Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 65 : Dewa Jahat Hermias


__ADS_3

Sosok pria itu turun dengan hentakan kaki yang menyebar kehancuran di sekelilingnya, aku menutupi wajahku saat debu berterbangan menerpa wajahku.


Matahari telah tenggelam beberapa saat lalu dan sekarang digantikan dengan cahaya bulan.


"Aksa."


"Sejak kapan?"


Pria itu telah muncul tepat di depan wajahku, tanpa menahan diri dia mengirim satu tinjunya yang mana melemparkanku sejauh 1 km ke belakang hingga tertahan di sebuah bangunan besar dengan retakan di belakangku.


"Percuma, lebih baik kita lari," Greed yang selalu percaya diri dengan kemampuannya baru kali ini mengatakan hal demikian.


Lust menambahkan.


"Benar Aksa, kau sudah tidak bisa menggunakan ketujuh buku dosa, melawan Dewa itu sudah pasti sangat sulit."


"Meski kalian bilang begitu, aku tidak bisa lari dari sini.. jika kulakukan penduduk kota ini pasti mati."


"Bukan saatnya memikirkan orang lain, nyawamu juga lebih berharga, bukannya kau ingin menyelamatkan gurumu jika kau mati semua yang kau perjuangkan sampai sekarang akan sia-sia."


"Maaf Lust, inilah yang kuinginkan."


"Dasar, jangan mati... aku akan membantumu sebisaku."


"Aku juga."


"Terima kasih."


Pria itu mendekat ke arahku.


"Namaku adalah Dewa Hermias, siapa kau?"

__ADS_1


"Aksa," kataku selagi menerjang ke arahnya, kuayunkan pedangku bergantian dengan pistol di tangan kiriku.


Hermias mengirimkan bola hitam padaku dan aku membuat pelindung dengan sihir tanah menghasilkan ledakan yang memekakkan telinga.


"Dengan hanya kekuatan seperti itu, kau tidak bisa membunuh dewa."


"Masih belum... Hell of the Abyss."


Secara diam-diam aku telah menciptakan sihir di atas kepalanya, bersamaan perkataanku sebuah sinar dijatuhkan dari sana menciptakan ledakan yang jauh lebih besar.


Akibat ledakan itu aku terdorong dengan hanya anginnya saja.


"Apa sudah selesai?" tanya Greed.


Saat pemandangan semakin jelas kulihat Hermias masih berdiri di sana tanpa terluka sedikitpun.


"Yang barusan cukup bagus juga."


Hermias menciptakan sebuah busur di tangannya lalu ia menarik panah di antara ibu jari dan jari telunjuknya yang mana dilesatkannya padaku.


Mereka adalah Tiffany, Nicol, Lisa, Boby serta Carrot. Kelimanya berkerja sama untuk memantulkan panah tersebut hingga meledak jauh di sisi kota.


"Perlu bantuan," kata Lisa.


"Kalian siapa? Jangan sok akrab dengan Aksa," potong Tiffany.


"Kamilah yang harus bertanya itu."


"Hentikan Nee-san, kita masih punya masalah yang harus dihadapi di sini."


"Itu benar, mari bekerja sama saja," tambah Carrot sementara Nicol membantuku berdiri.

__ADS_1


"Tuan Anda terluka."


"Orang itu sangat kuat."


"Dari sini serahkan saja pada kami, Tiffany yang kuat ini akan menghajarnya."


"Aku yang akan melakukan itu."


"Nee-san."


"Bertambahnya orang lemah tidak akan berpengaruh padaku, datanglah kalian semua, kuperlihatkan seperti apa keputusasaan itu," pernyataan Hermias membuat semua orang kesal hingga serempak menyerangnya.


"Aku juga tuan."


Aku segera menghentikan tangan Nicol yang hendak bergerak.


"Dia bukan lawanmu, dia seorang dewa jahat "


"Dewa? Apa mereka akan baik-baik saja?"


"Aku akan memikirkan sesuatu demi mengalahkannya."


"Aku mengerti."


Greed dan Lust bertukar kata.


"Bukannya sudah waktunya kau berhenti berpura-pura Lust, aku tidak yakin kau bisa selemah ini."


"Aku baru bangkit jadi kekuatanku belum pulih seutuhnya, di samping itu... tak kusangka setelah sekian lama Greed sangat tidak berguna."


Di situasi seperti ini mereka masih saja bisa bertengkar.

__ADS_1


"Tuan, pedang itu?"


"Nanti akan kujelaskan."


__ADS_2