
Di dalam ruangan yang luas dimana semua orang yang bisa disebut penyihir berkumpul, seorang pria mulai menjelaskan berbagai hal pada semua orang.
Tentunya tidak ada hal baik yang bisa di dengarnya selain kematian dan kehancuran.
"Hanya perlu sedikit pengorbanan lagi maka Dewa Hermias akan bangkit, karena itu semua orang yang ada di sini akan ditumbalkan."
Mendengar hal itu para penyihir sontak terkejut, bagi mereka membunuh adalah hal mudah tapi saat mereka akan dibunuh jelas tidak dapat diterima, mereka bergabung karena ingin memenuhi keinginannya bahkan dari mereka telah mengorbankan banyak orang seperti keluarga atau pun kampung halaman mereka.
"Jangan bercanda, kami tidak akan menerima hal ini.. aku sudah melakukan hal banyak untukmu."
"Benar sekali, kau bilang jika kami membantu membangkitkan dewamu lagi, keinginan kami akan terpenuhi."
Si pria yang dimaksud hanya mengangkat bahunya ringan.
"Aku tidak ingat mengatakan itu."
"Kau membohingi kami."
"Aku merasakan bahwa dewa-dewi jahat telah dibangkitkan, jika demikian kita juga harus secepatnya membangkitkan Dewa kita."
"Aku tidak terima."
Ketika semua orang mendaratkan ketidaksenangannya sebuah pedang menusuk mereka dari setiap arah, teriakan menggema dari segala arah bersamaan mereka yang tumbang ke lantai.
"Dengan ini persiapan telah selesai haha," pria itu melepas tudung yang menutupi wajahnya dan menunjukkan seringai yang mengerikan yang mana seluruh wajahnya dibalut dengan lilitan perban.
__ADS_1
***
Kami tiba di sebuah kota kecil tidak terlalu jauh dari kota sebelumnya, di sini masyarakat hidup dengan damai walaupun sebagian bangunan mereka telah hancur berserakan.
"Kota ini pasti sudah diserang sebelum kita datang kemari, jadi apa kita akan menginap di sini?" atas pernyataan Tiffany aku mengangguk mengiyakan bagaimanapun aku sudah tidak bisa terus menerus memberikan pasokan mana ke dalam kendaraanku, beristirahat satu atau dua hari sudah lebih dari cukup untuk memulihkan tenagaku.
Di dalam ruangan penginapan yang kutinggali sendirian aku membuka buku yang diberikan oleh Tiffany padaku, buku ini adalah buku dosa mematikan Greed.
Bahkan untuk Tiffany sendiri dia belum pernah melihat isinya, bukan karena tidak mau melainkan karena tidak bisa.
Ada semacam segel yang menghalangi seseorang untuk bisa membukanya, di kota sebelumnya juga Tiffany menjatuhkan para undead dengan kekuatannya bukan kekuatan dari buku ini.
Ketika aku memegangi sampulnya sebuah suara masuk ke dalam pikiranku.
"Kau sepertinya menginginkan kekuatanku, bukan begitu?"
Buku itu tertawa.
"Aku ini Greed yang menyandang keserakahan, manusia sepertimu tidak bisa mempelajariku atau mengendalikanku."
"Bukannya sebelumnya Meliana sudah mengendalikanmu, karena itulah kekuatanmu tersegel dan tak bisa dikendalikan oleh siapapun."
"Sepertinya kau banyak tahu, apa kau memiliki hubungan dengan penyihir itu?"
"Muridnya adalah guruku."
__ADS_1
"Jadi begitu, yah.. jika kau ingin membuka buku ini lakukan saja.. tapi aku tidak menjamin kau akan kuat menahannya."
Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan meski begitu aku tetap harus mencobanya. Aku menggunakan Magic Script di atas sampul itu dan kemudian segelnya hancur begitu saja.
Saat aku membuka isi buku itu, tulisan yang berada di dalamnya seketika berpindah ke tanganku dengan rasa sakit yang mengerikan seolah tubuhku akan terpanggang kapan saja.
Aku jatuh dari kursiku sementara buku itu kembali tertawa.
"Sudah kukatakan bukan? Setiap tulisan di dalamku dibuat dari darah manusia serakah yang terkutuk, kau tidak akan sanggup memindahkan seluruhnya ke dalam tubuhmu."
"Aku harus mencobanya lagi."
"Hentikan, kau akan mati... aku punya jalan yang lebih baik dibanding mengorbankan tubuhmu."
Aku diam sejenak.
"Kenapa kau membantuku?"
"Sejujurnya aku sudah bosan berdiam diri seperti ini, aku juga ingin pergi ke dunia luar."
"Buku sepertimu tidak mungkin memiliki keinginannya sendiri." aku balik menyerangnya.
"Sayang sekali anak muda, tapi aku adalah roh Astral bukan sekedar buku."
"Dengan kata lain penyihir kegelapan membuat bukunya dengan roh."
__ADS_1
"Akhirnya kau mengerti, awalnya aku roh yang suci tapi penyihir kegelapan gila itu mengisiku dengan dosa manusia yang mengerikan."