
Sudut pandang Alyssa.
"Sekarang aku pasti tidak akan gagal."
Di tengah jalanan utama itu, aku dan Liz bersiap untuk membuat keributan. Sebenarnya tidak perlu menggunakan sihir untuk melakukannya meski begitu itu tidak mengasikkan.
Liz berlarian ke sana kemari selagi menyibak rok wanita yang dilewatinya serta memeloroti celana pria, itu sudah cukup untuk menarik ratusan orang mengejarnya sekarang.
Dengan anggun dia menyentuh lantai jalan dan dalam sekejap seluruhnya membeku. Orang-orang tampak histeris saat dari kaki sampai lututnya tertutup es.
Kini giliranku juga.
Aku mengulurkan ke dua tanganku ke depan untuk menciptakan lingkaran sihir berganda.
"Flame Burning Tornado."
Dalam sekejap aku menciptakan api tornado yang seolah menembus awan, kehancurannya tidak terlalu parah karena aku sendiri yang mengendalikannya kendati demikian itu sudah cukup untuk membuat semua orang berlarian, khususnya seluruh pasukan dari istana.
Liz yang dipenuhi hawa dingin mendekat, jejak kakinya bahkan membeku.
"Itu sangat bagus Alyssa, apa kau bisa menggunakan Hell of the Abyss atau Trinity of the Flores."
"Itu mustahil sihir itu hanya bisa digunakan oleh Aksa terlebih jika orang lain menggunakannya mereka akan langsung mati karena kehilangan mana."
"Benarkah, tapi kenapa Aksa bisa melakukannya."
"Karena mananya sangat berlimpah, aku tidak tahu alasannya tapi ia memiliki tubuh yang bagus."
"Mungkin aku juga setuju denganmu soal itu," balasnya selagi air liur menggenangi mulutnya.
"Kau memikirkan hal lain."
__ADS_1
"Kenapa? Aku cewek dewasa, nanti kau akan tahu juga."
Dia berpose nakal sebelum melanjutkan.
"Sepertinya musuh kita mulai berdatangan, mungkin ada sekitar lebih dari 100 orang."
"Sebanyak apapun akan kukalahkan."
"Itu baru semangat Alyssa."
Tornado api mulai lenyap seutuhnya dan yang menjadi pemandangan selanjutnya hanya orang-orang yang berlarian mendekat dengan senjata mereka.
Aku maupun Liz mengulurkan tangan untuk menyerang mereka dengan sihir.
"Fire Bolt."
"Ice Canon."
"Ice Dragon."
Kami menggunakan sihir masing-masing yang tidak terlalu menguras sihir, sebisa mungkin kami tidak sampai membunuh mereka.
Serangan kami membuat semua orang tergeletak tak berdaya di jalanan, mereka semua mengerang kesakitan terlebih beberapa dari mereka menggigil karena diubah menjadi boneka salju.
"Ini sudah berakhir."
"Kurasa belum," suara yang menyela perkataanku berada dari dewan meja bundar bersama Roswal.
Menurut Aksa dia adalah penyihir yang bisa menggunakan beberapa sihir lainnya tapi karena ini masih siang dia tidak terlalu kuat.
Yang harus kami waspadai hanyalah sihir pemanggilnya saja.
__ADS_1
"Liz mari kita serang bersa..."
Aku seketika terkejut karena Liz malah tertidur di keadaan seperti ini, bukan saja dirinya tapi orang-orang di sekeliling kami dan Roswal mengalami hal sama.
"Aksa jangan menyentuh di sana... ah, tidak, ini memalukan."
Wajahku memucat.
Orang itu membuat semua orang tertidur dan memasukannya ke dalam ilusi mimpi yang mereka inginkan.
Aku melirik ke arah Roswal yang di kelilingi kelopak bunga.
"Sihirku sangatlah indah bukan, aku memiliki kekuatan yang membawa semua orang ke dunia yang mereka inginkan, karena kau Vampir sihirku sepertinya tidak bekerja, tapi biarlah... sihir pemanggilanku sudah cukup menghabisimu."
Aku membetulkan topi segitiga di kepalaku.
"Bagaimana cara aku bisa menyelamatkan semua orang ini?"
"Percuma saja. Sihir ini akan aktif selamanya, kecuali kau membunuh penggunanya mereka tak akan pernah bangun, mereka hanya akan tidur dalam keabadian."
"Jika itu maka aku akan membunuhmu."
"Kau terlalu percaya diri untuk anak kecil, biar aku tunjukkan perbedaan kita."
Roswal mulai merapal.
"Dari kegelapan terdalam, aku memanggilmu dan dengarkanlah perintahku. Summon Magic, Dark Army."
Bersamaan perkataannya sekitar 10 baju besi setinggi dua meter muncul dari kegelapan dan masing-masing dari mereka membawa senjata seperti pedang, perisai, tombak ataupun palu.
Ini jelas sangat merepotkan.
__ADS_1
Bahkan aku sedikit kehilangan kepercayaan diri.