne.
"Kenapa kau datang ke kota ini? Biasanya orang sepertimu jarang mengunjungi kota hanya untuk bersantai saja."
"Memangnya kau ini menganggapku seperti apa?"
Jeanne tertawa kecil.
"Mungkin begitu, saat itu aku menyelidiki wilayah naga kehancuran, kupikir aku akan mati tapi syukurlah aku masih hidup."
"Aku benci saat kita harus mempertaruhkan nyawa."
"Apa boleh buat, pekerjaan kan," kata Jeanne ringan lalu melanjutkan.
"Aku di sini ditugaskan untuk membersihkan para goblin."
"Jadi begitu, pantas saja kau terlihat barusan di sana."
__ADS_1
"Benar, bagaimana kalau kalian berdua membantuku... aku lihat Aksa pasti orang yang kuat."
"Mana mungkin, dia ini lemah."
Aku segera menggosok kepala Lesoria dengan tinjuku.
"Sakit, sakit.. aku cuma bercanda, orang ini baru saja pergi ke menara Altima untuk menemui Dewi, kekuatannya sudah diakui."
"Benarkah? Itu pasti luar biasa."
"Bukan apa-apa itu semua berkat teman-temanku... Kalau soal goblin jika demi melindungi banyak orang aku pasti membantu," kataku demikian.
"Aku menyukai orang sepertimu, jadi sudah diputuskan bahwa kalian akan ikut bersamaku besok pagi."
"Ngomong-ngomong Jeanne, jika aku ikut apa hutangku akan lunas?"
"Masalah ini dan masalah itu berbeda."
Lesoria menjatuhkan bahunya lemas, dia tipe orang tidak mau bayar hutang rupanya.
Di persimpangan jalan itu, aku kembali ke toko sementara Lesoria dan Jeanne pergi ke arah yang berbeda, Lesoria tidak terlalu dekat dengan siapapun, melihatnya bersama seseorang jelas cukup menjadi pemandangan langka.
"Kenapa kau senyum-senyum begitu, sedang melihat bokong wanita?" Vivia muncul dari tempat yang tak di duga membuatku tersenyum pahit padanya.
Dia melirik ke arah tempat yang kulihat.
"Bukannya dia Jeanne d'Arc, heh kau punya selera yang bagus.. akan kuadukan pada Heliet."
"Oi."
__ADS_1
Aku segera mengejar Vivia yang telah berlari jauh dariku.
Orang ini memiliki sifat buruk yang terlihat berbeda jauh dengan sifat Jeanne, di awal juga dia berusaha menipuku dengan kepribadiannya yang ramah.