
Shinji mengatur nafasnya selagi berkata.
"Kenapa kau sejauh ini menghalangiku, bukannya bagus jika aku bisa merubah dunia ini juga."
"Yang kau inginkan hanyalah mengendalikan dunia ini seperti yang kau inginkan."
"Ini hanyalah jalan satu-satunya untuk mencapai kedamaian. Jika aku bisa menjadi yang terkuat maka aku bisa mengendalikan umat manusia semauku, dengan begitu orang lain akan menuruti seluruh perkataanku dan perang tidak akan terjadi lagi."
"Meski perang berakhir tidak ada orang yang akan menyukainya, mereka akan diteror dengan rasa takut dan hidup layaknya seperti boneka yang kau kendalikan, pada akhirnya semua orang akan menentangmu."
"Aku akan membunuh siapapun yang menentangku, mereka tidak diizinkan menyembah dewi kecuali aku sendiri, aku adalah orang yang bisa melakukan apapun."
"Karena itulah kedamaian yang kau buat hanya untuk dirimu sendiri, kau bahkan tidak peduli jika anak-anak atau wanita yang tidak bersalah terbunuh juga hanya demi ambisimu saja."
"Itu adalah pengorbanan, para naga telah menghancurkan umat manusia karena itu mereka semua pantas mendapatkannya. Kita tidak akan bisa saling memahami satu sama lain... hanya dengan saling membunuh kita akan tahu siapa yang mengambil jalan benar."
"Sepertinya tidak ada jalan lagi."
Kami memfokuskan serangan terakhir pada satu gerakan, angin berhembus kencang bersamaan langkah kami yang bergerak cepat.
Aku mengayunkan pedangku, begitu juga Shinji hingga kami berdua saling membelakangi dalam diam.
Tangan kananku jatuh ke bawah begitu juga pedang di tangan kiriku yang kuganti dengan pistol.
Sementara itu tangan kanan Shinji juga putus bersamaan pedangnya yang hancur dan darah juga mengalir dari tubuhnya hingga dia terbaring menatap langit.
Aku berjalan mendekat selagi menodongkan pistolku padanya
"Aku kalah, sekarang bunuhlah aku," katanya tersenyum kecil.
Aku menarik pelatuknya hingga bunyi letupan senjata terdengar yang mampu menerbangkan puluhan burung ke udara.
Shinji berkata ke arahku.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak membunuhku."
__ADS_1
Peluru yang kulesatkan hanya mengenai tanah di pinggir kepalanya.
"Kurasa aku tidak perlu membunuhmu."
"Kau sangat naif, suatu hari aku mungkin akan membunuhmu juga dan melakukan hal sama lagi."
"Jika begitu aku akan menghentikanmu lagi nanti."
"Mungkinkan Nene mengatakan sesuatu padamu?"
"Dia bilang kau kehilangan segalanya ketika umur lima tahun dan kau membenci dunia ini."
"Gadis itu, mengatakan hal tidak perlu."
"Lagipula kau pernah tinggal di kota yang pernah ditinggali guruku dan Vivia, anggap saja ini bentuk kebaikanku."
"Kebaikan yah."
Kota itu sekarang telah menjadi kota yang ditinggalkan.
"Tidak perlu, kekuatan seperti itu tidak cocok untukku... aku akan bertambah kuat ke depannya dan menyelamatkan dunia ini."
"Raja Iblis dan Penyihir Kegelapan masih menjadi ancaman yang tak terelakkan."
Jeanne, Vivia, Ayumi, Meliana serta Nona Heliet yang sudah pulih mengerumuni Shinji dan mereka bersama-sama menendangnya.
"Aku belum puas sebelum bisa menghajarnya."
"Aku juga."
"Sekarang muridku kehilangan tangannya karena ulahmu."
"Yah, aku juga kehilangan tanganku."
"Berisik."
__ADS_1
Mereka menginjak-injaknya kemudian guruku melanjutkan.
"Aksa sudah mengampunimu jadi kau harus membayar semua dosamu, benar kan Aksa?"
"Ah.. iya."
Tiba-tiba saja tubuhku kehilangan keseimbangan dan Nona Heliet segera menangkapku hingga wajahku mendarat di kedua dadanya yang lembut.
"Aksa sudah terlalu memaksakan diri, istirahatlah, kami yang akan membawamu pulang."
"Tolong yah."
Aku menutup mataku dan saat aku sadari aku telah berada di alam dewi atau lebih tepatnya kesadaranku di tarik ke dunia ini.
"Master terluka parah, itu sama sekali tidak keren loh."
"Benar sekali."
Aku mendengar suara yang tidak asing, anehnya kedua tanganku dan mataku masih ada.
Ketika aku memastikannya aku melihat Sirius dan Marine di sana selagi tersenyum hangat.
"Kalian berdua."
Aku melompat untuk memeluk keduanya, aku juga menyentuh pantat keduanya sedikit lebih kuat karena kesal.
"Master nakal."
"Tolong sentuh tubuhku yang lain," tambah Marine.
"Apa ini maksudnya?"
Suara yang lain terdengar dari sampingku.
"Kalau itu biarkan aku yang menjelaskannya."
__ADS_1
Itu adalah suara Dewi Nermala yang berkata selagi berfose imut.