
Kutembakan satu peluru ke arah Robiostos dan ia menahannya dengan busur sebelum melesat ke arahku, kebanyakan orang yang menggunakan senjata seperti itu akan menyerang dari jarak jauh akan tetapi dia memiliki kemampuan yang berbeda.
Tanpa ragu dia menggunakan busur sebagai sebuah pedang yang mana melesat di antara kepalaku yang telah berhasil menghindarinya.
Aku bersiap menembaknya dari bawah namun Robiostos mengambil tendangan yang mana melemparkan senjataku jauh ke samping.
Di saat dia menjatuhkan busur ke bawah.
Aku berguling ke samping dan Bam.
Tempat sebelumnya aku pijak terhantam busur hingga menciptakan ledakan cukup kuat. Aku melindungi wajahku saat debu menutupi sekelilingku sebelum berlari menyamping untuk menghindar rentetan anak panah yang mengincarku.
Lingkaran sihir tercipta di telapak tanganku yang mana menembakan bongkahan es sebagai serangan balasan, aku merubah tanganku menjadi besi dan menahan serangan Robiostos yang tiba-tiba muncul dari atas.
"Menarik, kau sudah terbiasa bertarung... kau ini penyihir ataukah ahli bela diri."
Kami berdua melompat menjaga jarak tanpa aku menjawabnya kuciptakan lingkaran sihir raksasa di depanku, saat kedua tanganku menggapainya itu menembakan kobaran api dahsyat memaksa Robiostos untuk buru-buru bersembunyi di belakang pohon.
Mereka hanya kayu yang mudah terbakar.
Dari atas langit beberapa mata terbuka, aku yang menyadarinya menjentikkan jariku dan pedang es menusuknya di tengah.
Mata ini merupakan sihir untuk melihat target di mana pun berada singkatnya berbagi penglihatan, tidak aneh dia bisa menembak posisi kami dengan panah dari jarak bermil-mil jauhnya. Terlebih sihir perpindahannya terbilang unik di mana jika ia melihat lokasi dalam pikirannya maka dia bisa pergi ke sana.
"Ada apa dengan kekuatanmu yang tidak normal itu?"
"Harusnya aku yang mengatakan itu."
Aku berbalik untuk mengirim tinjuku tepat di wajah Robiostos yang sudah berada di belakangku.
__ADS_1
Tubuhnya terlempar sebelum sejajar dengan tanah.
"Aku yakin sihir apiku barusan membunuhmu."
"Api seperti itu tidak akan membunuhku."
Kulemparkan satu pisau menancap kepalanya, dia rubuh ke belakang dan kemudian muncul dari balik pohon.
"Kau memang tidak ada ampun," katanya meluncurkan anak panah ke arahku, aku mengelak sedikit hingga hanya menyerempet sedikit rambutku.
Sekarang kutembak kepalanya dan ia muncul di sisi lain pepohonan.
"Yang barusan jelas tubuh aslimu, sihir apa yang kau gunakan?"
"Kenapa aku harus mengatakannya pada musuh, itu hanya akan mempermudah musuhku saja."
"Ada dua tebakan yang kupikirkan, pertama kau bukan manusia melainkan roh dan jika tubuhmu hancur kau bisa membuat ulang lagi dengan mana."
"Kemampuanmu, kau bisa merubah takdirmu sendiri... dengan kata lain kau memutar waktu sebelum kau mati."
"Darimana kau bisa menyimpulkannya?"
"Mudah saja, luka di tanganku adalah buktinya."
Aku menunjukan goresan dari punggung tanganku yang jelas luka ini muncul secara tiba-tiba.
Ketika ekpresi Robiostos terkejut aku melanjutkan.
"Walau kita bertarung hanya sebentar, bagimu lebih panjang bukan."
__ADS_1
"Haha tak kusangka kau menyadarinya.... tepat sekali, jika aku mati aku bisa memutar waktu sebanyak yang aku mau, sayangnya hanya aku yang dapat mengingatnya sementara bagi orang-orang di sekelilingku mereka akan merasa bahwa waktu masihlah sama."
Aku kembali menembak kepalanya.
Bersamaan keberadaan Robiostos yang menghilang sebuah panah ditembakkan dari jarak jauh. Dia hanya menembak dari jarak satu kilo meter yang mana itu berarti tembakannya akan semakin kuat.
Anggota dewan meja bundar memang bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Panah meluncur dengan kecepatan tinggi dan aku menghilang dalam sekejap untuk muncul di belakang Robiostos yang tersenyum puas.
Door.
Kutembak bagian dadanya agar dia bisa berbicara.
"Ap..."
"Aku lupa bilang padamu, kekuatanku adalah meniru."
"Itu tidak masuk akal."
"Saat aku mengerti bagaimana sihir lawan digunakan maka aku akan langsung bisa menggunakannya juga, pertama aku ragu bagaimana cara kau melakukannya tapi saat kau mengatakannya sendiri maka aku langsung yakin."
"Dari awal kau menjebakku."
"Tidak, aku hanya ingin bertanya seperti apa kekuatanmu saja, meski kau tidak menjawab pertanyaanku aku bisa mencoba keduanya."
"Dasar monster."
Kutembak kepalanya beberapa kali.
Saat dia memutar waktu aku pun memutar waktu hingga pada akhirnya kejadian ini akan terus berulang.
__ADS_1
Di kematiannya yang ke 1.000 Robiostos menerima takdirnya dan mati selamanya.