Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 133 : Ketiga Anggota Ini


__ADS_3

Di atas tebing tinggi itu, Sirius, Naula Runer serta Liz Calista tengkurap selagi mengawasi jauh di depannya, itu bukanlah sebuah pemandangan yang disukai banyak orang melainkan hanya sebuah tanah luas yang dijadikan sebagai medan perang tanpa akhir.


"Dia benar-benar gila, melawan tujuh kerajaan seorang diri termasuk satu kerajaan dari 12 rasi bintang, kau tidak ingin membantunya Sirius?" suara itu berasal dari Naula.


"Master bilang jangan ikut campur karena itu aku hanya harus menuruti apa perkataannya dan menghabiskan apel ini."


"Setidaknya berhentilah makan, bagaimana menurutmu Liz?"


"Tuan Aksa terlihat gagah, apa nanti tuan mau membuat bayi denganku kalau boleh dia juga bisa mencambukku sepuasnya."


"Maafkan aku, sepatutnya aku tidak bertanya padamu, kau benar-benar sudah rusak."


"Berisik, dirimu sendiri bagaimana? Apa yang sedang kau lakukan dengan cempoah itu?" Liz balik bertanya.


"Aku sedang menghitung berapa keuntungan yang kita dapatkan dari barang jarahan mereka."


"Kau juga sama, tuan Aksa sudah bertarung dua hari dua malam melawan 500.000 orang tanpa makan dan tidur, aku sedikit khawatir dengannya."


"Aku juga, di sini yang baik-baik saja hanya orang ini."


Entah Liz ataupun Naula keduanya melihat Sirius yang hanya mengunyah makanannya.


"Master itu kuat, jangan khawatir.. lawannya paling tidak harus setingkat dengan Dewa agar bisa bertarung dengannya."


"Aku bisa mengerti soal itu, tapi Sirius, apa tuan Aksa itu pria normal?"

__ADS_1


"Tentu saja, terkadang master juga menyentuh dadaku."


"Itu melegakan."


Untuk alasan yang konyol kedua orang ini menghembuskan nafas lega.


"Jujur aku beberapa kali menggodanya tapi dia tidak bereaksi apapun," tambah Liz.


"Master sedang banyak pikiran, mungkin ini sulit dipercaya tapi master sekarang sedang menanggung beban berat demi menyelamatkan dunia ini... Jika master tidak berhasil ada kemungkinan dunia ini akan dihancurkan oleh para Dewi."


Mendengar itu Liz ataupun Naula hanya bisa terdiam heran saat Sirius melanjutkan.


"Dewi Nermala sudah banyak membantu kita semua di awal dan sekarang master yang mengambil peran selanjutnya."


"Terlebih master telah kehilangan teman dekatnya."


Keheningan terasa diantara mereka bertiga sampai Liz memotong.


"Setelah selesai aku akan menghibur tuan Aksa dengan memberikan kesucianku yang selama ini kujaga."


"Sebaiknya kau juga harus menjaga bicaramu," ucap Naula sinis.


"Kau hanya iri, aku sudah memutuskan untuk bersamanya kemanapun."


"Maaf saja aku juga begitu, mulai sekarang kita adalah satu tim."

__ADS_1


"Kurasa aku tidak keberatan berbagi suami."


Sirius yang hanya mendengarkan hanya fokus dengan pertarungan di depannya, sebuah ledakan terjadi mengakibatkan tanah berguncang beberapa saat.


"Apa itu?" dari kedua orang ini, Sirius yang lebih banyak mengenal Aksa."


"Sihir pencipta, master bisa membuat benda apapun sesuai yang diinginkannya, master juga bisa menggunakan semua sihir."


"Begitu, tak heran tuan Aksa begitu kuat dan juga setiap yang diciptakannya begitu asing."


"Master sebenarnya dari dunia lain."


"Bukannya itu berarti Aksa seorang pahlawan."


"Bisa dibilang begitu."


Angin berhembus kencang menerbangkan seluruh material di sekeliling ketiganya.


"Aku sangat bersemangat. Hah, hah, hah, hah. haaaa."


"Kenapa dengan Liz?" tanya Sirius pada Naula yang hanya mendesah pelan.


"Kau masih kecil sebaiknya jangan tahu apapun soal itu, pura-pura saja tak melihatnya."


Sirius hanya memiringkan kepalanya heran, Sirius telah lama berada di dalam gerbang kehampaan karena itu sebagian ingatan yang baginya tidak penting telah terhapus, beruntung semenjak bersama Aksa ekpresinya sedikit demi sedikit telah pulih.

__ADS_1


__ADS_2