Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 117 : Teman


__ADS_3

Setelah selesai merapal sihir bola api kembali ditembakan dari tangannya.


Bom.... Bom... Duarr.


Aku bergerak menghindarinya dengan kedua tangan memegang pedang besarku. Ada selalu kelemahan saat berhadapan dengan penggunaan sihir yaitu mereka tidak cukup cepat untuk mengatasi serangan jarak dekat. Kuayunkan pedangku dan itu membuat darah memuncrat ke udara sampai akhirnya pria berambut merah itu rubuh ke samping.


Kulihat dari kejauhan ledakan pertarungan Richard semakin parah hingga aku memutuskan untuk berlari ke arah sana.


Selagi menenteng pedang di pundakku seekor binatang iblis muncul di depanku, dia membuka mulutnya yang besar selagi meraung dengan suara menggelegar.


"Kau menghalangiku."


Bam.


Bola-bola api mengenai wajahnya hingga ia bergerak mundur dengan rasa sakit.


"Aksa, pegang tanganku," nona Heliet yang terbang di atasku mengulurkan tangannya yang mana kuraih dan ia lemparkan ke atas binatang tersebut.


"Aku akan mengatasi di sini."


Aku mengangguk sebagai jawaban lalu mengayunkan pedangku di atas kepala binatang iblis untuk membelahnya menjadi dua bagian sebelum berlari kembali.


Sesampainya di tempat Richard, dia sudah berubah menjadi naga kehancuran, lawannya adalah Oracle dari Dewi Ariesta bernama Dominic, walau darah dan tangannya putus Dominic tampak tertawa seolah itu bukan masalah baginya.


"Yoooiii.. kau seekor naga kehancuran rupanya mena..."


Bam.


Tanah berhamburan ke udara.


Sebelum Dominic menyelesaikan perkataannya dia sudah diinjak oleh kaki Richard. Apa dia sudah mati? Aku bertanya hal itu dan selanjutnya kaki Richard meledak dahsyat.

__ADS_1


"Haha."


Dominic tampak baik-baik saja, dia terlihat menggigit sebuah boneka di mulutnya, saat dia memutuskan bagian kepalanya, kepala Richard pun berakhir sama.


Jika makhluk hidup biasa itu adalah sebuah kematian hanya saja Richard adalah naga kehancuran tubuhnya akan kembali sedia kala.


"Aku tidak akan mati, atas nama Dewi Ariesta."


Richard meraung lalu menggigit setengah tubuh Dominic hingga terbelah menjadi dua bagian lalu mencabiknya menjadi potongan kecil di mulutnya.


Ini jelas berbahaya, Richard akan menyerang semua orang di kota ini, aku melangkah maju dengan posisi bersiaga.


"Sudah cukup Richard," teriakku padanya, bukannya menurut aku menerima tendangan kaki yang mampu melemparkanku hingga meledakan bangunan di belakangku.


"Richard."


Aku bangun dari reruntuhan dan kulihat Richard mulai mengecil menjadi bentuk manusianya, namun sayangnya dia bukanlah Richard yang kukenal melainkan sosok naga pembawa kehancuran sesungguhnya.


Mata semerah darah dengan mulut yang merobek sampai telinga.


"Aksa sekarang."


Kuulurkan kedua tanganku dan menciptakan sihir besar.


Aku membuat sihir ini untuk melemahkan Richard supaya dia pingsan, cahaya keemasan menerjang keduanya namun mereka terlihat baik-baik saja.


"Gagal."


Richard melepaskan tangan nona Heliet lalu mencengkeram wajahnya sebelum melepaskannya jatuh ke bawah.


Nona Heliet yang bergerak diinjak hingga menciptakan kawah besar di punggungnya, nona Heliet berteriak ke arahku dengan kesakitan.

__ADS_1


"Percuma Aksa, dia sudah termakan oleh darah naga... Richard telah mati."


Aku menggigit mulutku hingga darah menetas dari sana.


"Apa tidak ada jalan lagi?"


"Richard selama ini sudah menahan semampunya dengan rasa sakit yang tidak mungkin ditahan siapapun, aku pikir dia sudah mencapai batasnya... Membunuhnya adalah tindakan yang terbaik."


Sebuah tendangan menghantam perut nona Heliet hingga dia terbang sejauh 1 km meninggalkan jejak debu di belakangnya.


"Sial."


Aku sudah tahu sejak awal bahwa hal itu memang tidak bisa dihindari, meski begitu, meski begitu, aku tidak ingin melakukannya.


Aku berlari sekuat yang kubisa, mengayunkan pedangku aku menebas seluruh tubuh Richard dan dia pun membalasku dengan pukulannya, setiap luka yang kuberikan Richard berhasil menyembuhkannya di sisi lain lukaku semakin parah.


Richard mencengkeram kerahku lalu membantingku ke bawah, di momen itu dia mengirimkan beberapa pukulan di wajahku selagi mendudukiku.


Aku berteriak lalu menukar posisiku dengannya, aku pun mengirim tinjuku hingga setiap rahang itu hancur sebelum mundur selagi membawa pedangku ke belakang.


Berbeda dengan saat Richard berubah, dia sudah membiarkan dirinya di telan kegelapan, dia sengaja melakukannya karena di sini ada aku yang akan membunuhnya.


Tubuhnya sudah mencapai batasnya, siapapun naga yang telah melakukan ini, aku tidak akan memaafkannya.


Bertepatan saat tubuh Richard kembali sedia kala aku melangkah maju dengan kecepatan tinggi, Richard sempat mengirimkan tangannya namun aku menghindarinya di detik-detik terakhir sementara pedangku telah menebusnya sampai pergelanganku.


Air mata menetes dari wajahku sementara Richard memelukku.


"Terima kasih Aksa, tolong sampaikan salamku pada adikku. Aku menyayanginya."


"Aah, selamat tinggal wahai temanku... Richard Rufus."

__ADS_1


"...."


Tubuh Richard melebur menjadi debu yang ditiup angin sementara aku hanya bisa berteriak putus asa.


__ADS_2