
Setelah memulihkan diri aku kembali melatih sihirku.
Di lapangan luas itu aku mencipta dua lingkaran sihir di kedua tanganku untuk menciptakan elemen yang berbeda.
"Thunder."
Tangan kiri menciptakan petir yang menerjang ke depan sementara tangan lain.
"Fire."
Api dan petir bergabung menjadi satu menjadi pusaran yang luar biasa bagaikan sebuah badai yang menyisir tanah menjadikannya jalur sungai.
Setelah kedua itu aku menggunakan sihir penciptaanku.
"Abyss Break."
Tepat saat aku mengatakannya batang-batang besi raksasa bermunculan di bawah tanah, salah satunya membawaku pergi ke atas, lapang yang sebelumnya luas tanpa apapun kini berubah menjadi hutan besi.
Aku menghilangkan mereka hingga aku bisa mendaratkan kakiku di tanah.
"Kurasa sudah cukup untuk sekarang."
Ketika aku membetulkan syal di leherku Liz yang muncul dari belakangku tanpa segan memelukku dari belakang.
"Liz dadamu."
"Aku memang sengaja."
"Kau ini sudah menggoda Aksa lebih dulu, ijinkan aku juga melakukannya," sela Naula sementara itu Malifana tampak gemetaran.
"Aku tidak pandai dalam hal seperti itu, aku tidak bisa melakukannya."
"Aku tidak pernah meminta hal seperti ini," aku menegaskan hal demikian.
Wanita di dunia ini menakutkan.
Tanpa memperdulikan Liz yang terus menempel padaku aku bertanya hal yang semestinya.
"Bagaimana dengan quest kalian?"
__ADS_1
"Berjalan sukses hanya saja tanpa Aksa rasanya tidak menyenangkan."
Naula maupun Malifana juga mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu bagaimana jika kita mengambil quest sekarang? Aku sudah lebih baik."
"Benarkah, mari lakukan."
"Aku akan senang jika kalian berdua tidak terlalu menempel padaku."
"Itu mustahil."
"Benar sekali yang dikatakan Naula."
Aku merasa kepanasan di sini.
Di guild itu Lulu tampak cemberut padaku.
"Kalian berdua terlalu menempel."
Itu juga yang dipikirkan banyak orang di sini.
Atmosfir di sini semakin mengerikan saja, aku bisa mendengar obrolan dari petualang pria di belakangku.
"Dasar pria populer, aku iri sekali."
"Di punya empat, aku satu juga tidak."
"Aku harap dia cepat mati saja."
Itu cukup kasar bagiku.
Lulu kembali ke mode pekerjanya.
"Jadi apa kalian sudah memutuskan untuk mengambil quest seperti apa?"
"Kami mengambil quest perburuan saja."
"Baik, berburu Thunder Bird kah. mereka cukup sulit dikalahkan jadi tolong berhati-hatilah."
__ADS_1
"Terima kasih."
"Aksa setelah pulang izinkan aku mampir ke kamarmu nanti?" kata Lulu hingga aku memucat.
"Ugh... itu bukan perkataan yang harus kau ucapkan di sini."
"Aku sudah tidak tahan lagi, mari gebukin orang ini."
"Aku setuju."
Dan selanjutnya para petualang pria menginjak-injakku dengan wajah puas.
"Punggungku sakit."
"Aksa kau baik-baik saja?"
"Aku tak apa... mari pergi berburu."
"Baik."
Thunder Bird adalah sebuah burung berbulu emas sebesar Griffon, belakangan ini mereka selalu mengincar hewan ternak warga.
Karena jumlahnya sangat banyak di alam liar kami bisa memburunya sebanyak yang kami inginkan, lagipula karena banyak petualang lemah mereka jarang menargetkan monster ini dalam perburuan.
Malifana merapalkan sihir pendukung yang lalu mengisi kami dengan kekuatan.
"Aku merasakan kekuatan mengalir di dalam tubuhku."
"Aku sudah banyak berlatih... sekarang mari kalahkan mereka."
"Tentu."
Thunder Bird menyemburkan bola petir ke arahku. Sihir es Liz menahannya sehingga aku bisa berlari ke arah samping sebelum melesat ke arah musuh.
Di saat serangan tombak Naula berhasil melukainya, serangan pedangku mengakhiri pertarungan.
Thunder Bird rubuh ke samping tanpa daya.
Setelah mengalahkan lima ekor kami memutuskan untuk kembali ke guild.
__ADS_1