Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 179 : Kurungan


__ADS_3

Sesampainya di kota tersebut, semua orang keluar untuk memperhatikan kami turun dari mobil. Tak sedikit orang yang bertanya-tanya kenapa kami datang kemari.


"Apa kalian dari luar?" tanya salah satu orang yang terlihat seperti pemilik tanah.


"Aah, kenapa ekpresi kalian seperti tidak mengharapkan kami untuk datang."


"Bukan begitu, hanya saja setiap orang yang tiba di kota ini, mereka tidak bisa keluar lagi.. kami sudah puluhan tahun terjebak di sini."


Sepertinya kami sudah salah datang kemari, pertama aku ingin menyelesaikan hal yang kami putuskan.


"Kalian menjual makanan dan pakaian renang."


"Makanan sangat terbatas jadi kami tidak menjualnya tapi jika kau ingin pakaian renang kau bisa mengambilnya di sana secara gratis."


Paling tidak ada satu hal yang tidak membuat hal ini sia-sia. Aku berkata ke arah mereka.


"Sebagai pembayaran aku akan keluarkan kalian semua nanti."


"Tuan yakin bisa melakukannya?"


"Akan kuusahakan, lagipula aku tidak ingin terjebak di tempat seperti ini," kataku demikian.


Di toko yang hampir terlihat telantar itu, Naula, Sirius, Marine, dan juga Liz mulai memilih pakaian renang yang mereka sukai.


Aku duduk bersandar pada meja selagi memperhatikan mereka yang saling memilih dan bercanda gurau.


Liz berkata dengan pandangan mengkilap.


"Apa ini cocok untukku?"


"Jika untukmu, kurasa lebih cocok yang seperti ini," balas Naula.


"Aku dan Marine akan mengenakan pakaian renang yang sama."

__ADS_1


"Aku tidak mau, kita nanti disangka kembaran... tuan pasti lebih suka yang terbuka."


"Kalian tidak perlu memikirkanku, pilihlah yang kalian suka."


"Tidak bisa seperti itu master, pendapatmu yang paling diutamakan di sini."


Perkataan Sirius membuat semua orang mengangguk.


"Apa boleh buat, cepatlah pergi ke ruang ganti."


"Baik."


Tepat saat mereka masuk, aku menodongkan pistol ke arah seorang yang tiba-tiba muncul di sampingku.


Dia pria berkulit hitam dengan jenggot menutupi setengah wajahnya.


"Tunggu sebentar kawan, apa yang ingin kau lakukan?"


"Itu tidak lucu."


Aku melenyapkan senjata di tanganku dengan mudah.


"Kudengar kau akan membebaskan kami dari sini, apa itu benar?"


"Rencananya seperti itu."


"Kau terlihat bukan orang biasa... matamu seperti telah melihat neraka."


"Kau berlebihan, jadi apa yang kau mau dengan menemuiku?" aku balik bertanya.


"Sebenarnya dari dulu aku ingin bisa keluar dari tempat ini, semua orang terdahuluku mengatakan bahwa dunia di luar sana sangat indah... kau bisa berlari kemanapun kau suka dan sejauh apapun."


"Kurasa itu benar, jadi siapa yang mengurung desa ini?"

__ADS_1


"Seorang penyihir kejam bernama Evil... dia mengatakan seiring waktu maka jiwa kami akan terhisap ke dalam pohon itu dan menjadikannya nutrisi."


Bagiku itu terdengar buruk.


"Berapa lama orang yang hidup di kota ini?"


"Apa kau lihat bangsawan pemilik tanah tadi, tubuhnya terlihat keriput namun sebenarnya umurnya masih 25 tahunan."


Jadi begitu.


"Pohon itu menghisap kehidupan kalian, harusnya sudah tidak ada yang hidup jika seperti itu."


"Yah kau tahu.... efek pohon ini membuat orang-orang desa bergairah, jadi.."


"Tak perlu kau katakan, aku sudah tahu itu... selama ini apa yang kalian makan?"


"Pohon itu menjatuhkan biji-bijian seperti kacang jadi kami memakannya."


"Jika aku bertemu penyihir itu, aku akan membunuhnya," tepat saat aku mengatakan itu, anggota partyku bermunculan.


Mereka mengenakan pakaian renang yang dengan baik memamerkan kulit putih mereka yang tampak indah.


"Bagaimana penampilan kami tuan?"


"Kalian semua sangat cocok mengenakannya."


Pria di sampingku juga hanya melongo selagi berkata.


"Luar biasa, bagaimana bisa kau hidup bersama para wanita secantik mereka?"


Aku mendorong tubuhnya yang bersemangat.


"Mana kutahu."

__ADS_1


__ADS_2