Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 110 : Wanita Yang Menebas Segalanya


__ADS_3

Merasakan ada sesuatu yang aneh, aku segera menjaga jarak dengan memasukkan pedangku ke dalam sarungnya, dan menarik pedang yang lain untuk mengisi ke dua tanganku.


Aku bertanya pada Avelin yang hanya tersenyum seperti biasa.


"Apa Aksa mengalahkanmu?"


"Aku kalah, di menara ini ada sebuah aturan di mana seorang yang bisa mencapai lantai terakhir akan bisa menikahiku, sayangnya Aksa menolak dan memilih untuk bertarung denganku."


"Jadi begitu, jika dia bisa mengalahkanmu berarti aku juga harus bisa melakukannya."


"Saat itu aku menggunakan setengah dari kekuatanku, tapi sekarang aku akan menggunakan semuanya."


"Itu jauh lebih menarik."


Aku melangkah maju dengan membawa ke dua pedangku bersamaku, pertama kugunakan ayunan rahasia dari tebasan pertama, tidak seperti sebelumnya Avelin membuat pedang yang kuat yang bisa mengimbangi seranganku.


"Meski penguasaan pedangmu hebat tapi di dunia ini tidaklah cukup, kau harus bisa menggunakan sihir untuk mengimbangi kekuatan musuhmu."


"Aku tidak perlu hal itu."


"Kearoganan hanya akan memunculkan kehancuran untukmu sendiri."

__ADS_1


Aku menebas dan itu memercikkan kembang api ke udara saat berbenturan dengan pedang miliknya, di saat momen aku terbang Avelin mengirim pukulan dari tangan yang tidak memegang pedang hingga aku terhempas ke belakang.


"Guakh."


Darah menyembur dari mulutku dan aku segera bangkit.


"Biar kuperlihatkan bahwa sihir itu sangat berguna, Summon ; Knight Army."


Dari depan Avelin muncul sebuah orang-orangan yang terbuat dari besi, itu menyerupai baju zirah raksasa dengan pedang di tangannya, tak hanya satu melainkan ada lima sekaligus yang menyerang ke arahku secara bersamaan.


Aku bisa mendengar panggilan khawatir dari Meliana tapi aku mengabaikannya untuk melempar dua pedang ke atasku.


Aku menutup mataku.


PLANG!!


Aku menarik pedangku dengan kecepatan tinggi, mengayunkannya demi menghasilkan bilah angin yang sangat cepat hingga melebihi kecepatan cahaya, kemudian melemparkan pedangku kembali ke atas untuk menggunakan dua pedang yang sebelumnya kulempar lebih dulu, dalam satu detik aku telah menebas lebih dari seratus kali memicu ledakan ultra sonic yang mana menciptakan rentetan gesekan angin membelah seluruh pasukan baja besi itu, tentu aku sengaja tidak mengenai tubuh Avelin hingga dia terduduk dengan tubuh gemetaran, seluruh pulau di lantai ini hancur terbelah menjadi beberapa potongan.


Meliana dan Cardina bahkan tak bisa berkata apapun.


"Apa-apaan kekuatan itu? Sekarang aku tahu kenapa dia membawa empat pedang," teriak Meliana sementara Cardina secara buru-buru berlari memeluk Avelin yang menangis.

__ADS_1


"Menakutkan sekali, menakutkan sekali, jika kena aku pasti sudah mati barusan."


"Cup.. cup... cup.. semuanya baik-baik saja."


Kurasa aku akan membiarkan dia menenangkan diri dulu, aku duduk di atas reruntuhan saat Meliana dalam bentuk bola rohnya mendekat.


"Kekuatan yang luar biasa, aku yakin bahkan jika kau tidak menggunakan sihir kau sudah luar biasa."


"Teknik barusan hanya bisa digunakan sekali, itu cukup memakan tenagaku."


"Begitu, yah.. kau bisa beristirahat dulu sebentar aku yakin Dewi Naga Freya tidak akan pulih cepat, jika aku punya tubuh aku akan membiarkanmu tidur di pahaku."


Aku mengembalikan mataku sedia kala lalu membaringkan tubuhku menatap awan di atasku.


"Ngomong-ngomong kau ingin bertemu dengan Aksa dan mengambil gelarnya sebagai pendekar pedang, apa dia lebih kuat darimu?"


"Entahlah, tapi dia memiliki sesuatu yang tidak kumiliki, sesuatu yang dibutuhkan lebih dari sebuah kekuatan."


"Maksudnya?"


Aku menutup mataku dan tidur.

__ADS_1


"Muu... paling tidak jawab dulu pertanyaanku."


__ADS_2