
Di kota berikutnya aku telah mengambil beberapa pekerjaan untuk mengatasi keuangan, meski hanya pekerjaan serabutan aku melakukannya dengan baik.
Kota ini dalam tahap pembangunan tembok luar karenanya aku turut membantu merenovasinya kembali.
Adapun untuk Nicol dan Tiffany aku meminta keduanya bersantai di penginapan.
"Kerja bagus orang baru, sekarang kerjakan ini juga."
"Baik."
Sehari aku menerima upah 10 koin perak dengan masa kerja seharian penuh, kurasa itu bukan pekerjaan yang buruk.
Setelah selesai para pekerja akan berkumpul di kedai untuk beristirahat untuk minum-minum, aku menyempatkan diri sebentar berada di sana sebelum membeli oleh-oleh untuk keduanya di penginapan.
Saat aku masuk ke dalam penginapan tampak mereka sedang bermain kartu.
"Selamat datang tuan," kata Nicol.
"Aku pulang.. kalian sudah makan?"
"Aku ingin menunggu tuan kembali dulu agar bisa makan bersama."
"Begitu."
Aku mengelus kepala Nicol, seharusnya dia bisa makan tanpa menungguku.
__ADS_1
"Aku juga begitu sayangku."
"Berhentilah memanggilku begitu," teriakku pada Tiffany.
Aku meletakkan beberapa makanan yang kubeli lalu memakannya bersama keduanya. Ini sudah seminggu sejak kami menghabiskan waktu di kota ini tapi sampai sekarang aku belum bisa menemukan informasi tentang buku yang lainnya.
Ketika aku dipenuhi pikiran itu Tiffany menjatuhkan secarik kertas di depanmu sembari tersenyum puas.
"Apa?"
"Itu adalah tempat lokasi buku Lust berada."
"Ba-bagaimana kau bisa menemukannya?"
"Berterima kasihlah padaku, aku menggunakan keahlianku di kota untuk mencari informasi ini."
"Ada apa tuan? Apa tempatnya jauh?"
"Bukan itu, hanya saja tempatnya menunjuk reruntuhan langit... apa ada seseorang yang tinggal di tempat telantar itu?"
"Alamat itu masih rumor, tapi tidak salahnya mencoba mencarinya di sana," atas pernyataan Tiffany aku mengangguk mengiyakan lagipula aku tidak ingin terus tunggal di sini dan beralih jadi kuli bangunan.
Keesokan harinya setelah meminta izin pada bosku untuk keluar dari pekerjaan, aku, Nicol dan Tiffany menyewa kapal terbang untuk berangkat ke tempat itu.
Seperti namanya itu hanya reruntuhan pulau yang terapung.
__ADS_1
Aku meminta pemilik kapal untuk menjemput kami di hari berikutnya karena itu kami akan mulai menyusuri tempat ini sekarang.
Angin berhembus kencang mengibarkan rambut kedua orang berada di depanku. Jika harus dikatakan mereka pasti akan terlihat cocok jika berada di dalam sebuah iklan sampo.
"Kita sampai, tempatnya di sana," yang dimaksud Tiffany yaitu sebuah bangunan megah yang merupakan perpustakaan serta satu-satunya bangunan yang masih berdiri di area ini.
Aku mengetuk pintunya lalu berjalan masuk, tak ada siapapun kecuali ruangan yang berdebu serta beberapa serangga yang bisa kulihat.
Aku berkata ke arah Greed.
"Apa kau merasakan sesuatu di sini?"
"Aku tidak bisa merasakan kehadiran buku yang lainnya tapi yang jelas ada seseorang yang tinggal di sini."
"Jadi itu benar, kau bisa merasakan kehadirannya, luar biasa."
"Tidak, sejujurnya dia sedang memelototi kita sejak tadi."
"Di mana?"
Aku berusaha mencari keberadaannya dan kutemukan seorang rakun bersembunyi di balik rak dengan setengah wajahnya di perlihatkan pada kami.
"Kukira seorang gadis, ternyata hanya rakun yang menjaga tempat ini," kata Tiffany.
"Siapa kalian? Kenapa datang ke rumahku? Pergilah."
__ADS_1
"Kami hanya ingin mengambil buku dosa mematikan Lust, kudengar buku itu ada di sini?" kataku demikian.
"Meski adapun aku tidak akan menyerahkannya pada kalian."